Membelah Jalan

04/9/2015 00:00
Membelah Jalan
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SUATU malam di kepadatan jalanan Jakarta, sopir taksi yang membawa saya ke sebuah acara bercerita ihwal kerjanya. Lelaki lulusan sebuah sekolah kejuruan itu, dengan bahasa yang santun dan tata bahasa yang rapi, menuturkan sebelum menjadi sopir taksi ia mencoba rupa-rupa pekerjaan.

Mulai tukang bangunan, tenaga kebersihan, penjual alat pembersih mobil, satpam, hingga sopir pribadi, sebelum menjadi sopir taksi. Akbar namanya, 33 tahun usianya.

"Maaf, Bapak muslim, kan?"

Saya terkejut, jarang sopir taksi bertanya agama.

"Memangnya kenapa?" tanya saya penasaran.

"Ini saja, Pak, saya bahkan pernah bekerja 'membelah jalan'. Tapi, hanya kuat sebulan," katanya tanpa menjelaskan apa itu membelah jalan.

Apa hubungan agama dan 'membelah jalan'?

Maksudnya mencari sumbangan di tengah jalan untuk pembangunan masjid atau surau. Ia bilang, pekerjaan membelah jalanlah yang amat menyiksa. Tidak saja ia berpanas dan berdebu, tapi merasa bersalah pada pemakai jalan.

Jalanan dibagi dua dengan pembatas drum atau benda lain. Amat menganggu. Kerap kendaraan besar sampai harus ke parit. Itu mempercepat kerusakan jalan.

"Saya pernah hampir tertabrak mobil. Besoknya saya langsung berhenti," katanya.

Bukan sesuatu yang jauh.

Hampir saban hari, di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, saya melewati para 'pembelah jalan', di ujung jalan yang agak menikung menjelang tol. Tak ketinggalan dengan 'jaring kupu-kupu'--meminjam istilah seorang komedian--di tangan. Kami kerap bersungut-sungut, di tengah kemacetan Jakarta yang sudah akut. Di negeri ini lokasi aktivitas 'membelah jalan' tak terhingga jumlahnya.

Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sampang dan Pasuruhan setahu saya pernah mengeluarkan fatwa haram bagi aktivitas pencari amal di tengah jalan raya. Alih-alih surut, titik-titik lokasi membelah jalan justru kian bertambah. Ada yang berpendapat, jika efeknya mempersempit jalan, itu haram. Kalau tak mempersempit, itu halal.

Kementerian Agama secara halus menganjurkan agar umat membangun tempat ibadah tak meminta-minta di jalanan.

Tulisan Moch Cholid Wardi dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdhatyut Thulab Sampang, Madura, berjudul Pencarian Dana Masjid di Jalan Raya dalam Perspektif Hukum Islam, punya beberapa alasan yang kuat kenapa aktivitas serupa itu ia nilai haram.

Pertama, sesuai dengan sebuah hadis yang mengatakan jika ada rintangan di tengah jalan, yang menyingkirkan rintangan itu masuk kategori shadaqoh. Meminta amal di tengah jalan ialah rintangan. Ia berpotensi menghadirkan penderitaan orang lain.

Kedua, meminta-minta dalam konteks baik individu maupun sosial tak sejalan dengan napas Islam. Islam menegaskan 'tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah'.

Ketiga, secara sosiologis, jalanan milik umum. Ia bukan hanya milik orang Islam. Implikasinya terhinanya martabat dan citra Islam.

Keempat, apakah persentase pembagiannya menurut hukum Islam sah?

Kalau tak ada pendapatan bagi yang mencari, itu tak mungkin.

Saya boleh menambahkan yang kelima, bagaimana auditnya?

Bukankah seluruh dana publik harus bisa dipertanggungjawabkan?

Siapa yang bisa menjamin tak ada manipulasi?

Mestinya negara, umat Islam khususnya (Dewan Masjid), serius mencari solusi atas persoalan itu. Jangan memelihara kultur meminta-minta dan mengganggu umum pula. Banyak juga masjid didirikan, terkadang, untuk gengsi tetapi kurang dikelola secara profesional.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima