Negara Berisik

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
08/11/2019 05:30
Negara Berisik
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(Dok.MI)

KITA harus menyebutkan ini karena yang lebih kita rasakan berisiknya negara ini. Semua saling berlomba untuk melontarkan hal-hal yang negatif tentang apa yang ada di negeri ini. Seakan tidak ada karya besar yang pantas membuat kita bangga dan lebih percaya diri menghadapi masa depan.

Kalau suara berisik itu datang dari anggota parlemen atau lembaga swadaya masyarakat, kita tentu maklum karena tugas mereka memang sebagai watchdogs. Namun, kalau anggota eksekutif ikut membuat suasana lebih riuh, itu yang kita prihatinkan.

Mengapa? Karena tugas eksekutif itu ialah mengambil keputusan, mengambil tindakan. Kalau ada ketidakberesan, ya tidak usah ribut-ribut ambil saja tindakan. Fungsi eksekutif yang melekat pada jabatannya memang ialah untuk melakukan eksekusi.

Seperti sekarang ramai diributkan soal desa fiktif. Untuk apa Menteri Keuangan ikut berkomentar soal desa yang tidak ada penduduknya, tetapi menerima kucuran dana desa. Bukankah penetapan anggaran dan bahkan pencairan dana desa ada di tangan Kementerian Keuangan?

Kalau memang Kementerian Keuangan tidak mendapatkan update soal data desa, tinggal bertanya saja kepada Kementerian Dalam Negeri untuk mendapatkan data terbaru soal jumlah desa atau datang ke Kementerian Desa untuk meminta laporan tentang pemantauan pengelolaan dana desa.

Daripada berkomentar yang sekadar membuat ramai dan menurunkan kredibilitas pemerintah sendiri, lebih baik mengambil tindakan. Seperti program ‘Kemenkeu Mengajar’ ke sekolah-sekolah dasar untuk mengajarkan soal pentingnya pajak dan tugas Kementerian Keuangan, lebih baik Menteri Keuangan datang ke desa-desa untuk menjelaskan program dana desa dan apa yang harus dilakukan masyarakat desa agar dana desa itu dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Sama dengan pidato Presiden Joko Widodo di depan rapat koordinasi nasional Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah yang mengeluhkan cangkul yang masih harus diimpor. Pada peringatan 72 tahun kemerdekaan Indonesia, di kolom ini kita sudah angkat tentang tidak jalannya kerja sama antarlembaga.


Untuk pengadaan pacul sebenarnya sudah dibuat model kerja samanya. PT Krakatau Steel bertugas menyediakan bahan baku bajanya, PT Boma Bisma Indra memproduksi paculnya, serta PT Perusahaan Perdagangan Indonesia dan PT Sarinah yang memasarkannya.

PT BBI sudah lama mengeluhkan tidak jalannya kerja sama tersebut. Ribuan pacul yang diproduksi teronggok di pabrik mereka di Pasuruan, Jawa Timur. Anehnya kita bisa mengimpor pacul sampai 10 juta buah dari Tiongkok dan dipakai oleh para petani.

Cara bekerja sendiri-sendiri itulah yang tidak pernah dibenahi. Apalagi dalam urusan pengadaan, ukuran yang paling utama dipakai hanya sekadar harga. Tidak pernah digunakan ukuran lain, seperti apakah produk pacul impor itu sudah memenuhi atau belum standar nasional Indonesia.

Kita juga tidak bisa hanya menyalahkan bagian pengadaan barang dan jasa ketika mereka menjadikan harga sebagai patokan. Baik Badan Pemeriksa Keuangan maupun para penegak hukum sering menghukum pejabat pengadaan ketika barang yang dibeli harganya lebih mahal daripada produk lain yang sejenis tanpa peduli asal barangnya.

Persoalan seperti ini tentu tidak bisa hanya sekadar dikeluhkan, tetapi harus dicarikan jalan keluarnya. Pemerintah harus membuat aturan main yang lebih jelas apabila ingin mengutamakan produk dalam negeri. Dibutuhkan adanya affirmative action, bukan sekadar hanya menyalahkan. Di zaman Orde Baru bahkan dibentuk Kementerian Penggunaan Produk Dalam Negeri.

Sudah lebih 20 tahun sejak reformasi kita hanya ramai berkata-kata. Setiap hari yang dimunculkan hanya silang pendapat. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih bisa membuat bangsa ini mempunyai rasa percaya diri. Bukan hanya ramai oleh hal-hal yang akhirnya membuat kita merasa kecil hati.

Kita tidak menutup mata, banyak kelemahan yang masih kita miliki. Reformasi itu kita gulirkan agar setiap hari terjadi perbaikan secara gradual. Kita tidak mengharapkan perubahan yang sekali jadi karena kita tidak memilih jalan revolusi, terutama mereka yang mendapat kepercayaan untuk memimpin negeri ini, harus membangkitkan kebanggaan kepada negeri ini.

Kita harus dorong setiap orang untuk bisa membuat karya besar yang bisa dibanggakan. Kita panggungkan keberhasilan-keberhasilan itu untuk menjadi inspirasi bagi yang lain.

Tidak bosan kita sampaikan, kita membutuhkan hadirnya working democracy, demokrasi yang bekerja, demokrasi yang menghasilkan karya. Jangan terus-terusan kita mengembangkan talking democracy, yang hanya sekadar menciptakan kebisingan. Lelah kita mendengar suasana yang berisik, apalagi kalau tidak berujung seperti sekarang ini.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.