SBY-nomic

02/9/2015 00:00
SBY-nomic
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

SETELAH 10 bulan menyerahkan tongkat kepemimpinan, Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono angkat bicara. Persoalan ekonomi yang tengah melanda dunia dan Indonesia membuat SBY berkomentar. Ia menyampaikan usul langkah penanganan berdasarkan pengalaman 10 tahun menjadi presiden.

Saya menangkap usul itu sebagai SBY-nomic sebab persis dengan apa yang ia yakini dan menjadi kebijakan selama 10 tahun pemerintahannya. SBY berpandangan yang perlu dijaga ialah daya beli masyarakat. Untuk itu, berbagai subsidi yang akan menurunkan daya beli masyarakat jangan dihapus. Bahkan daya beli masyarakat bawah perlu ditambah dengan memberikan bantuan tunai langsung.

Langkah itu memang akan membebani anggaran negara. Apalagi, SBY mengingatkan untuk tidak menambah beban masyarakat dengan pajak yang memberatkan. Menurut SBY, pemerintah bisa mengurangi beban anggaran dengan tidak terlalu jorjoran membangun infrastruktur. Dalam kondisi seperti sekarang, lebih baik diselamatkan kepentingan jangka pendek dan korbankan kepentingan jangka panjang.

Sebagai bentuk kecintaan kepada Republik, tidak salah SBY menawarkan resep ekonominya. Hanya, setiap zaman mempunyai tantangannya sendiri. Tantangan yang berbeda tidak bisa dijawab dengan cara yang lama. Pengalaman hanyalah referensi yang bisa dipertimbangkan. Pilihan untuk mempertahankan dan memberikan subsidi, misalnya, tidak mungkin dilakukan lagi. Subsidi selalu meninabobokan dan akhirnya membawa malapetaka. Yunani, contohnya, bangkrut karena subsidi. Kita pun merasakan bagaimana subsidi bahan bakar minyak menurunkan kemampuan kita untuk melakukan pembangunan bagi kepentingan rakyat.

Juga mengenai bantuan langsung tunai, BLT. Pengalaman yang lalu, BLT lebih banyak salah sasaran dan salah penggunaan. Kita tidak bisa mendidik masyarakat dengan 'tangan di bawah'. Itu tidak mendorong lahirnya bangsa yang tangguh. Lebih baik dana desa Rp1 miliar dipakai untuk proyek pembangunan desa sehingga warga bisa menjadi pekerjanya.

Kartu Indonesia pintar, kartu Indonesia sehat, kartu Indonesia sejahtera yang diterapkan pemerintahan Joko Widodo jangan sampai juga menimbulkan kemalasan sosial. Program itu harus diawasi dan harus melahirkan masyarakat yang tangguh serta mampu mandiri. Tentang pembangunan infrastruktur, tidak mungkin lagi kita menunda. Bertahun-tahun masyarakat di Sumatra dan Kalimantan dihadapkan pada listrik yang biarpet. Saluran irigasi banyak yang rusak. Ketiadaan waduk mengancam pertanian. Buruknya kualitas jalan membuat biaya logistik menjadi mahal. Bandara kelebihan penumpang. Transportasi laut terbengkalai.

Benar bahwa pembangunan infrastruktur tidak bisa sekaligus. Namun, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, pembangunan infrastruktur tidak bisa lagi ditunda, apalagi yang memiliki dampak langsung kepada sektor riil. Tantangan ekonomi yang kita hadapi begitu berat. Dalam kondisi seperti itu, yang diperlukan ialah membuat kegiatan ekonomi terus berputar. Ketika ekspor tidak bisa diandalkan, yang harus dijaga ialah ekonomi domestik. Pasar dengan 250 juta jiwa dengan pendapatan per kapita di atas US$1.000 merupakan potensi yang sangat besar.

Satu yang saya setuju dengan pandangan SBY ialah jangan masyarakat ditakut-takuti soal pajak, dicari-cari kesalahan demi mencapai penerimaan pajak, yang targetnya tak masuk akal. Perekonomian yang lesu akan kian menciut jika kebijakan pajak seperti itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.