Rajawali Ngepret

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
01/9/2015 00:00
Rajawali Ngepret
(MI)
KETIKA Rizal Ramli menjadi salah seorang pembicara dan saya menjadi moderator di sebuah diskusi yang diadakan Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut, saya perkenalkan Rizal sebagai 'pahlawan'.

Salah satu kriteria 'pahlawan' bagi para aktivis demokrasi di masa Orde Baru ialah orang yang pernah dipenjara rezim Soeharto. Kekritisan Rizal terhadap penguasa sewaktu menjadi mahasiswa ITB itulah yang mengantar Rizal menjadi orang rantai.

"Jadi, mohon maaf di ruangan ini yang pernah dipenjara penguasa Orde Baru agaknya cuma Bang Rizal. Jadi, Rizal Ramli-lah pahlawan kami waktu itu," kata saya bergurau karena memandu diskusi sesi kedua siang hari memang tak enak. Ketegangan forum diskusi sedikit mencair.

Semestinya yang menjadi pembicara utama Menteri Kemaritiman Indroyono Soesilo. Namun, ia berhalangan hadir. Di forum itulah Rizal Ramli mengkritik tajam menteri ekonomi Jokowi sebagai Kw 3 alias tak berkualitas. Ia kritik pula Presiden yang dalam sejarah Republik baru kali ini menaikkan harga BBM ketika harga minyak dunia turun. "Memangnya kalau Rizal jadi menteri ekonomi, Indonesia bisa lekas siuman?" tanya seorang peserta seusai diskusi.

Enam bulan kemudian, Rizal benar-benar diangkat menjadi menteri, menggantikan Indroyono Soesilo yang waktu itu berhalangan hadir sebagai pembicara utama. Rizal beralasan, ia menerima tawaran itu karena cara Jokowi mendekati amat rendah hati. Luluhlah hati sang pengkritik. "Jokowi hebat, memasukkan Rizal si tukang kritik dalam kabinet," kata seorang pengamat.

Seperti ingin meyakinkan publik, meski ia di dalam, bukan berarti kekritisannya melisut. Mula-mula ia kritik Menteri BUMN Rini M Soemarno yang hendak membeli 30 pesawat Airbus untuk Garuda. Rini berang. Ia meminta Rizal tak mencampuri yang bukan urusannya. Yang terpanas ia kritik megaproyek listrik 35.000 megawatt, yang dinilai tak realistis. Ia menantang Wapres Jusuf Kalla yang ia nilai bertanggung jawab atas proyek itu debat terbuka. Kalla menanggapi santai, "Masak menteri menantang wapres?" Rizal menamai kritik tajamnya sebagai 'jurus rajawali ngepret'.

Meski ada yang mendukung, publik juga mengkritik karena Rizal telah bikin kegaduhan yang mestinya dihindari. Ia merusak kebersamaan, merusak harmoni. Bukankah Rizal disunting Jokowi menjadi menko kemaritiman untuk memperbaiki koordinasi? Alih-alih berkoordinasi, Rizal malah membuat 'kepretan'. Tak tangung-tanggung yang terkena sang wakil presiden.

Demokrasi memang sulit menghindar dari kegaduhan. Kebisingan serupa itu memang menjengkelkan, tetapi kadang memberi harapan. Kritik pada awalnya kerap menyakitkan, tetapi kalau kritiknya tegak lurus jalannya, ia menyehatkan. Harmoni dalam sebuah tim pasti penting, tetapi ketertiban yang menutupi kesesatan akan menghancurkan. "Anda tidak dapat memahami paradigma baru dengan memakai kosakata paradigma lama," kata ilmuwan Thomas Kuhn, sang ahli paradigma.

Meminjam mendiang Kuhn itu, Rizal Ramli, mungkin tengah memperkenalkan arketipe baru itu. Jokowi, agaknya, memang perlu seseorang seperti Rizal yang berupaya menggeser paradigma lama. Yang sulit memahaminya mungkin karena kita masih memakai 'kosakata paradigma lama'. Kalau boleh memilih, seperti kata pepatah, tentu kita lebih suka 'bisa menangkap ikannya tanpa membuat keruh airnya'.

Tetapi, kalau tak bisa, apa boleh buat! Namun, apa pun teori, paradigma, arketipe, jurus yang diusung Rizal, dalam kondisi ekonomi yang tak menentu, publik hari ini hanya butuh perubahan konkret dari seorang Rizal. Termasuk membereskan waktu bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Priok yang realitasnya suka berlama-lama dan pasti merugikan negara.

Saya suka gayanya. Terlebih jika 'jurus rajawali ngepret' benar-benar bertuah. Jika tidak, 'balada si tukang kritik', mungkin hanya sampai di sini.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.