Bukan Produktivitas, melainkan Sensitivitas

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
03/10/2019 05:10
Bukan Produktivitas, melainkan Sensitivitas
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI)

DPR baru telah dilantik. Inilah DPR yang memikul beban legislasi warisan DPR sebelumnya, yakni RUU yang ditunda pengesahannya akibat tekanan publik.

DPR dikritik produktivitasnya rendah dalam menghasilkan undang-undang. DPR pun dikritik karena menjelang akhir jabatan ngebut mengesahkan sejumlah RUU. DPR juga dikritik karena banyaknya undang-undang diuji materi di MK.

Kiranya saatnya kita menjernihkan sejumlah pokok pikiran buat wakil rakyat yang terhormat. Pertama, jangan perlakukan dirimu sebagai buruh pabrik, pekerja pembuat undang-undang yang mengejar produktivitas. Kalian bukan produsen seperti dalam dunia industri. Itulah sebabnya di DPR sana tidak ada dan tidak diperlukan serikat buruh legislator.

Saran itu memang keluar dari arus besar. Buanglah jauh-jauh pikiran menghasilkan sebanyak-banyaknya undang-undang. Kalian bukan mesin, bukan operator, penghasil kuantitas.

Kedua, penolakan besar-besaran terhadap revisi UU KPK dan sejumlah RUU kiranya memberi pelajaran pokok betapa mendasarnya perkara 'mendengarkan suara publik'. Suara publik tidak selamanya enak didengar. Suara publik tidak selalu merdu. Justru semakin sumbang, semakin tidak enak didengar, politis maupun moral justru semakin wajib didengar.

Kemampuan mendengarkan suara publik yang tidak enak didengar tapi wajib didengar hanya dimiliki mereka yang berjiwa dan berpikiran besar. Mengesahkan RUU hanyalah ujung sebuah dialog yang alot dan panjang.

Yang namanya 'uji publik' bukan urusan formalitas, urusan basa-basi, urusan ecek-ecek. Tidak berani menghadapi uji publik yang pahit ialah bukti kekerdilan jiwa dan pikiran karena sarat kepentingan/agenda tersembunyi.

Ketiga, buruknya kepercayaan kepublikan memakan energi yang lebih mahal. Demokrasi (pileg dan pilpres) ongkosnya mahal sekali, lalu seperti hendak terbakar habis oleh masyarakat yang tersinggung berat bahkan marah lalu berdemonstrasi akibat revisi undang-undang dan RUU yang tidak peduli akan suasana kebatinan publik.

Setelah pileg dan pilpres, sebetulnya kita tidak lagi bicara aspirasi kepublikan. Bukankah pilihan di TPS merupakan eskpresi siapa caleg dan siapa pula capres-cawapres yang dipercaya?

Keempat, hemat saya, meminjam pandangan Emile Durkheim, fungsi legislatif hendaknya bergeser dari hasrat besar membuat hukum represif menjadi berhasrat besar membuat hukum restitutif. Hukum represif petunjuk besarnya soliditas mekanis, yakni untuk menghukum atas nama masyarakat yang tersinggung, bahkan untuk membalas dendam. Sebaliknya, hukum restitutif petunjuk besarnya solidaritas organis, yakni hukum untuk memulihkan atau melindungi hak-hak privat.

Kosongnya penjara kiranya indeks masyarakat berkeadaban soliditas organis, sedangkan penuhnya penjara bahkan membeludak merupakan indeks masyarakat soliditas mekanis. Hukum dibikin untuk menghukum, bukan untuk memulihkan.

Kelima, devosi (kesetiaan, kecintaan, ketaatan) bahwa telah dipercaya kiranya kualitas yang mudah tererosi ketika berada di ketinggian kekuasaan. Di ketinggian itu kemajalan gampang bertumbuh. Padahal sensitivitas/kepekaan sebagai wakil rakyat kini menjadi ukuran pokok.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.