Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI sebuah daerah administrasi khusus, begitu banyak pujian yang diberikan kepada Hong Kong. ‘Negara kota’ itu terus tumbuh untuk menyejahterakan rakyatnya. Sejak masih menjadi bagian dari Inggris maupun kemudian menjadi bagian dari Tiongkok pada 1997, Hong Kong bisa tetap eksis sebagai sebuah daerah administrasi khusus yang mandiri.
Tiongkok pun dengan besar hati menempatkan Hong Kong sebagai sebuah wilayah yang otonom. Pemerintah Beijing mau menjalankan prinsip ‘satu negara, dua sistem’. Hong Kong dibiarkan menjadi ‘daerah’ demokratis di negara yang sentralistis.
Namun, masa-masa yang menyenangkan itu sekarang berada dalam bahaya. Unjuk rasa yang tidak berujung membuat Hong Kong menghadapi ketidakpastian. Semua orang lupa akan tujuan bernegara yang harus sama-sama diperjuangkan. Sudah lebih dari empat bulan negeri itu diisi oleh aksi-aksi demonstrasi.
Sekarang semua seperti lupa bahwa Hong Kong adalah kota perdagangan. Padahal semua bisa hidup dan makmur karena perdagangan bebas yang beratus-ratus tahun mereka jalani. Sekarang semua kegiatan itu nyaris berhenti karena tidak mungkin orang berdagang di tengah kekacauan.
Unjuk rasa yang semula hanya memprotes rancangan undang-undang ekstradisi bergerak semakin liar. Meski RUU itu diputuskan untuk dicabut, tuntutan terus berkembang, dari pencopotan kepala daerah administrasi khusus sampai kepada keinginan berpisah dari Tiongkok. Hong Kong seakan hendak bunuh diri.
Apa yang terjadi di Hong Kong harus menjadi pembelajaran bagi kita. Bahwa aksi demonstrasi jangan sampai merusak rumah besar kita. Kalau demokrasi hanya dipakai untuk sekadar kebebasan melakukan apa yang kita maui, sebenarnya kita sedang melakukan zero sum game.
Kita seharusnya mau belajar menjadi bangsa yang dewasa seperti bangsa Korea Selatan. Mereka membangun demokrasi dengan perjuangan yang sangat mahal. Namun, setelah gerakan prodemokrasi 1987, semua komponen bangsa bahu-membahu membangun negara sehingga menjadikan Korsel sebagai negara terdepan dalam penguasaan teknologi dan inovasi.
Setelah demokrasi dibangun, para mahasiswa kembali ke bangku kuliah untuk menimba ilmu. Para ilmuwan kembali ke laboratorium untuk melanjutkan riset. Tentara kembali ke barak untuk berlatih. Pegawai negeri kembali bekerja melayani rakyat.
Demokrasi pada akhirnya harus membawa bangsa itu untuk bekerja sebab kemajuan itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Harus ada kemauan keras dari semua pihak untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan bangsanya.
Bangsa Korea bisa menjadi kekuatan ekonomi nomor 11 di dunia karena mereka bangsa yang mau bekerja keras. Samuel L Huntington bahkan menyebutkan bangsa Korea merupakan bangsa yang mampu membangun etos kerja yang tinggi, disiplin, sehingga bisa menghasilkan produksi. Bahkan, produksi itu mereka reproduksi menjadi produk yang bernilai tambah lebih tinggi.
Kita harus berani mengatakan, kita belum berhasil membangun etos kerja yang tinggi. Pada kita masih ada sikap untuk bekerja sekadarnya saja. Bahkan, disiplin pun masih lemah. Namun, kita sudah ingin melompat menikmati gaya hidup, life style.
Setelah reformasi 1998 kita sepertinya terjebak kepada cara pandang bahwa yang hebat itu ialah yang berani berbicara. Semakin vokal suaranya dianggap yang sudah paling berjasa. Padahal yang hebat itu seharusnya yang bekerja keras.
Kita tentu tidak bisa membiarkan pandangan keliru itu terus berkembang sebab kita hidup di dunia yang semakin terbuka. Semua berlomba-lomba menjadi bangsa yang hebat. Bangsa yang hebat itu ialah bangsa yang paling keras kerjanya, paling produktif kinerjanya, paling maju membangun peradabannya.
Masih banyak pekerjaan rumah yang masih harus kita selesaikan. Paling utama ialah meningkatkan kualitas rata-rata pendidikan bangsa ini. Kita harus membukakan pandangan bahwa kehidupan ini tidak sekadar hitam dan putih. Dibutuhkan sikap bijak untuk mau mendengar pendapat yang lain dan mengelola perbedaan guna mencapai perbaikan bersama.
Kita harus ingat waktu untuk mencapai kemajuan itu semakin singkat. Setelah 2030 kita akan mengakhiri masa bonus demografi. Kalau pada waktu itu kita belum mencapai kesejahteraan yang tinggi, kita akan menjadi bangsa yang tua sebelum kaya. Sebelum itu terlambat, jangan sia-siakan waktu yang tersisa ini untuk hal-hal yang tidak memberi manfaat dan mengumbar kemarahan yang tidak berujung.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved