Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK ada perusahaan yang kerugiannya semakin besar, namun harga sahamnya semakin meningkat kecuali perusahaan start-up atau perusahaan rintisan. Apalagi jika mereka masuk ke dalam kelompok unicorn atau decacorn. Valuasinya semakin tidak jelas ukurannya.
Namun, atas nama zaman yang berbeda, semua menerimanya. Para pengusaha pun seperti mahfum dengan kondisi yang berbeda itu. Bahkan tidak sedikit pengusaha yang ikut ambil bagian dalam bisnis 'zaman now' ini.
Para pengusaha seperti takut ketinggalan kereta. Mereka berlomba-lomba masuk dan ikut menanamkan modal yang tidak sedikit. Bayangkan, untuk mendapatkan 1% saham Gojek, PT Astra International berani untuk menanamkan modalnya sampai US$100 juta.
Kita tidak bisa menyalahkan Direksi PT Astra International karena kalau mereka tidak masuk, investor dari luar yang masuk. Pengusaha Jepang Masayoshi Son atau pengusaha Tiongkok Jack Ma menyiapkan dana miliaran dolar untuk membeli saham unicorn atau decacorn Indonesia.
Semua tentu tidak mau kecele seperti cerita Apple dulu. Saat Steve Job merintis Apple, banyak yang memandang sebelah mata perusahaan teknologi tersebut. Ternyata kemudian Apple berkembang menjadi perusahaan raksasa dan dianggap sebagai salah satu perusahaan terbaik di dunia.
Indonesia kini setidaknya memiliki empat unicorn dan bahkan decacorn. Selain Gojek, ada Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka. Di belakang empat perusahaan tersebut ada ribuan perusahaan rintisan yang sedang merintis untuk masuk kelompok atas itu.
Kalau empat perusahaan unicorn dan decacorn itu benar-benar ingin menjadi perusahaan kelas dunia, mereka harus bertransformasi. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan kepada valuasi masa mendatang, tetapi harus menjadi perusahaan sehat.
Seperti cerita Apple, mereka harus memiliki bottom-line yang baik dan tumbuh. Tidak bisa terus membiarkan perusahaan terus merugi dan menganggap tidak apa-apa sepanjang valuasi sahamnya terus meningkat. Gelembung itu satu saat akan pecah dan kalau perusahaan itu belum juga sehat, bisa menjadi kiamat besar.
Tidak bisa mereka bersikap too big to fail. Apalagi beranggapan bahwa mereka tidak akan dibiarkan mati karena dampaknya akan terlalu besar. Terlalu mahal risiko ekonomi yang harus ditanggung kalau para pengelola perusahaan rintisan tidak memedulikan kesehatan perusahaan.
Sekarang ini ketika ancaman resesi sedang menghinggapi dunia, kekhawatiran kegagalan ekonomi bukan datang dari sistem perbankan konvensional. Seorang ahli moneter menyebutkan, ancaman itu justru datang dari perusahaan rintisan. Sebab, kita tidak tahu secara pasti berapa besar uang yang mereka kelola dan bagaimana mitigasi krisis yang mereka lakukan.
Atas dasar itulah kita menghargai langkah yang dilakukan Bukalapak untuk melakukan konsolidasi. Mereka melakukan pembenahan internal, termasuk mengurangi jumlah karyawan yang sekarang mencapai 2.600 pegawai.
Langkah itu dilakukan karena Bukalapak ingin menjadi perusahaan sehat. Mereka ingin membuat Bukalapak menjadi perusahaan yang benar-benar bisa membukukan keuntungan. Bukan perusahaan yang terus membesar valuasinya, namun masih membukukan kerugian.
Apabila Bukalapak bisa menjadi perusahaan rintisan pertama yang bisa membukukan keuntungan, pasti valuasinya juga akan semakin meningkat. Bahkan bukan hanya valuasinya yang meningkat, melainkan tingkat keberlanjutannya semakin tinggi.
Era disruption bukan berarti boleh membalikkan kaidah-kaidah perusahaan yang baik. Perusahaan rintisan jangan pernah menjadi business animal, tetapi harus memberikan manfaat lebih besar pada lingkungan. Selain bermanfaat bagi pegawai juga tidak menjadi masalah bagi masyarakat yang lebih besar.
Profesionalisme para pengelola perusahaan rintisan menjadi keharusan. Bahkan seperti perusahaan besar yang lebih dulu ada, mereka harus memimpikan bisa bertahan dalam masa yang panjang. Bukan perusahaan yang sekarang ada dan tidak peduli kemudian.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved