JP Morgan

29/8/2015 00:00
JP Morgan
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PADA 5 Agustus 2011 lembaga pemeringkat Standard & Poor's untuk pertama kalinya menurunkan credit rating pemerintah Amerika Serikat dari AAA (outstanding) menjadi AA+. Para anggota Kongres, Kementerian Keuangan, pengusaha, dan ahli ekonomi mengecam penurunan rating itu. Bahkan pemerintah AS melakukan investigasi hasil rating itu yang kemudian menyebabkan krisis keuangan 2008.

S&P tidak tahan terhadap ancaman yang ditujukan kepada mereka. Hanya 18 hari setelah itu, S&P mengumumkan, pemimpin mereka, Deven Sharma, meletakkan jabatan dan bahkan kemudian keluar dari perusahaan tersebut.

Ketika keputusan sebuah perusahaan mengancam kepentingan nasional, negara seperti AS pun melakukan langkah keras. Mereka tidak menoleransi hal-hal yang mengganggu perekonomian mereka.

Pada Senin (24/8) lalu kita dikejutkan dengan pernyataan pers yang dikeluarkan bank investasi global, JP Morgan, mengenai Indonesia. Dua analis JP Morgan, Arthur Luk dan Bert Gochet, menyarankan investor untuk keluar dari Indonesia dengan melepaskan rupiah dan obligasi Indonesia. Pernyataan tersebut menambah kepanikan di pasar. Itulah yang membuat nilai tukar rupiah tembus 14 ribu per dolar AS dan indeks harga saham gabungan turun hampir 4%.

Pada hari itu dunia sedang terguncang oleh devaluasi yang dilakukan pemerintah Tiongkok terhadap yuan sehingga merontokkan nilai saham di seluruh dunia. Pemerintah seharusnya mengambil tindakan keras terhadap JP Morgan. Selama ini perusahaan ttersebut menikmati berbagai proyek yang ditawarkan pemerintah.

Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, JP Morgan ditawari program Masterplan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia dan mereka antusias menanamkan modal di Indonesia. Setelah keuntungan dinikmati, mereka melecehkan Indonesia.

Seperti halnya pemerintah AS, seharusnya Otoritas Jasa Keuangan menginvestigasi langkah korporasi yang dilakukan JP Morgan. Kalau mereka mengeluarkan pernyataan untuk mengguncang pasar dan kemudian mereka membeli portofolio dengan harga murah, tindakan tersebut dapat dikategorikan kriminal. Mereka pantas dijatuhi hukuman atas tindakan yang menguntungkan diri sendiri.

Sejauh ini Menteri Keuangan sudah menyampaikan secara lisan keberatan. Tindakan itu tidaklah cukup. Pemerintah harus menunjukkan sikap yang lebih tegas terhadap JP Morgan. Pernyataan mereka tidak hanya merugikan Indonesia, tetapi membuat panik masyarakat.

Menko Kemaritiman Rizal Ramli yang biasanya peduli terhadap ketidakadilan lembaga internasional pun tidak terdengar suaranya.

Kita bukan antiasing dan mencari kambing hitam dari kondisi sekarang. Kita harus berupaya mencari jalan mengatasi kondisi yang mengimpit ini. Namun, usaha keras yang dilakukan seluruh masyarakat tidak boleh dirusak tindakan tidak bertanggung jawab dari sebuah lembaga keuangan yang juga mencari hidup di Indonesia.

Kita sudah melihat tindakan jangka pendek pemerintah untuk membeli kembali saham-saham yang harganya terpuruk. Untuk jangka menengah, pemerintah memberikan tax holiday guna menarik investasi.

Kita berharap pemerintah konsisten melakukan terobosan. Hanya dengan itulah perlambatan ekonomi bisa dibalikkan.

Pemerintah harus terus membangun kepercayaan dan hadir sebagai pemerintahan yang harus dihormati. Jangan biarkan pemerintah dilecehkan perusahaan seperti JP Morgan.

Saatnya pemerintah menunjukkan jati dirinya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.