Sriwijaya Fiktif Raden Fatah Yahudi

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
11/9/2019 05:10
Sriwijaya Fiktif Raden Fatah Yahudi
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI)

JUDUL di atas saya pungut dari pernyataan Ridwan Saidi. Disclaimer ini penting di tengah kebiasaan 'sedikit-sedikit lapor polisi, lapor polisi sedikit-sedikit'. Ridwan Saidi sendiri terancam dilaporkan ke polisi gara-gara dua pernyataannya itu.

Bagi saya pernyataaan Ridwan tentang Sriwijaya bukan barang baru. Lima tahun silam, ia sudah menyatakan itu kepada saya. Kala itu, saya menjadi moderator seminar di Palembang. Ridwan salah satu pembicaranya.

Dalam seminar yang salah satunya membahas sejarah ekonomi Sumatra Selatan itu, Ridwan menyinggung Sriwijaya, tapi sama sekali tak mengatakan kerajaan itu fiktif. Setelah seminar, dia baru berkata kepada saya kira-kira, "Sriwijaya itu sebetulnya fiktif. Enggak ada peninggalan yang bisa jadi bukti keberadaannya."

Sewaktu menjadi reporter, saya beberapa kali mewawancarai Ridwan, terutama ketika hendak menulis sejarah dan budaya Betawi. Ia memang dikenal sebagai budayawan Betawi. Saya, misalnya, mewawancarainya ketika hendak menulis kisah 'Si Manis Jembatan Ancol'.

Saya melahap buku-bukunya tentang sejarah dan budaya Betawi. Novelnya Dikejar Mossad saya baca tuntas. Pemikiran Ridwan tentang sejarah, menurut saya, seringkali unik, berbeda dari pemikiran arus utama. Saya katakan unik, bukan benar.

Akhir Agustus lalu Ridwan berhipotesis Sriwijaya fiktif. Ia menyatakan itu dalam sebuah wwawancara yang videonya diunggah di media sosial. Hipotesis itu ia telurkan, katanya, setelah 30 tahun meneliti Sriwijaya.

Kita sejak sekolah dasar dicekoki pelajaran sejarah yang mengglorifikasi Sriwijaya sebagai kerajaan maritim hebat di dunia pada masanya. Kehebatan Sriwijaya di samudera belantara betul-betul membuktikan 'nenek moyangku orang pelaut'.

Nekat banget Ridwan Saidi menyebut Sriwijaya fiktif. Itu sama saja meruntuhkan mitos Nusantara bangsa pelaut. Harap maklum, bila publik, terutama masyarakat Sumatra Selatan, geger.

Ridwan dalam wawancara video itu juga berteori Raden Fatah Yahudi. Kita mengenal Raden Fatah sebagai pendiri kerajaan Islam Demak. Ia berjuang bersama Walisongo mengislamkan Tanah Jawa.

Berani amat Ridwan Saidi bilang Raden Fatah Yahudi? Apa dia tak tahu kalau Islam dan Yahudi enggak pernah akur? Pernyataan Ridwan bukannya menjurus kepada ujaran kebencian? Harap maklum juga bila publik, khususnya masyarakat Demak, heboh.

Warga Demak berunjuk rasa menuntut Ridwan minta maaf. Jangan-jangan bila menolak meminta maaf, Ridwan dilaporkan ke polisi. Warga Sumsel juga mengancam melaporkannya ke polisi. Tetapi, misalkan Ridwan dilaporkan ke polisi hingga akhirnya hakim menyidangkannya, negara ini menghakimi pemikiran, hipotesis, teori, ilmu pengetahuan.

Jika itu terjadi, bangsa ini mundur ke abad pertengahan. Pada 1633, astronom yang juga filosof, Galileo Galilei, disidangkan gereja karena berteori bumi itu bulat. Gereja dan umat kala itu meyakini bumi datar. Belakangan teori Galileo terbukti. Tapi gereja telanjur menghukumnya. Galileo dipaksa mengaku bersalah dan dijatuhi hukuman tahanan rumah. Gereja baru merehabilitasi namanya pada 1990-an atau lebih dari 350 tahun kemudian.

Saya tidak ingin menyetarakan Ridwan Saidi dengan Galileo Galilei. Jauh banget. Saya ingin mengatakan, bila pemikiran ilmiah, pemikiran siapa pun itu, diadili, itu merupakan tragedi ilmu pengetahuan.

Kenapa kita tak terima Ridwan Saidi berhipotesis Raden Fatah keturunan Yahudi, sedangkan peradaban lain enteng-enteng saja kala Charles Darwin berteori manusia keturunan monyet? Toh, Yahudi juga manusia.

Pemikiran 'monyet' berbeda dengan makian 'monyet'. Kita pantang emosional kepada pemikiran, tetapi boleh marah dengan makian. Tak perlulah kita ngamuk dengan pemikiran manusia keturunan monyet, tetapi pantaslah orang Papua berang atas makian 'monyet' tempo hari.

Seorang budayawan Sumsel lewat saluran Youtube menyanggah pernyataan Ridwan bahwa Sriwijaya fiktif. Di Demak, sejumlah profesor dalam diskusi kelompok terfokus bertukar pikiran untuk meluruskan hipotesis Ridwan bahwa Raden Fatah Yahudi.

Perdebatan seperti itu menyehatkan intelektualitas kita. Perkarakan Ridwan Saidi di majelis ilmu, bukan oleh majelis hakim. Kebenaran ilmiah objektif tercapai bila hipotesis atau teori seseorang diadili di majelis ilmu. Kebenaran hukum subjektif yang terjadi bila ia diadili majelis hakim.

Ridwan Saidi juga harus membuka pikiran. Jangan pula ia merasa paling benar sendiri dan menganggap yang lain dungu. Terakhir, saya ingin disclaimer lagi bahwa kata 'dungu' saya comot dari mitra Ridwan Saidi di satu program bincang-bincang televisi yang gemar sekali berkata 'dungu'.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.