Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI Amerika Serikat bedil seperti boleh menyalak kapan saja, di mana saja, dan membunuh siapa saja. Inilah negeri impian bagi kebebasan individu sekaligus mimpi buruk soal keamanan.
Di negeri itu negara memberikan penghormatan tinggi pada warga negara, tetapi negara pula membiarkan orang mati dibunuh kapan saja.
Di negeri itu kebebasan untuk hidup dan 'hak untuk membunuh' seperti bergerak seiring-sejalan. Ia juga serupa neraca yang seimbang. Kita tahu pembunuhan dengan senjata api di Amerika memang seperti 'aktivitas rutin'.
Namun, pembunuhan dua wartawan stasiun televisi WDBJ yang berafiliasi dengan CBS, reporter Alison Parker dan juru kamera Adam Ward, yang tengah menyiarkan langsung acara di sebuah pusat perbelanjaan di Virginia, Rabu (26/8), membuat kita kaget.
Agaknya itulah pertama kali, di negeri kiblat demokrasi dan kebebasan pers, wartawan televisi yang tengah menyiarkan laporan secara langsung dibunuh di lokasi.
Sang pembunuh, Vester Flanagan, juga dijemput ajal karena membunuh diri sendiri. Akan tetapi, jika kita pahami penembakan di AS seperti menunggu giliran, tak perlu ada yang dikagetkan.
Penembakan di sekolah dasar, sekolah menengah, kampus, gedung bioskop, gereja, dan tempat lain menunjukkan tak ada lokus tabu bagi para pembunuh.
Mereka bebas 'berpetualang' dengan senjata api, hasil industri negeri itu, komoditas yang, ketika negeri itu dilanda krisis pun, tetap berjaya.
Di AS, undang-undang kepemilikan senjata api (The Brady Law) berlaku memang hanya sejak 1994 sampai 2004. Setelah itu warga sipil bebas memilikinya. Ada yang mengamsalkan beli senjata dan peluru di Amerika seperti beli kacang goreng.
Bukankah Dylan Roof, pemuda kulit putih yang rasialis, yang memberondong jemaat kulit hitam--sembilan jemaat gugur--di Gereja Episkopal Metodis Emanuel, South Carolina, Juni lalu, memakai senjata hadiah ulang tahun dari sang paman?
Kita masih ingat ketika remaja 20 tahun, Adam Lanza, dengan tiga bedil di tangan memuntahkan mesiunya dan membunuh 26 siswa dan guru Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut, Desember 2012.
Presiden Barack Obama seperti frustrasi menghadapi pembunuhan bersenjata yang berkali-kali terjadi.
"Tragedi ini harus segera berakhir karena kita tidak punya pilihan lain lagi. Kita tidak bisa membiarkan tragedi ini menjadi rutinitas belaka. Kita punya kekuatan untuk mengubah situasi seperti ini," kata Obama ketika menyalakan lilin di malam perkabungan.
Namun, tak ada yang berakhir. Tak ada yang berubah. Lilin tetap dinyalakan bagi para korban. Kutukan tetap dialamatkan pada para pembunuh. Pembantaian di gereja terjadi. Penyesalan Obama dipidatokan lagi.
"Kita sebagai negara maju seharusnya tidak membiarkan hal sekeji ini terjadi. Sudah seharusnya penggunaan senjata api lebih diperhatikan agar tidak menimbulkan sebuah tragedi."
Beberapa bulan kemudian senjata api menyalak lagi menghabisi dua wartawan yang tengah melaporkan liputan.
Padahal, pasca-penembakan di Bioskop Century 16, Colorado, saat pemutaran perdana film The Dark Knight Rises (Juli 2012) yang menewaskan 12 jiwa, menurut data yang dimuat New York Times, lebih dari 29.000 warga tewas tiap tahun karena kekerasan senjata api. Sebanyak 2.825 di antaranya anak.
Dari sudut pandang saya, dari negeri dua musim ini, terasa aneh realitas itu. Terlebih negara (Obama) hanya bisa bersedih dan berkeluh, menghadapi kematian rutin karena senjata api.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved