Kematian Rutin

28/8/2015 00:00
Kematian Rutin
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

DI Amerika Serikat bedil seperti boleh menyalak kapan saja, di mana saja, dan membunuh siapa saja. Inilah negeri impian bagi kebebasan individu sekaligus mimpi buruk soal keamanan.

Di negeri itu negara memberikan penghormatan tinggi pada warga negara, tetapi negara pula membiarkan orang mati dibunuh kapan saja.

Di negeri itu kebebasan untuk hidup dan 'hak untuk membunuh' seperti bergerak seiring-sejalan. Ia juga serupa neraca yang seimbang. Kita tahu pembunuhan dengan senjata api di Amerika memang seperti 'aktivitas rutin'.

Namun, pembunuhan dua wartawan stasiun televisi WDBJ yang berafiliasi dengan CBS, reporter Alison Parker dan juru kamera Adam Ward, yang tengah menyiarkan langsung acara di sebuah pusat perbelanjaan di Virginia, Rabu (26/8), membuat kita kaget.

Agaknya itulah pertama kali, di negeri kiblat demokrasi dan kebebasan pers, wartawan televisi yang tengah menyiarkan laporan secara langsung dibunuh di lokasi.

Sang pembunuh, Vester Flanagan, juga dijemput ajal karena membunuh diri sendiri. Akan tetapi, jika kita pahami penembakan di AS seperti menunggu giliran, tak perlu ada yang dikagetkan.

Penembakan di sekolah dasar, sekolah menengah, kampus, gedung bioskop, gereja, dan tempat lain menunjukkan tak ada lokus tabu bagi para pembunuh.

Mereka bebas 'berpetualang' dengan senjata api, hasil industri negeri itu, komoditas yang, ketika negeri itu dilanda krisis pun, tetap berjaya.

Di AS, undang-undang kepemilikan senjata api (The Brady Law) berlaku memang hanya sejak 1994 sampai 2004. Setelah itu warga sipil bebas memilikinya. Ada yang mengamsalkan beli senjata dan peluru di Amerika seperti beli kacang goreng.

Bukankah Dylan Roof, pemuda kulit putih yang rasialis, yang memberondong jemaat kulit hitam--sembilan jemaat gugur--di Gereja Episkopal Metodis Emanuel, South Carolina, Juni lalu, memakai senjata hadiah ulang tahun dari sang paman?

Kita masih ingat ketika remaja 20 tahun, Adam Lanza, dengan tiga bedil di tangan memuntahkan mesiunya dan membunuh 26 siswa dan guru Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut, Desember 2012.

Presiden Barack Obama seperti frustrasi menghadapi pembunuhan bersenjata yang berkali-kali terjadi.

"Tragedi ini harus segera berakhir karena kita tidak punya pilihan lain lagi. Kita tidak bisa membiarkan tragedi ini menjadi rutinitas belaka. Kita punya kekuatan untuk mengubah situasi seperti ini," kata Obama ketika menyalakan lilin di malam perkabungan.

Namun, tak ada yang berakhir. Tak ada yang berubah. Lilin tetap dinyalakan bagi para korban. Kutukan tetap dialamatkan pada para pembunuh. Pembantaian di gereja terjadi. Penyesalan Obama dipidatokan lagi.

"Kita sebagai negara maju seharusnya tidak membiarkan hal sekeji ini terjadi. Sudah seharusnya penggunaan senjata api lebih diperhatikan agar tidak menimbulkan sebuah tragedi."

Beberapa bulan kemudian senjata api menyalak lagi menghabisi dua wartawan yang tengah melaporkan liputan.

Padahal, pasca-penembakan di Bioskop Century 16, Colorado, saat pemutaran perdana film The Dark Knight Rises (Juli 2012) yang menewaskan 12 jiwa, menurut data yang dimuat New York Times, lebih dari 29.000 warga tewas tiap tahun karena kekerasan senjata api. Sebanyak 2.825 di antaranya anak.

Dari sudut pandang saya, dari negeri dua musim ini, terasa aneh realitas itu. Terlebih negara (Obama) hanya bisa bersedih dan berkeluh, menghadapi kematian rutin karena senjata api.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima