Angin Lalu

Saur Hutabarat | Dewan Redaksi Media Group
02/3/2015 00:00
Angin Lalu
(MI/Furqon Ulya Himawan)
DI tengah masyarakat selalu ada suara rakyat yang tiada terdengar atau terdengar, tetapi tak didengarkan. Sebaliknya, selalu ada pemerintah yang mendengar, tapi tak mendengarkan, hearing without listening.

Umumnya jarang sekali pemerintah peduli terhadap suara yang nyaris tiada terdengar. Telinga kekuasaan peka terhadap yang vokal. Kendati demikian, kebanyakan cenderung mendengarkan suara yang memang cocok untuk didengarkan.

Sebutlah suara perihal moratorium. Terdengar, tetapi tiada didengarkan. Bagai angin lalu. Tentu ada suara kencang bak anjing menggonggong, dengan jawaban yang juga jelas, kafilah berlalu. Jadi, tak usah heran bila moratorium telah disuarakan, misalnya, tetapi pemekaran daerah dan pembangunan mal, jalan terus.

Suara terdengar, tetapi tak didengarkan itu antara lain terpapar di spanduk di Jalan Kaliurang Km 11, Sleman, Yogya. Isinya, 'Menolak apartemen di Dusun Gadingan'. Ada juga statemen 'Kearifan lokal wajib dijaga'. Membacanya pekan lalu sempat membuat saya tercenung.

Apakah perlunya spanduk setelah warga menyampaikan aspirasinya kepada DPRD? Apakah spanduk lebih berwibawa dan berkuasa ketimbang DPRD Kabupaten Sleman? Sebelumnya, warga Dusun Gadingan, Desa Sardonoharjo, Ngaglik, telah mendatangi DPRD Kabupaten Sleman menyampaikan penolakan mereka, yang intinya pembangunan apartemen bakal mengeringkan sumur penduduk dan limbah apartemen mencemarkan lingkungan warga.

Protes warga Dusun Gadingan bukan protes pertama menolak rencana pembangunan apartemen di Daerah Istimewa Yogya. Dua tahun lalu, tepatnya 2 Oktober 2012, warga Dusun Gejayan, Desa Condong Catur, Sleman, mendatangi DPRD yang sama, menyampaikan penolakan rencana pembangunan apartemen juga dengan alasan yang sama. Apartemen yang dimaksud kini menjadi hunian, antara lain, dijual dengan predikat apartemen khusus mahasiswi.

Apartemen ialah tanda perubahan. Orang tua masa kini berduit dan sadar berinvestasi, tentu lebih memilih membeli unit apartemen ketimbang anaknya indekos. Sambil menyelam minum air. Ketika anak diwisuda sarjana, harga apartemen telah melejit naik. Apartemen bertumbuh juga untuk disewakan harian, mingguan, bulanan, sebagai alternatif hotel.

Protes serupa pun dilayangkan karena maraknya pembangunan hotel. Alasannya sama, menyedot air tanah, mengeringkan sumur penduduk. Keringnya sumur warga akibat pembangunan hotel bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan hari ini. Karena itu, warga yang tinggal di sekitar hotel protes.

Akan tetapi, jawaban pelaku bisnis standar/normatif, yaitu semua persyaratan/aturan termasuk perihal pengadaan air tanah telah digenapkan. Demikianlah, formalisme/legalisme menang berhadapan dengan realisme, sekalipun yang terakhir itu derita rakyat.

Pertambahan hotel dan apartemen jelas meningkatkan kebutuhan air tanah. Pemakaian bertambah tanpa disertai pengisian kembali air ke dalam tanah karena buruknya resapan air hujan.

Air tanah ialah air bersih alami ciptaan Sang Khalik Langit dan Bumi. Tak kecuali di DIY, betapa pun istimewanya negeri itu. Membiarkan air tanah dikeringkan oleh siapa pun, termasuk industri, jelas tergolong dosa besar.

Tak bisa lain, pemerintah harus memperbaiki resapan air hujan untuk memulihkan persediaan air tanah, juga segera membereskan persediaan air bersih buatan manusia. Bahkan, moratorium hotel baru. Tak baik negara (pemda dan DPRD) pura-pura tidak tahu, mendengar, tapi tak mendengarkan, memperlakukan suara rakyat bagai angin lalu. Bisa tuli beneran.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima