Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BERBAGAI masalah silih berganti harus dihadapi badan usaha milik negara.
Dimulai kegagalan sistem pendataan Bank Mandiri yang menyebabkan dana rekening nasabah berkurang dan bertambah secara fantastis. Lalu ada kebocoran pada kilang pengeboran minyak di Karawang yang mencemari kawasan sekitar. Terakhir pemadaman hampir satu hari akibat kegagalan sistem pembangkit Jawa-Bali.
Karena berkaitan dengan kepentingan banyak warga, sangatlah wajar apabila berbagai kritikan kemudian menerpa. Mau tidak mau perusahaan BUMN harus menjelaskan duduknya perkara dan menyampaikan langkah pengamanan yang dilakukan agar tidak menimbulkan keresahan.
Musibah memang bisa terjadi kapan saja. Yang terpenting responsnya harus memadai dan komunikasi kepada publik dilakukan dengan baik. Jangan biarkan semua orang bisa menginterpretasikan sendiri masalah, sehingga akhirnya membuat pemahaman publik menjadi simpang-siur.
Hal terakhir inilah yang harus diperbaiki BUMN dan korporasi di Indonesia. Sering kali ketika terjadi krisis cara penanganan business as usual. Padahal kita sedang hidup di era keterbukaan informasi yang bergerak begitu cepat. Semua orang merasa bisa menjadi pewarta, menjadi jurnalis warga.
Keadaan kadang menjadi lebih rumit karena ada penyelenggara negara yang ingin tampil sebagai pahlawan sendiri. Mereka tidak merasa menjadi bagian dari tim yang ikut merasa sakit ketika masalah datang. Akibatnya publik melihat ketidakkompakan dan mau tidak mau berpengaruh kepada keyakinan publik dalam menangani krisis.
Memang hanya di Indonesia ketika krisis datang semua mencoba lepas tangan. Bahkan yang lebih mencuat kebiasaan untuk mencari kambing hitam. Semua persoalan kemudian dicoba ditimpakan kepada yang menjadi kambing hitam.
Padahal di negara lain ketika krisis datang semua orang justru berupaya untuk menggalang kekuatan. Ibarat rumah terbakar yang dilakukan ialah sama-sama memadamkan api, bukan saling lepas tangan dan melempar tanggung jawab.
Pengalaman kebocoran minyak anjungan British Petroleum di Teluk Meksiko, Amerika Serikat bisa menjadi cermin untuk pembelajaran. Ketika BP menjadi bulan-bulanan, Perdana Menteri Inggris David Cameron tampil untuk membela kepentingan perusahaan minyak berbendera Inggris itu.
Kelemahan itulah yang harus kita perbaikan apabila ingin menjadi negara besar. Kita harus mampu membangun teamwork yang kuat. Hanya dengan sikap bahu-membahu dalam menghadapi tantangan, kita akan bisa menyingkirkan semua rintangan yang ada.
Tentu setelah krisis bisa kita atasi, pertanggungjawaban harus tetap dimintakan. Siapa yang bersalah untuk tidak menjalankan prosedur standar harus berani menanggung risikonya. Sikap ksatria itulah yang akan membuat kita akan semakin kuat sebagai bangsa.
Perjalanan sebuah bangsa untuk menjadi bangsa yang besar tidak pernah akan berjalan linier. Selalu ada masa pasang dan masa surut. Keberhasilan dan kegagalan merupakan pelajaran untuk mencapai hasil yang lebih tinggi lagi.
Kita harus buang jauh-jauh sikap melodramatik. Ketika musibah tiba seakan-akan kita menghadapi kiamat dan tidak ada lagi harapan. Sebaliknya ketika meraih keberhasilan, kita lalu berpuas diri dan seakan-akan sudah menjadi yang terbaik.
Perubahan kultur harus berani kita lakukan. Seperti dilakukan Singapura, sejak di pendidikan dasar harus ditanamkan sikap untuk tidak boleh salah dan tidak boleh kalah. Bahkan di Jepang ditanamkan sejak dini sikap untuk berani bertanggung jawab.
Dengan itulah maka kita akan mempunyai generasi yang penuh disiplin dan mempunyai etos kerja tinggi. Selanjutnya tinggal ditanamkan sikap inovatif agar bisa dihasilkan produk dan bahkan bisa dilakukan reproduksi.
Semua bangsa yang besar melalui jalan itu. Bahkan sejak revolusi hijau, kultur itu sudah mereka tanamkan. Mereka tidak gagap ketika terjadi revolusi industri dan sekarang revolusi teknologi informasi tiba. Bangsa yang memiliki kultur yang kuat mampu dengan mudah melakukan adaptasi terhadap perubahan tanpa perlu menimbulkan kehebohan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved