Perang Mata Uang

Suryopratomo
26/8/2015 00:00
Perang Mata Uang
(MI/Seno)
LANGKAH pemerintah Tiongkok mendevaluasi yuan sebesar 2% membuat perekonomian global bergerak tidak menentu. Perang mata uang benar-benar dilakukan pemerintah Beijing setelah Uni Eropa dan Jepang sengaja memperlemah mata uang mereka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memacu ekspor negara mereka.

Penggunaan moneter untuk meningkatkan daya saing memicu negara lain untuk membalasnya. Sekarang pemerintah India mengancam untuk juga melakukan hal yang sama, apabila ekspor mereka sampai terganggu.

Perang mata uang membuat pasar menjadi panik. Pekan lalu kita melihat aksi jual yang terjadi di lantai bursa Eropa. Awal pekan ini giliran pasar modal Asia yang tergerus. Di Shanghai, indeks harga saham anjlok lebih 8%, di Hong Kong turun sekitar 4%, sementara di Tokyo indeks turun 4,25%.

Indonesia tidak terkecuali terkena dampaknya. Nilai tukar rupiah, Senin (24/8), menembus Rp14 ribu per dolar AS. IHSG pun melorot hampir 4% ke level 4.163,72.

Kita belum melihat negara-negara besar merespons kondisi yang mencemaskan ini. Jika kondisi berlanjut, dunia akan dihadapkan pada malapetaka korporasi. Pertemuan pemimpin G-7 menjadi mendesak untuk dilakukan. Begitu pula pertemuan G-20 untuk membangun kesepakatan bersama. Perang mata uang harus dihentikan karena tak menguntungkan siapa pun.

Kita di Indonesia juga harus bahu-membahu menghadapi keadaan. Inilah ujian terberat yang harus dihadapi Presiden Joko Widodo. Pada akhirnya langkah tindakan itu ada di tangan Presiden. Pilihan yang harus dihadapi pemimpin bukanlah antara baik dan buruk, melainkan sekarang ini antara buruk dan kurang buruk.

Pilihan yang harus diambil tidak bisa biasa-biasa. Yang paling utama ialah membuat masyarakat tetap punya pekerjaan. Gelombang pemutusan hubungan kerja tak boleh dibiarkan. Terutama kepada industri padat karya, pemerintah harus mau memberikan stimulus fiskal.

Hal kedua yang harus dijaga ialah keamanan sehingga bisa menjadi modal untuk mendorong pariwisata. Dengan nilai rupiah tertekan sampai Rp14 ribu per dolar AS, Indonesia menjadi tujuan wisata yang menarik bagi orang asing.

Kita memang harus kreatif di tengah krisis. Kita jangan terus mengeluh kepada pelemahan rupiah. Kita harus seperti bangsa Yunani yang terus mencari jalan keluar dari situasi krisis.

Memang tantangan terberat yang kita hadapi ialah kepercayaan dari masyarakat. Sekarang ini muncul keraguan terhadap kemampuan pemerintah dalam menangani persoalan. Berbagai komentar di media sosial lebih melecehkan kita sebagai bangsa. Seakan-akan tidak ada jalan keluar dari krisis yang terjadi.

Presiden harus tampil untuk menjelaskan keadaan. Namun, yang penting dilakukan ialah merumuskan langkah tindakan yang bisa dirasakan bahwa pemerintah bekerja menangani persoalan. Katakan bahwa persoalan yang kita hadapi tidaklah mudah, tetapi dengan kebersamaan seluruh warga, bangsa kita pasti mampu menjawab tantangan berat ini.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima