Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
"TIDAK ada toleransi sedikit pun bagi yang mengganggu Pancasila." Ini ancaman Presiden Joko Widodo ketika pidato bertajuk Visi Indonesia, Juli lalu.
Namun, bersungguh-sungguhkah negara ini ber-Pancasila? Pertanyaan ini tentu bisa memunculkan pertanyaan balik, tak percayakah dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)? Lembaga yang didirikan untuk membumikan Pancasila? Ketua Badan Pengarah BPIP dijabat Megawati Soekarnoputri, mantan presiden. Putri Bung Karno, salah seorang penggali utama Pancasila.
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pun yang tengah membesar dan mengancam Pancasila dibubarkan lewat Perppu. Masih tak percaya? Bukankah kaum nasionalis menjadikan Pancasila dalam setiap tarikan napas? "Kami Indonesia, kami Pancasila." Itu semua tak cukup.
Menurut Bung Karno, sebagai (weltanschauung) (pandangan hidup, mahkota filsafat), Pancasila bisa menyelamatkan bangsa Indonesia. Sebagai (weltanschauung) Pancasila tak serupa (Declaratioan of Independence)-nya Amerika Serikat dan (Manifesto Komunis)-nya Uni Soviet. Pancasila ialah peningkatan (hogere optrekking) dari kedua ideologi itu.
Kenapa? Karena (Declaratioan of Independence) tak mempunyai nilai keadilan sosial, sedangkan (Manifesto Komunis) tak mengandung Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila ialah ideologi jalan ketiga, jalan tengah. Ideologi yang khas bangsa Indonesia. Identitas diri.
Yang mencemaskan ialah Pancasila sebagai teks dan sebagai praktik tak berjumpa dalam satu ombak. Hasil survei berbagai lembaga, misalnya Oxfam dan Bank Dunia kesenjangan ekonomi kita amat tinggi. Menurut Oxfam (2017), kekayaan empat orang terkaya Indonesia setara dengan kekayaan 100 juta orang termiskin. Betapa liberalnya ekonomi kita.
Cita-cita negara adil makmur tak pernah sungguh-sungguh diwujudkan. Pasal 33 UUD 1945 ditelanjangi habis-habisan. (Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan) hanya teks mati. Asasnya jelas kapitalisme. Koperasi dicampakkan.
Siapakah pula kini yang menguasai (cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak?) Benarkah, (bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat?) Rasanya yang makmur tetaplah para pemilik modal. Segelintir orang.
Mana pula praktik, (perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan?) "Perampasan dan perusakan dan perusakan sumber daya alam oleh pemodal kuat terjadi secara sistematis, masif, dan terstruktur, menyisakan malapetaka ekologis, ketidakadilan, dan keterancaman kesinambungan pembangunan," tulis Yudi Latif (Revolusi Pancasila, 2015).
Menurut Yudi, untuk memulihkan krisis serius ini butuh Revolusi Pancasila, sebuah ikhtiar perubahan mendasar pada sistem sosial untuk mewujudkan kehidupan yang merdeka, adil, dan makmur.
Revolusi Pancasila bukan Revolusi Prancis (1789) yang menciptakan masyarakat kapitalis-borjuis. Ia juga bukan Revolusi Uni Soviet (1917), revolusi kaum proletar yang melahirkan kediktatoran proletariat. Revolusi Pancasila ialah revolusi kemanusiaan. Ia melampuai batas kelas dan golongan. Tujuannya untuk mewujudkan masyarakat merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
PDIP (dengan basis kaum Marhaen), yang akan berkongres pada 8-11 Agustus ini, adakah punya kegalauan dengan kesenjangan sosial yang amat tinggi ini? Partai ini dua kali berturut-turut menang Pemilu 2009 dan 2019, mestinya menjadi lokomotif Revolusi Pancasila. Apa justru mabuk kuasa? Terlampau riuh bicara persatuan tapi membiarkan kaki-tangan kapitalisme menguasai prekonomian kita, sama artinya membangun istana pasir.
Ia sama dan sebangun pula dengan meminta warga membangun inklusivitas, tetapi di mana-mana secara terbuka para pedagang (dengan seizin penguasa tentu) menawarkan kehidupan/hunian eksklusif. Sudah pasti terpisah tembok kukuh dengan mereka yang termiskinkan itu.
Jika tak ingin Pancasila bertahan hanya sebagai slogan, mestinya ada upaya habis-habisan mengupayakan Revolusi Pancasila. Keadilan sosial, terutama, memang sila yang paling banyak dikhianati sejak kelahirannya.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved