Setia Sampai Bui

SAUR HUTABARAT/Dewan Redaksi Media Group
24/8/2015 00:00
Setia Sampai Bui
(MI/SUMARYANTO)
BEREDAR olok-olok, berkat KPK, Gubernur Sumatra Utara Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti, layak dinobatkan sebagai pasangan ideal. Mereka saling setia tak hanya di kala senang, masuk bui pun berduaan.

Gatot-Evy bukan yang pertama, bukan pula yang terakhir berduaan masuk penjara. Pada pertengahan Juli 2014, Bupati Karawang Ade Swara dan istrinya, Nurlatifah, lebih dulu digiring KPK masuk bui. Suami istri itu menjadi tersangka pemerasan terhadap pengusaha dan melakukan pencucian uang.

Pada 14 Agustus, KPK menetapkan Bupati Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, Pahri Azhari dan istrinya, Lucianty, menjadi tersangka kasus dugaan suap kepada anggota DPRD Musi Banyuasin agar Laporan Pertanggungjawaban APBD 2014-2015 disetujui. Lucianty pun berdwifungsi, istri bupati juga anggota DPRD provinsi. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, soal waktu saja pasangan itu masuk sel. Apakah tiga pasang kepala daerah dan istri masuk bui lebih dari cukup?

Tidak ada jaminan tak ada lagi kepala daerah dan istri masuk penjara gara-gara korupsi. Setidaknya karena dua alasan pokok. Pertama, berkembangnya dinasti politik di daerah yang membutuhkan lebih banyak sumber daya finansial untuk mempertahankannya, terlebih untuk Nurlatifah yang berkedudukan dwifungsi, selain istri bupati juga anggota DPRD Kabupaten Karawang. Suami istri membesarkan dan melestarikannya. Semakin kuat dinasti politik, cenderung semakin korup. Dominasi dinasti memudahkan remuknya batas hubungan pribadi dengan kedinasan, urusan keluarga dengan pemerintah, uang negara dengan uang dinasti. Bertambah celaka karena MK ikut menyuburkan dinasti politik dengan membolehkan sanak-saudara terdekat petahana ikut pilkada serentak.

Kedua, tidak masuk akal istri kepala daerah tidak tahumenahu pertambahan harta pribadi mereka apakah karena korupsi atau warisan. Mereka tahu benar, tapi tidak peduli ada harta tak wajar, tak patut, tak layak dimiliki keluarga. Sejauh ini belum terdengar ada istri kepala daerah berinisiatif menyerahkan gratifi kasi kepada KPK untuk ke kas negara. Jangan-jangan, harta kekayaan itu diterima dengan 'syukur' dan 'nikmat', mumpung menjadi kepala daerah. Bukankah menjadi kepala daerah perlu mahar bermiliar-miliar rupiah? Itulah sebabnya kepala daerah yang jadi tersangka korupsi bukannya berkurang, malah berkembang bersama istri.

Belum lagi faktor efek kedudukan. Kedudukan kepala daerah berdampak pada status sosial, seperti bepergian duduk di penerbangan kelas bisnis, anak di sekolah internasional atau di luar negeri, pelesir ke mancanegara, berobat di Singapura, bahkan terus terbawa setelah tidak lagi menjabat. Berstatus kepala daerah hingga menjadi mantan, termasuk istri dan anak-anaknya, merupakan status ekonomi kelas tinggi dan kelas sosial mahal yang memerlukan gratifikasi/suap/korupsi untuk mendukung dan membiayainya. Lagi pula, menjadi kepala daerah, tapi miskin setelah mantan dinilai aneh, bodoh, bahkan kehilangan martabat. Begitu persepsi warga dan kepala daerah, sama-sama sakit.

Keluarga benteng pertahanan terakhir melawan korupsi kiranya tinggal nasihat dan petuah bagus dikhotbahkan. Tidak berlebihan mengatakan, setelah 70 tahun merdeka, prestasi terburuk pemerintahan ialah kepala daerah dan istri 'seia sekata' hingga masuk penjara karena korupsi. Bayangkan jadi apa bangsa ini jika 'pasangan ideal' berkat KPK itu menimpa 10% saja kepala daerah hasil pilkada serentak.

Olok-olok suami istri menjadi pasangan ideal berkat KPK, setia di kala senang dan di kala susah hingga dalam bui, kiranya terlalu berat dan pahit untuk diwariskan ke anak cucu, meski mungkin disertai warisan harta tujuh turunan hasil korupsi. Siapa pun yang terpilih jadi kepala daerah hendaklah bertekad tidak masuk penjara, apalagi berdua-duaan suami istri, sekalipun diizinkan sekamar di balik jeruji besi. Jika ada 'bakat' pasangan hidup ke arah sana, maaf, sekalipun masih cinta membara, semasa menjabat, lebih baik pulangkan saja dulu ke rumah orangtuanya. Entar, jemput kembali.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima