Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JUJUR saja saya baru tahu istilah 'Babi Kuning' dari Gubernur DKI Jakarta 'Ahok' Basuki Tjahaja Purnama. Seusai menjadi inspektur upacara peringatan HUT ke-70 RI di kawasan Monas itulah Ahok bicara ihwal 'Babi Kuning'. Setahu saya, hanya Ahok Gubernur Jakarta yang ringan bicara untuk hal yang agak 'berat' itu.
Mula-mula Ahok meminta pejabat Pemprov DKI tak korupsi. Ia tak mau mendengar lagi ada warga yang diperlakukan tak adil. Yang mudah mengurus perizinan karena dekat dengan 'orang dalam' atau karena banyak uang. Ia ingin birokrasinya bersih.
"Keadilan bagi semua pegawai negeri sipil (PNS). Siapa pun yang mampu diseleksi jujur, berarti dia bisa memimpin di DKI. Tidak ada lagi istilahnya 'Babi Kuning', dulu terkenal di sini kelompok Batak-Bima-Kuningan atau kelompok Betawi atau siapa pun, sudah tidak ada," tegas Ahok.
Saya tertawa ketika mendengar frasa 'Babi Kuning' meluncur dari mulut Ahok. Pertama, puas Ahok bicara terbuka hal yang selama ini tertutup. Kedua, karena istri saya orang Bima, meski bukan amtenar, saya ingin semacam 'unjuk gigi' di barisan Ahok dan menegaskan selamat tinggal cara lama.
Tentu saja, istri saya yang juga 'Ahokmania' amat setuju dengan Gubernur. Karena itu, ketika saya bercanda soal nepotisme orang Bima, ia setuju harus diakhiri. Ketika saya berniat menulis soal "Babi Kuning', ia sama sekali tak keberatan.
"Demi kebaikan Republik," katanya.
"Sebagai orang Bima--juga orang Batak dan Kuningan atau orang mana pun--mestinya berterima kasih diingatkan," kata istri saya, enteng. Demi kebaikan Republik!
Bahkan, ketika masa jaya 'Babi Kuning', ketika semua dokumen bisa dimainkan, seperti ada penyeragaman bulan kelahiran, umumnya tertulis Desember, bagi mereka yang masuk birokrasi 1970-an atau 1980-an. Supaya masa pensiunnya bisa untung beberapa bulan.
Menurut seorang PNS dari kelompok 'Babi Kuning', nepotisme itu sesungguhnya cara bertahan hidup di Ibu Kota yang keras.
Kini tentu tak usah mencari data berapa persentase 'Babi Kuning' di Pemprov DKI dibandingkan kelompok lain. Toh, era 'persekongkolan etnik' seperti itu sekurangnya di Pemprov DKI Jakarta sudah jadi masa silam.
Kedua, ihwal dominasi etnik di birokrasi karena semula ada petinggi yang menjadi penjamin saudara sepuak itu. Di negeri ini, membantu saudara sekampung dinilai bagian dari kebajikan bernilai tinggi. Akan menjadi 'gunjingan' jika ada yang punya kedudukan tinggi di institusi negeri, tetapi tak bisa membantu saudara sekaumnya.
Di institusi dan daerah berbeda, bisa jadi lain lagi kelompok dominannya. Di daerah bahkan, selain nepotis kekerabatan, ada rupiah. Yang membayar tertinggi itulah yang diterima sebagai calon amtenar. Itulah potret birokrasi kita.
Ahok berupaya keras membongkar praktik-praktik culas serupa itu di Pemprov Jakarta, yang dulu amat 'jorok'. Bahkan, untuk jabatan kepala SD saja sudah ditentukan tarifnya.
Bagi para amtenar yang lama menikmati zona nyaman, kebijakan Ahok memang membuat mereka lintang pukang. Namun, bagi yang berorientasi prestasi, mereka menikmati.
Selain emosi Ahok yang mudah meletup, ketegasannya menata birokrasi mestinya menjadi inspirasi bagi banyak institusi.
Selamat tinggal model rekrutmen calon amtenar serupa 'Babi Kuning'!
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved