Babi Kuning

21/8/2015 00:00
Babi Kuning
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

JUJUR saja saya baru tahu istilah 'Babi Kuning' dari Gubernur DKI Jakarta 'Ahok' Basuki Tjahaja Purnama. Seusai menjadi inspektur upacara peringatan HUT ke-70 RI di kawasan Monas itulah Ahok bicara ihwal 'Babi Kuning'. Setahu saya, hanya Ahok Gubernur Jakarta yang ringan bicara untuk hal yang agak 'berat' itu.

Mula-mula Ahok meminta pejabat Pemprov DKI tak korupsi. Ia tak mau mendengar lagi ada warga yang diperlakukan tak adil. Yang mudah mengurus perizinan karena dekat dengan 'orang dalam' atau karena banyak uang. Ia ingin birokrasinya bersih.

"Keadilan bagi semua pegawai negeri sipil (PNS). Siapa pun yang mampu diseleksi jujur, berarti dia bisa memimpin di DKI. Tidak ada lagi istilahnya 'Babi Kuning', dulu terkenal di sini kelompok Batak-Bima-Kuningan atau kelompok Betawi atau siapa pun, sudah tidak ada," tegas Ahok.

Saya tertawa ketika mendengar frasa 'Babi Kuning' meluncur dari mulut Ahok. Pertama, puas Ahok bicara terbuka hal yang selama ini tertutup. Kedua, karena istri saya orang Bima, meski bukan amtenar, saya ingin semacam 'unjuk gigi' di barisan Ahok dan menegaskan selamat tinggal cara lama.

Tentu saja, istri saya yang juga 'Ahokmania' amat setuju dengan Gubernur. Karena itu, ketika saya bercanda soal nepotisme orang Bima, ia setuju harus diakhiri. Ketika saya berniat menulis soal "Babi Kuning', ia sama sekali tak keberatan.

"Demi kebaikan Republik," katanya.

"Sebagai orang Bima--juga orang Batak dan Kuningan atau orang mana pun--mestinya berterima kasih diingatkan," kata istri saya, enteng. Demi kebaikan Republik!

Bahkan, ketika masa jaya 'Babi Kuning', ketika semua dokumen bisa dimainkan, seperti ada penyeragaman bulan kelahiran, umumnya tertulis Desember, bagi mereka yang masuk birokrasi 1970-an atau 1980-an. Supaya masa pensiunnya bisa untung beberapa bulan.

Menurut seorang PNS dari kelompok 'Babi Kuning', nepotisme itu sesungguhnya cara bertahan hidup di Ibu Kota yang keras.

Kini tentu tak usah mencari data berapa persentase 'Babi Kuning' di Pemprov DKI dibandingkan kelompok lain. Toh, era 'persekongkolan etnik' seperti itu sekurangnya di Pemprov DKI Jakarta sudah jadi masa silam.

Kedua, ihwal dominasi etnik di birokrasi karena semula ada petinggi yang menjadi penjamin saudara sepuak itu. Di negeri ini, membantu saudara sekampung dinilai bagian dari kebajikan bernilai tinggi. Akan menjadi 'gunjingan' jika ada yang punya kedudukan tinggi di institusi negeri, tetapi tak bisa membantu saudara sekaumnya.

Di institusi dan daerah berbeda, bisa jadi lain lagi kelompok dominannya. Di daerah bahkan, selain nepotis kekerabatan, ada rupiah. Yang membayar tertinggi itulah yang diterima sebagai calon amtenar. Itulah potret birokrasi kita.

Ahok berupaya keras membongkar praktik-praktik culas serupa itu di Pemprov Jakarta, yang dulu amat 'jorok'. Bahkan, untuk jabatan kepala SD saja sudah ditentukan tarifnya.

Bagi para amtenar yang lama menikmati zona nyaman, kebijakan Ahok memang membuat mereka lintang pukang. Namun, bagi yang berorientasi prestasi, mereka menikmati.

Selain emosi Ahok yang mudah meletup, ketegasannya menata birokrasi mestinya menjadi inspirasi bagi banyak institusi.

Selamat tinggal model rekrutmen calon amtenar serupa 'Babi Kuning'!



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima