Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH pilpres, kiranya terjadi klaim aneh tentang rakyat. Ada yang mengklaim bahwa mereka yang punya rakyat yang suaranya dicurangi. Lalu muncul ajakan.
Maukah Anda diajak makar? Ini pertanyaan sinting. Jelas saya tidak mau. Sesama orang waras, saya pikir Anda pun tidak mau.
Makar bertentangan dengan demokrasi. Akan tetapi, ditengarai di negeri ini, setidaknya menurut kepolisian, ada yang diduga makar.
Soal pokok kenapa setelah pesta demokrasi pilpres yang mencuat urusan makar? Tidakkah karena memandang makar sebagai saudara kandung demokrasi?
Ada-ada saja. Saudara kandung berasal dari satu rahim, rahim yang sama. Bagaimana mungkin makar dan demokrasi serahim?
Jawabnya kira-kira begini. Yang diperebutkan ialah yang bernama rakyat. Bukankah demokrasi pemerintahan oleh rakyat? Ada yang mengklaim bahwa mereka yang punya rakyat.
Apakah yang tidak termasuk dalam klaim itu bukan rakyat? Jawabnya bukan rakyat kita.
Begitulah pada mulanya sang rakyat lahir dari rahim yang sama, tetapi setelah Pilpres 2019, sesama anak kandung itu diklaim berpisah.
Yang satu ialah rakyat yang mengakui kesahan dan keabsahan penghitungan suara KPU. Inilah rakyat yang menunggu pengumuman resmi KPU pada 22 Mei 2019.
Yang satu lagi, rakyat yang diklaim menolak hasil perhitungan suara KPU. Pemilu dinilai curang. Inilah rakyat yang katanya mau makar atau diajak makar.
Ajakan makar itu ada yang diekspresikan dengan pernyataan pendek 'Jokowi dilikuidasi'. Ada yang membahasakannya rada panjang, 'jangan tunduk kepada konstitusi Indonesia, kita harus revolusi, harus bubarkan negara ini'.
Yang paling seram beredar video pria muda berjaket cokelat mengancam memenggal kepala Jokowi. Dia bukan cuma mau menggulingkan presiden yang sah, malah mau membunuhnya.
Hal itu terlihat pada video yang beredar di media sosial setelah pilpres. Itulah yang kiranya dijadikan alat bukti bagi kepolisian untuk menjadikan pelakunya sebagai tersangka makar.
Pilpres seyogianya solusi yang konstitusional dalam urusan rakyat memilih pemimpin. Sekarang pilpres malah dijadikan cantolan orang untuk makar dengan klaim rakyat menginginkannya.
Pertanyaannya, siapa sebetulnya 'the real people'? Bukankah semua rakyat yang datang ke TPS menggunakan hak pilihnya itu rakyat yang nyata, bukan fiktif, bukan rakyat-rakyatan? Yang dipilih juga capres benaran, bukan capres-capresan. Tentu bakal ada capres yang menang atau kalah. Siapa pun yang menang dan siapa pun yang kalah merupakan hasil pilihan rakyat, rakyat yang nyata, bukan rakyat-rakyatan.
Bukan pula rakyat di sebelah sini dan rakyat di sebelah sana. Rakyat bersama.
Rakyat bisa tidak sepikir. Inilah yang membuahkan perbedaan pendapat dan pilihan. Perkara yang lumrah dalam demokrasi. Namun, rakyat seyogianya sehati, sejiwa, setujuan dalam berbangsa dan bernegara.
Pilpres bukan alat untuk membelah rakyat, apa pun klaim yang dipakai. Pilpres bukan pula referendum untuk menentukan kita bersatu atau berpisah. Pilpres tempat kita memilih pemimpin terbaik untuk Indonesia yang utuh.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved