John Lie

18/8/2015 00:00
John Lie
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

MESKI sejarah mengharamkan pengandaian, biarlah saya mengandaikan John Lie Tjeng Tjoan. Tanpa pelaut pemberani keturunan Tionghoa itu, revolusi Indonesia mungkin akan lain ceritanya.

Ia lahir di Manado, 9 Maret 1911, dari keluarga kaya. Sepanjang 1947-1949 saja, dengan kapal The Outlaw yang dikomandani, sedikitnya 15 kali ia berhasil menembus blokade Angkatan Laut Belanda. Ia selalu melaksanakan misi penyelundupan dengan Alkitab di tangan. Karena mampu beroperasi tanpa penerangan pada malam hari--agar tak terdeteksi oleh musuh--Radio BBC Inggris pun menjuluki The Outlaw sebagai the Black Speedboat.

Dalam banyak kejadian John Lie menghindar dari 'lubang jarum'--saat musuh siap menamatkan riwayatnya--memang selalu seperti ada tangan Tuhan bekerja di situ. Keberanian, pengetahuan gerilya laut, iman yang teguh, seperti jadi 'mantra' penyelamat.

Salah satunya pada Oktober 1947 di Labuan Bilik, di pesisir timur Sumatra. Setelah pulang dari Singapura membawa barang-barang selundupan peralatan perang, The Outlaw yang kandas tinggal menunggu detik-detik penghabisan. Pesawat Belanda telah siap memuntahkan tembakan yang mematikan.

Namun, ajaib, tak ada sebutir mesiu pun meletus. Pesawat musuh itu justru meninggalkan lokasi. Rupanya John Lie tengah khusyuk berdoa; pesawat Belanda kabarnya kehabisan bahan bakar. Ada banyak cerita muskil yang lain.

John Coast dari Inggris dalam Recruit to Revolution: Adventure and Politics in Indonesia (1952) memberi kesaksian. "Seorang patriot Indonesia, seorang Tionghoa, seorang Kristen menurut agamanya, John Lie ialah nakhoda Yogya (Republik Indonesia) terakhir yang paling berani." Jenderal (Purn) AH Nasution menyebut Lie tiada duanya di AL.

Kita takjub pada kisah Lie yang sudah punya pengalaman segudang, termasuk bekerja di Royal Navy (AL Kerajaan Inggris), ketika bergabung dengan AL Indonesia seusai Perang Dunia II. Ketika KSAL M Pardi menanyakan mau jabatan apa, Lie tetap ingin dari bawah, sebagai kelasi III. "Saya datang bukan untuk cari pangkat. Saya datang ke sini mau berjuang di medan laut karena hanya inilah yang saya miliki," jawabnya.

Nama Lie memang tak sesemerbak Jos Sudarso, patriot yang gugur di Laut Aru. Pastilah karena Lie seorang Tionghoa. Kita baru bertanya siapa sosok hebat itu ketika pemerintah pada 10 November 2009 memberinya gelar pahlawan nasional serta Bintang Mahaputera Adipradana. Tahun lalu namanya pun diabadikan sebagai nama kapal perang, KRI John Lie 358.

John Lie pensiun pada 1967 dan wafat pada 27 Agustus 1988. Kematiannya diratapi orang-orang kecil yang selama ini dikasihinya. Namanya pernah diganti menjadi Jahja Daniel Dharma, tetapi ia tetap melegenda dengan nama John Lie.

Saya juga takjub atas pernyataannya tentang pribumi-nonpri. "Orang pribumi adalah orang-orang yang jelas-jelas membela kepentingan negara dan bangsa, sedangkan nonpribumi adalah mereka yang suka korupsi, suka pungli, suka memeras dan melakukan subversi. Mereka itu sama juga menusuk kita dari belakang. Mereka adalah pengkhianat-pengkhianat bangsa.

"Jadi, soal pribumi dan nonpribumi bukannya dilihat dari suku bangsa dan keturunan, melainkan dari sudut pandang kepentingan siapa yang mereka bela. Setuju! Untuk memberi inpirasi generasi kini, spirit John Lie sungguh layak, terus dilakukan, termasuk dilayarlebarkan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima