Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BAYU Muhano, anak muda yang gesit itu serta merta menghentikan mobilnya. Sebab, dari arah kiri tiba-tiba sebuah sepeda motor memotong berbelok ke arah kanan. Kalau saja refleksnya tak 'pakem', sepeda motor itu kena 'hajar'. Tak sekali dua ia dipotong jalurnya serupa itu.
"Kami mesti berlapang dada saja kalau di jalanan. Sepeda motor di sini sering seperti itu. Kalaupun kita benar,karena bawa mobil, tetap aja salah, Pak," kata pemuda berkulit putih bersih itu, suaranya tenang.
Kemarin siang, Bayu membawa saya ke Stasiun Kereta Api Purwokerto dari sebuah hotel di kota itu. Sudah beberapa bulan ia membawa kendaraan beraplikasi. Lulusan Jurusan Bahasa Inggris Universitas Jenderal Soedirman berusia 25 tahun itu bercerita tentang penghasilannya lumayan. Ia selalu mencapai poin yang ditargetkan. Artinya, ia selalu dapat bonus.
"Asal kita rajin dan berlapang dada di jalan," katanya lagi. Anak muda yang optimistis. Sambil menunggu pekerjaan sesuai ilmunya, ia membawa mobil beraplikasi.
Saya tak hendak membahas para sopir kendaraan online, tapi soal sikap lapang dada itu. Lapang dada ialah frase kiasan. Salah satu artinya ialah senang, tidak gusar. Hari-hari ini lapang dada kerap diujarkan beberapa tokoh.
Konteksnya berkaitan Pemilu 2019. Jika nanti KPU mengumumkan siapa presiden-wakil presiden terpilih, yang kalah harus menerima dengan lapang dada.
Lapang dada tentu juga berlaku bagi calon anggota legislatif yang tak mendapat kursi di parlemen. Terlebih bagi caleg petahana, kekalahan sungguh menyakitkan. Sementara bagi yang menang, juga jangan 'menepuk dada'. Kiasan yang berarti loba, sombong.
Lapang dada kerap disuarakan karena keterbelahan yang tajam akibat pemilihan presiden. Kubu Prabowo-Sandi terus menggemakan kecurangan KPU untuk memenangkan Jokowi-Ma'ruf Amin.
Mereka membahasakannya kecurangan terstruktur, sistematis, masif, dan brutal. Mereka hanya meyakini Prabowo-Sandi yang menang. Jika Jokowi-Amin menang berarti curang. Bukankah tuduhan dari kubu 02 juga terstruktur, sistematis, masif, dan brutal?
Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional III yang dihelat Rabu lalu juga mendorong kubu Prabowo-Sandi mendesak KPU dan Bawaslu agar mendiskualifikasi pasangan capres 01. Rekomendasi yang tak bijak. Sebab, proses penghitungan suara belum final. KPU baru akan mengumumkan 22 Mei. Tak ada proses tabayyun (mencari kejelasan) yang memadai.
"Jangan menekan-menekan KPU karena KPU tidak bisa ditekan siapa pun. KPU juga tidak akan tunduk kepada pihak mana pun. Itu prinsipnya. KPU tidak tunduk pada 01, tidak tunduk pada 02, kami tunduk pada undang-undang," tegas komisioner KPU Wahyu Setiyawan menanggapi Ijtima Ulama III.
Komisi Fatwa MUI juga tak sepakat dengan rekomendasi Ijtim Ulama. Hasil rapat komisi ini menyerukan untuk menghormati dan mempercayakan kepada lembaga negara yang diberikan tugas dan kewenangan oleh konstitusi untuk mengurus pemilu.
Untunglah masyarakat tak pandir. Sebuah survei menunjukkan 92,5% akan menerima siapa pun nanti yang terpilih menjadi presiden. Mereka berlapang dada. Begitulah seharusnya sikap warga negara. Pemilu harus mengakhiri perbedaan pilihan. Siapa pun yang terpilih, ia presiden seluruh warga negara. Begitulah demokrasi mengajarkan.
Namun, sikap lapang dada justru sulit bagi para elite. Ada nuansa zero-same-gime menegasi seluruh upaya diskusi. Itu sebabnya banyak pihak, seperti Muhammadiyah, NU, dan beberapa ormas Islam, menawarkan jasa memediasi menuju rekonsiliasi kubu Jokowi dan Prabowo. Wakil Presiden Jusuf Kalla dan beberapa pimpinan ormas Islam juga mendorong agar Jokowi dan Prabowo segera melakukan rekonsiliasi.
Mantan Presiden BJ Habibie ketika menerima para tokoh Suluh Indonesia, juga meminta semua pihak menahan diri dan mengakhiri polarisasi. Percaya pada mekanisme hukum. Jangan bersepekulasi. Ia meminta kemajuan bangsa yang telah diraih selama era demokrasi dijaga.
Lapang dada memang sikap yang tak mudah. Butuh jiwa-jiwa demokrat yang tangguh, yang memahami makna kontestasi secara sungguh. Mereka yang memahami dalam politik elektoral kemenangan dan kekalahan ialah hal biasa. Betapa pun kalah berkali-kali. Bagi sang demokrat kemenangannya juga ketika ia menerima kekalahan dengan jiwa besar.***
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved