Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SUDAH begitu lama isu perombakan kabinet itu berembus. Presiden Joko Widodo akhirnya merombak. Tiga menteri koordinator diganti dan tiga menteri dicopot. Tiga menteri koordinator baru yang ditunjuk, yakni Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kemaritiman Rizal Ramli, dan Menko Polhukam Luhut Panjaitan.
Sementara itu, tiga menteri baru: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
Ketika Presiden tidak kunjung melakukan reshuffle, komentar miring bermunculan. Saat perombakan dilakukan, komentar miring pun tidak berhenti dilontarkan. Inilah demokrasi Indonesia.
Semua bebas menyampaikan pendapat dan sepertinya tidak ada yang benar dilakukan pemerintah. Padahal, tidak pernah ada keputusan yang memuaskan semua orang, tidak pernah ada keputusan sempurna. Bahkan sering kali keputusan itu bukan pilihan antara baik dan buruk, tetapi buruk dan kurang buruk.
Ada sebuah cerita Kahlil Gibran tentang ke sempurnaan.
Suatu hari, Khalil Gibran bertanya kepada gurunya, "Bagaimana agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?" Sang Guru menjawab,
"Berjalanlah lurus di taman bunga lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu, tetapi jangan pernah kembali jalan ke belakang!"
Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa.
Lalu Sang Guru bertanya, "Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?"
Gibran menjawab, "Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tetapi aku tidak memetiknya karena aku pikir mungkin yang di depan ada yang lebih indah.
Namun, ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi ialah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi!"
Sambil tersenyum, Sang Guru berkata, "Ya, itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya karena sejatinya kesempurnaan hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan."
Dengan ilustrasi itu kita jangan berharap ke sempurnaaan dari reshuffle Jokowi. Kita harus menerima segala kekurangan, tetapi selanjutnya bagaimana membuat yang terbaik. Kita tidak boleh gagal dengan pemerintahan ini karena akan memengaruhi kehidupan rakyat.
Perombakan kabinet hanya obat sementara dari situasi krisis yang kita hadapi. Yang selanjutnya kita harapkan ialah perbaikan kinerja pemerintah. Ini penting karena situasi global semakin menakutkan. Perang mata uang yang kita khawatirkan mulai terjadi.
Tiongkok membalas langkah Uni Eropa dan Jepang dengan mendevaluasi mata uang yuan. Kita lihat pasar saham global bergejolak. Pasar uang pun bergerak tidak terkendali. Itu ikut memukul indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia dan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati 13.800 per dolar AS.
Kesannya, reshuffle tidak direspons pasar. Padahal, sebenarnya momentum perombakan yang tidak tepat. Kita tidak bisa lagi mundur. Penilaian negatif justru harus menjadi pemacu para menteri baru bekerja lebih giat.
Tunjukkan kehadiran menteri baru menjadi momentum perbaikan perekonomian nasional, terutama para menteri koordinator harus menunjukkan kemampuan koordinasi yang lebih baik. Kita mendambakan kerja sama tim kabinet lebih baik.
Para menteri bukan saling 'berkelahi' di depan umum, tetapi mampu menyinkronisasi kebijakan bagi tercapainya Indonesia yang lebih hebat.
Dirgahayu RI!
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved