Reshuffle

15/8/2015 00:00
Reshuffle
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SUDAH begitu lama isu perombakan kabinet itu berembus. Presiden Joko Widodo akhirnya merombak. Tiga menteri koordinator diganti dan tiga menteri dicopot. Tiga menteri koordinator baru yang ditunjuk, yakni Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kemaritiman Rizal Ramli, dan Menko Polhukam Luhut Panjaitan.

Sementara itu, tiga menteri baru: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Ketika Presiden tidak kunjung melakukan reshuffle, komentar miring bermunculan. Saat perombakan dilakukan, komentar miring pun tidak berhenti dilontarkan. Inilah demokrasi Indonesia.

Semua bebas menyampaikan pendapat dan sepertinya tidak ada yang benar dilakukan pemerintah. Padahal, tidak pernah ada keputusan yang memuaskan semua orang, tidak pernah ada keputusan sempurna. Bahkan sering kali keputusan itu bukan pilihan antara baik dan buruk, tetapi buruk dan kurang buruk.

Ada sebuah cerita Kahlil Gibran tentang ke sempurnaan.

Suatu hari, Khalil Gibran bertanya kepada gurunya, "Bagaimana agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?" Sang Guru menjawab,

"Berjalanlah lurus di taman bunga lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu, tetapi jangan pernah kembali jalan ke belakang!"

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa.

Lalu Sang Guru bertanya, "Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?"

Gibran menjawab, "Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tetapi aku tidak memetiknya karena aku pikir mungkin yang di depan ada yang lebih indah.

Namun, ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi ialah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi!"

Sambil tersenyum, Sang Guru berkata, "Ya, itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya karena sejatinya kesempurnaan hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan."

Dengan ilustrasi itu kita jangan berharap ke sempurnaaan dari reshuffle Jokowi. Kita harus menerima segala kekurangan, tetapi selanjutnya bagaimana membuat yang terbaik. Kita tidak boleh gagal dengan pemerintahan ini karena akan memengaruhi kehidupan rakyat.

Perombakan kabinet hanya obat sementara dari situasi krisis yang kita hadapi. Yang selanjutnya kita harapkan ialah perbaikan kinerja pemerintah. Ini penting karena situasi global semakin menakutkan. Perang mata uang yang kita khawatirkan mulai terjadi.

Tiongkok membalas langkah Uni Eropa dan Jepang dengan mendevaluasi mata uang yuan. Kita lihat pasar saham global bergejolak. Pasar uang pun bergerak tidak terkendali. Itu ikut memukul indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia dan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati 13.800 per dolar AS.

Kesannya, reshuffle tidak direspons pasar. Padahal, sebenarnya momentum perombakan yang tidak tepat. Kita tidak bisa lagi mundur. Penilaian negatif justru harus menjadi pemacu para menteri baru bekerja lebih giat.

Tunjukkan kehadiran menteri baru menjadi momentum perbaikan perekonomian nasional, terutama para menteri koordinator harus menunjukkan kemampuan koordinasi yang lebih baik. Kita mendambakan kerja sama tim kabinet lebih baik.

Para menteri bukan saling 'berkelahi' di depan umum, tetapi mampu menyinkronisasi kebijakan bagi tercapainya Indonesia yang lebih hebat.

Dirgahayu RI!



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima