Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
"SAYA tak tahu beruntung atau sebaliknya mengalami zaman ini. Zaman yang tak saya sangka demokrasi bakal menghadirkan anarki informasi."
Sahabat lama saya yang jarang berjumpa dalam dua dasawarsa terakhir itu berkata dalam nada datar dalam sebuah obrolan. Ia sesungguhnya merasa beruntung demokrasi membuat kesetaraan warga negara mulai terasa. Meskipun upaya ‘Dari kita, oleh kita, untuk kita’ masih belum tegak lurus. Frasa ‘untuk kita’ faktanya masih ‘untuk mereka’ (elite).
Meskipun hal-hal degil masih terjadi di sana-sini, ia tetap masih percaya pada demokrasi meski kadarnya makin tipis. Saya mendengar dengan reaksi yang biasa saja. Sebiasa saya memandang hujan atau panas di negeri tropis.
Ia mengeluhkan berita dusta yang susul-menyusul, seperti serial film televisi. Bahkan, kian mendekati hari ‘H’ kian menjadi. Bahkan, sangat boleh jadi, pascapemilihan, berita dusta akan kian menggila dengan berbagai variasi dan ‘kemasan’. Pesta (demokrasi) boleh jadi tak mengakhiri ‘sebuah soal’, yakni sebuah kepastian pilihan. Pemilu justru seperti mengawali sebuah soal. Lalu, untuk apa sebuah hajat politik nasional lima tahunan berbiaya mahalo jika tak mengakhiri ‘sebuah soal’?
Yang terbaru ialah kabar dusta kemenangan pasangan calon presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di TPS luar negeri. Kabar ini ramai beredar di media sosial. Padahal, pemilu di luar negeri yang dilaksanakan 8-14 April, lebih awal dari pemilu di dalam negeri, penghitungannya tetap dilaksanakan 17 April. Seluruh surat suara TPS luar negeri yang telah melakukan pemilihan, tersimpan rapat di kotak suara. Ia steril dari tangan ilegal untuk membukanya, begitu kata KPU.
KPU kini seperti jadi sasaran tembak yang paling empuk. Sebelumnya lembaga ini diuduh culas dengan hoaks tentang dikirimnya 80 juta surat suara tercoblos dari China dan kabar dusta KPU men-setting kemenangan 57% untuk pasangan Jokowi-Maruf Amin.
Kawan saya yang pernah bekerja di sektor perminyakan itu tak menduga orang Indonesia mempunyai keterampilan tak terbayangkan dalam merekayasa informasi. Post truth yang berupa menghantam kebenaran ilmu, ternyata menjadi fakta di depan mata, nyata, berkali-kali. Kita kerap membaca tulisan di media sosial yang tak ‘beribu-bapak’ (maksudnya tak berpenulis alias anonim), tapi bisa viral di lini masa, bahkan diyakini kebenarannya dalam kehidupan nyata.
"Mudah-mudahan Indonesia kuat dan liat menghadapi semua itu," katanya lagi seraya menghela napas panjang yang disusul tawa hambar. Saya, lagi-lagi, tak kaget.
Saya menghubungkannya keluhan sahabat lama saya dengan tulisan peneliti Denny JA berjudul Filsafat Ilmu dan Kisah Angsa Hitam yang ia kirim ke nomor Whatsapp saya, kemarin pagi. Ini sebuah bantahan atas survei harian Kompas beberapa waktu silam.
Denny menyitir pemikir kondang Karl Popper tentang angsa hitam. Teori angsa hitam meruntuhkan kesimpulan umum yang menyatakan angsa berwarna putih.
Generalisasi angsa berwarna putih memang kemudian tumbang setelah ditemukan ada angsa berwarna hitam meskipun ditemukan hanya satu angsa hitam dari satu miliar angsa berwarna putih.
"Batas dari dunia ilmiah itu dan bukan dunia ilmiah ialah pernyataan itu dapat disalahkan melalui proses observasi," tulis Denny. "Seketika kita melihat ada yang salah dalam satu kasus saja, pernyataan yang umum atas kasus itu, yang berbeda, dapat disalahkan (difalsifikasi)," tambahnya.
Cerita angsa putih bisa, maaf, saya panjangkan. Angsa putih yang diasumsikan sebagai fakta umum, bisa lumat bukan karena angsa hitam, kebenaran fakta yang langka dan tak disangka itu, tapi oleh angsa merah jambu, misalnya. Fakta yang muskil itu. Namun, karena angsa merah jambu terus dikatakan sebagai fakta, ia mengalahkan kesimpulan umum angsa putih. Padahal, ia dusta.
Merajalelanya dusta telah, sedang, dan akan meninggalkan jejak digital.
Kita tahu Pemilu 2014, telah meninggalkan aneka jejak digital dari berbagai pernyataan yang kini berbalik-balik. Dulu memuji-muji tokoh yang satu dan memaki-maki yang lain, kini sebaliknya. Dusta yang dulu belum usai, kini muncul aneka dusta yang lain. Itu berasal umumnya para elite juga.
Saya tak tahu, akan seperti apa jejak digital aneka dusta dan kebencian itu berakibat pada kita, terutama anak-anak yang kini tengah bertumbuh. Saya berharap angsa putih tetap berkembang, angsa hitam punya ruang sebagai kebenaran yang tak terduga-duga. Meski kecil, angsa hitam bisa jadi ‘pengingat’ angsa putih. Asal jangan yang muskil apalagi dusta, katakanlah angsa merah jambu itu, justru mengalahkan angsa putih.***
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved