Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMILU paling panas di era reformasi ini tinggal sepekan lagi (17 April). Ada yang berharap tanggal itu cepat tiba dan kemudian berlalu. Namun, banyak pula yang menikmati ini sebuah proses politik menuju pendewasaan bangsa. Pesta politik elektoral di era ini, terlebih sekelas pemilihan presiden, muskil tanpa rivalitas yang ketat dan amat terbuka.
Seperti galibnya pesta demokrasi, ada banyak nubuat didedahkan. Misalnya, tentang caleg dan partai partai politik yang lolos ke Senayan; juga tentang pasangan calon presiden-wakil presiden yang bakal menang; dan apa yang akan terjadi jika salah satu pasangan yang diberi mandat rakyat memimpin Ibu Pertiwi periode 2019-2024.
Nubuat yang punya pijakan akademis kuat pastilah lembaga survei. Ia bukan fantasi atau halusinasi. Lembaga survei bekerja sesuai dengan kaidah ilmiah. Kini telah terdaftar 33 lembaga survei di KPU untuk Pemilu 2019; Pemilu 2014 tercatat 56 lembaga survei.
Aturan soal lembaga survei tercantum dalam Pasal 449 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. “Pelaksana kegiatan penghitungan cepat hasil pemilu wajib mendaftarkan diri kepada KPU paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum hari pemungutan suara.”
Ayat (4) berbunyi, “Pelaksana kegiatan penghitungan cepat wajib memberitahukan sumber dana, metodologi yang digunakan, dan hasil penghitungan cepat yang dilakukannya bukan merupakan hasil resmi Penyelenggara Pemilu.” Pengumuman prakiraan hasil penghitungan cepat hanya boleh dilakukan paling cepat dua jam setelah selesai pemungutan suara di wilayah Indonesia bagian barat.
Meski bukan lembaga resmi mengumumkan hasil pemilu, banyak pihak menjadikan hasil hitung cepat (quick count) lembaga survei sebagai patokan, karena hasilnya memang tepercaya. Meskipun hasil resmi tetap menunggu perhitungan manual KPU. Lembaga survei yang kredibel juga bisa menjadi alat kontrol penyelenggara pemilu jika berbuat lancung. Kehadiran lembaga survei ialah bentuk partisipasi masyarakat. Betapa sepinya hajat politik nasional tanpa lembaga survei.
Pada Pemilu 2014, ada dua kelompok lembaga survei mengumumkan hasil berbeda. Beberapa lembaga survei mengumumkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla menang; ada pula yang mengumumkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa unggul. Umumnya lembaga survei yang mengunggulkan Prabowo, selain baru juga tak tergabung di asosiasi pegiat survei seperti Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) dan Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (Aropi).
Sejak itu Prabowo antipati terhadap lembaga survei. "Rakyat sudah capek dengan pencitraan, sudah capek dengan lembaga survei yang akal-akalan yang banyak bohong," kata Prabowo pada kampanye akbar, di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa pekan lalu. Sandi juga mengatakan, pihaknya tak pernah percaya pada survei eksternal.
Survei memang tak steril dari kesalahan, tapi tak boleh bohong. Itu prinsip dasar penelitian. Untuk mendeteksi mana hasil yang kredibel dan dapat dipercaya publik, kita bisa lihat dari rekam jejak lembaga survei itu. Hasil survei dari lembaga yang kredibel secara psikologis terbukti juga bisa menenangkan massa. KPU pun mengakui amat membutuhkan lembaga survei.
Kini, survei prapemilu sedikitnya 19 lembaga survei menunjukkan Joko Widodo-Ma’ruf Amin menang dengan selisih rata-rata 17% jika dibandingkan dengan pasangan Prabowo-Sandiaga. Bahkan, ada delapan lembaga survei selisihnya di atas 20%. Beberapa survei juga menunjukkan PDIP bakal mengulang kemenangan pada Pemilu 2014, disusul Gerindra, Golkar, PKB, Demokrat, PKS, NasDem, dan PPP.
Betulkah hasil survei itu? Dalam tulisan Ke Mana Pemilih Bimbang Berlabuh? (Media Indonesia, 8/4), Berhanuddin Muhtadi menjelaskannya dengan tepat. Salah satu potensi yang bisa mengubah keadaan ialah bias partisipasi. Menurut Burhan, dalam survei, para peneliti yang aktif mendatangi responden. Sementara itu, dalam pemilihan, pemilihlah yang aktif mendatangi TPS.
“Jika pendukung 01 tak menerjemahkan preferensi elektoralnya dengan menggunakan hak pilih di TPS, sedangkan pendukung 02 lebih solid dan militan, hasilnya bisa tak sesuai dengan prediksi survei.” Hal yang kurang lebih sama berlaku juga untuk partai.
Hasil survei lembaga yang kredibel ialah sebuah cermin. Ia alat untuk melihat wajah kita. Justru dengan cermin itu kita tahu bagaimana merawat wajah dan tubuh kita. Namun, jika ‘buruk muka cermin dipecah’, itulah tanda ia tak mau melihat wajah diri sendiri yang sesungguhnya.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved