Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIASPORA memang lekat dengan puak Yahudi. Kata tefutzah, yang dalam bahasa Ibrani berarti 'tersebar' atau galut yang berarti 'pembuangan', merupakan cerita tercerai-berainya kaum Yahudi di berbagai belahan dunia. Mereka terbuang setelah Kerajaan Yehuda dikalahkan bangsa Khaldea pada 588 SM.
Itu sebabnya lema diaspora, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3 (2005), dijelaskan sebagai 'masa tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara, misalnya bangsa Yahudi sebelum negara Israeal berdiri pada 1948'.
Pada 2005, jumlah diaspora Yahudi di AS sekitar 5,28 juta orang, sementara penduduk Yahudi di Israel hanya 5,23 juta jiwa. Selain di Amerika juga tersebar di berbagai negara dengan jumlah sekitar 2,5 juta manusia.
Di Amerika, diaspora Yahudi menempati posisi penting di banyak bidang. Namun, sesuai jumlah penduduknya yang 1,3 miliar manusia, Tiongkok memiliki diaspora terbesar di dunia, sekitar 40 juta jiwa. Mereka ada yang tetap menjadi warga negeri baru, tak sedikit yang kembali dan membangun negeri.
Seperti juga diaspora India yang sukses dengan Silicon Valley-nya di Amerika, belum lagi para dokter dan CEO di banyak perusahaan multinasional.
Tiongkok kini mengguncang dunia karena sukses melakukan 'akulturasi' dari berbagai ajaran dan 'mazhab'; Budhisme, Marxisme-Leninisme, komunisme, kapitalisme, ekonomi pasar, teori manajemen Barat, dan teknologi Barat.
Bagian-bagian yang terlihat tak berhubungan, tapi bisa 'disatukan' oleh Tiongkok. Mereka belajar nilai-nilai keunggulan dari banyak bangsa, kemudian dibawanya pulang.
Seperti pengakuan CEO Chery, Yin Tongyao, yang dikutip John dan Doris Naisbit dalam buku China's Megatrends (2010),
"Belajar pengendalian dari orang Jepang, kegigihan dari orang Korea, akurasi dari orang Jerman, dan strategi pemasaran dari orang Amerika."
Semuanya tetap terwadahi dalam kuali besar yang disebut nilai-nilai Tiongkok.
Bangsa yang sebelum era Deng Xiaoping terkungkung dalam kepompong komunisme Mao Zedong yang kaku, kini menjadi kupu-kupu indah yang bebas terbang, menawan.
Indonesia kini juga tengah memaknai orang-orang rantau itu. Kongres Diaspora Indonesia III yang bertema Diaspora bakti bangsa di Jakarta, Rabu (12/8), ialah upaya untuk mewadahi potensi besar itu.
Kini ada sekitar 8 juta manusia Indonesia yang tersebar di 56 negara; 70% masih berstatus warga negara Indonesia, 30% pindah kewarganegaraan.
Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menghadiri kongres tersebut berharap orang-orang rantau itu tetap mengabdi kepada bangsa mereka. Kalla pun mengemukakan, mereka yang memiliki paspor Indonesia tidak berarti lebih baik nasionalismenya daripada mereka yang memilih kewarganegaraan lain.
Para pejabat lancung, saudagar pengemplang pajak, pemain kartel, politisi yang bisa dibeli, penegak hukum yang berdagang perkara, pastilah barisan perusak Republik.
Diaspora Indonesia merupakan potensi yang mestinya diwadahi dan diberi jalan pulang untuk menguatkan Indonesia yang dalam usia ke-70 masih gagap merumuskan identitas diri.
Pancasila diakui, tapi dalam praktik diingkari begitu rupa.
Kini, ia entah siapa.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved