Saat Kita Bangun

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
01/4/2019 05:30
Saat Kita Bangun
Saur Hutabarat(MI)

KEPEMIMPINAN pada akhirnya sebuah pilihan. Bukan jabatan. Itulah antara lain kesimpulan Stephen R Covey. Kepemimpinan bukan pula kekuasaan. Kepemimpinan ialah seni untuk memberdayakan.

Semua itu kiranya cukup untuk melukiskan kepemimpinan di banyak organisasi, tetapi tidak cukup untuk melukiskan kepemimpinan organisasi yang bernama negara. Terlebih negara multimajemuk seperti NKRI.

Ada nasihat yang bilang kita hanya bisa memahami tidur saat kita bangun, bukan pada saat kita tidur. Hemat saya, inilah nasihat yang kian perlu dicamkan dalam memilih pemimpin.

Salah satu pertanda tidur ialah mata terpejam, tidak melihat. Dalam memilih pemimpin orang perlu melihat sedemikian rupa sehingga semua kebaikan atau keburukannya tampak nyata. Untuk itu, orang harus bangun.

Hanya dalam keadaan bangun daya kritis hadir. Kenyataannya dalam melek sekalipun banyak yang tidak kritis. Saya kira itulah yang terjadi ketika sebagian dari kita mempercayai hoaks, berita bohong.

Percaya berita bohong petunjuk bahwa kita belum bangun yang semelek-meleknya. Padahal, kita hanya bisa memahami tidur saat kita bangun, semelek-meleknya, bukan saat kita tidur, terlebih tidur selelap-lelapnya.

Debat capres mungkin bikin orang bangun. Setelah nonton debat keempat pilpres, harian ini kemarin menurunkan kepala berita berjudul 'Rasional vs Emosional'. Sebuah judul yang mengajak publik bangun, semelek-meleknya, sesadar-sadarnya, siapa calon presiden terbaik untuk NKRI.

Kita tidak butuh pemimpin yang emosional. Yang gampang marah. Kita butuh pemimpin yang mampu memberdayakan, mampu pula mengendalikan diri.

Negara ini tidak butuh pemimpin ekstrem di sisi sebelah mana pun. Kita pun tidak perlu pemimpin yang berada di pinggir-pinggir. Kita butuh dan perlu pemimpin di tengah.

Kita pun tidak butuh pemimpin yang narasi besarnya tentang bangsa dan negara ini semuanya jelek, semuanya negatif. Inilah pemimpin yang hanya punya penglihatan untuk sebuah sisi, yaitu sisi buruk bangsa dan negara ini.

Tiap negara tentu ada sisi buruknya. Tidak ada negara yang sempurna. Akan tetapi, memburuk-burukkan negara sendiri tidak pantas disuarakan seorang pemimpin.

Negara ini butuh dan perlu pemimpin yang punya kecerdasan ke masa depan, bukan ke masa lalu. Yang berani bertarung berhadapan dengan bangsa-bangsa lain dalam kemajuan teknologi, bukan malah memilih teknologi kuno ketimbang kekayaan RI lari ke luar negeri.

Kekayaan kita tidak boleh lari ke luar negeri, tetapi kita pun tidak boleh mundur ke belakang. Kita tidak butuh pemimpin yang xenofobia lalu mengurung diri ke zaman batu.

Kepemimpinan pada akhirnya sebuah pilihan. Bukan jabatan. Bukan kekuasaan. Bukan untuk memperkaya diri sendiri. Agar tidak salah pilih, izinkan saya mengutip kembali nasihat yang bilang kita hanya bisa memahami tidur saat kita bangun, bukan pada saat kita tidur. Pada 17 April 2019, bangunlah semelek-meleknya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.