Era Baru Jakarta  

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
27/3/2019 05:30
Era Baru Jakarta  
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Tiyok)

SEBUAH era baru dimulai sejak Minggu (24/3) di Jakarta. Moda raya terpadu (MRT) yang diresmikan Presiden Joko Widodo melengkapi moda transportasi massal yang dibutuhkan untuk mobilitas warga Ibu Kota. Dengan jumlah penduduk sekitar 14 juta pada waktu jam kerja, Jakarta membutuhkan manajemen transportasi yang canggih agar tercipta efisiensi dan efektivitas.

Apa yang terjadi Minggu lalu memang baru langkah awal. Masih dibutuhkan langkah besar lainnya untuk mewujudkan mimpi besar memiliki sistem transportasi massal yang bisa diandalkan warga Jakarta.

Presiden sudah menyampaikan, diperlukan 10 tahun waktu tambahan untuk membangun jaringan MRT agar bisa menjangkau seluruh pelosok Ibu Kota. Masih harus kita bangun infrastruktur jaringan sepanjang 231 km dengan biaya yang akan menghabiskan dana sekitar Rp571 triliun.

Sambil berjalannya waktu, kita juga harus mulai membangun budaya baru. Budaya untuk mau ikut merawat fasilitas publik ini agar selalu bersih dan rapi. Budaya untuk tertib dalam mengantre maupun disiplin terhadap waktu.

Sebelum peresmian MRT, sempat ramai diberitakan bagaimana warga menjadikan stasiun MRT sebagai tempat rekreasi. Mereka membawa tikar dan makan-makan di dalam stasiun sehingga menimbulkan sampah. Sementara itu, di dalam kereta, beberapa orang melakukan ‘vandalisme’ dengan cara bergelantungan maupun menginjak-injak kursi tempat duduk penumpang.

Perbaikan perilaku itulah yang harus selalu kita gaungkan. Kita harus mampu membangun sebuah peradaban baru. Kita harus bisa seperti masyarakat Kota Tokyo atau Singapura yang mampu membuat fasilitas umum terawat baik. Jangan seperti masyarakat London atau New York yang membuat kereta bawah tanahnya kotor dan penuh dengan coretan.

Kita tentu tidak perlu berkecil hati karena semua itu tidak sekali jadi. Yang penting kita sama-sama menjaga kesadaran untuk bagaimana menjadikan MRT dan angkutan massal yang sudah ada sekarang ini menjadi sarana yang menciptakan kenyamanan bagi kita semua.

Kita harus sadar apa yang kita bangun ini ialah untuk kepentingan masa depan kita bersama. Kalau kita memiliki sistem transportasi yang baik dan integrasi, pergerakan kita akan semakin cepat. Dengan itulah, maka kita sama-sama akan bisa merasakan arti efisiensi bagi kehidupan kita.

Apalagi kalau kita kemudian sama-sama bisa membangun kota yang aman. Seperti orangtua di Tokyo yang tidak pernah merasa takut apabila anaknya bepergian. Sampai dini hari pun tidak ada yang akan mengganggu meski kita hanya berjalan sendirian.

Di tengah kondisi masyarakat yang penuh ketidakpercayaan, memang dibutuhkan pemimpin yang berani mengambil keputusan. Seperti ketika hendak membangun bus trans-Jakarta, banyak penentangan yang harus dihadapi Gubernur Sutiyoso. Hanya karena sikapnya yang teguh, Sutiyoso tetap berjalan dan sekarang kita memiliki sarana bis trans-Jakarta yang melayani hingga seluruh wilayah Jakarta.

Ketika MRT hendak dibangun, kita melihat bagaimana hambatan yang juga muncul. Gubernur Sutiyoso dan Fauzi Bowo tidak bisa mengeksekusi karena di tingkat pemerintah pusat pun masih ada keberatan karena investasi yang akan membebani anggaran pendapatan dan belanja negara. Gubernur Joko Widodo akhirnya berani mengambil risiko untuk memulai proyek pembangunan dan merealisasikan rencana yang sudah dibahas sejak 1985 itu.

Butuh waktu enam tahun untuk membuat MRT benar-benar menjadi nyata sejak peletakan batu pertama dilakukan. Itu pun masih terhambat oleh penetapan tarif yang belum kunjung diputuskan Pemerintah Provinsi dan DPRD Jakarta. Itulah yang membuat mengapa operasi MRT Jakarta akhirnya hampir bersamaan dengan operasi MRT di Hanoi, Vietnam. Padahal, penandatanganan kontrak proyek mereka empat tahun lebih belakangan daripada Indonesia.

Pembangunan jalur Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia seharusnya memberi banyak pelajaran kepada kita. Harapannya pembangunan fase kedua dan fase selanjutnya bisa berjalan lebih cepat sehingga dalam periode 10 tahun ke depan benar-benar kita sudah memiliki jaringan dengan panjang rel sejauh 231 km.

Syaratnya, cara pandang untuk membangun sistem transportasi massal ini bukan pendekatan profit and loss, sekadar untung atau rugi, melainkan least cost, mana biaya yang termurah untuk kemanfaatan masyarakat banyak. Dengan biaya kemacetan yang setiap tahun mencapai Rp50 triliun dan buruknya kualitas udara karena polusi kendaraan, transportasi massal akan memberikan kemanfaatan yang tinggi bagi kualitas kehidupan kita.

Kita harus terus-menerus mengaungkan hal ini agar semua pihak semakin terbuka matanya. Sebagai bagian dari kota metropolitan dunia, Jakarta harus semakin maju. Untuk itu, dibutuhkan para pemimpin yang lebih luas wawasannya agar kita tidak terus-menerus terjebak dalam cara berpikir yang miopik.
 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima