Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RAMAI warga datang ke dua pameran buku yang digelar di Jakarta. Ini tentu merupakan pertanda yang baik. Buku merupakan sumber pengetahuan, buku adalah jendela dunia.
Keinginan pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus didukung kemudahan warga memperoleh buku.
Pertanyaannya, apakah kita mendukung kemudahan warga untuk mengakses buku? Kita harus katakan tidak. Harga buku di Indonesia tergolong mahal. Pemerintah cenderung memperlakukan buku sama seperti komoditas lainnya.
Lihat saja pameran Big Bad Wolf yang sedang digelar di International Convention and Exhibition di Bumi Serpong Damai. Yang ramai dibahas ialah mengapa buku-buku internasional yang dijual di sana harganya bisa lebih murah.
Kementerian Keuangan langsung berniat untuk melakukan pemeriksaan. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai akan memeriksa prosedur masuk buku.
Direktorat Jenderal Pajak akan memeriksa pembayaran pajaknya. Ketua Penyelenggara Big Bad Wolf, Uli Silalahi, mengatakan, pameran buku internasional ini sudah berlangsung empat tahun. Selama ini pihaknya mengikuti semua prosedur yang harus dilalui. Termasuk membayar pajak dari kegiatan pameran ini.
Itulah yang membuat mengapa harga-harga buku yang dipamerkan menjadi lebih mahal jika dibandingkan dengan harga di tempat pameran yang sama di Malaysia.
Padahal, tujuan dari pameran buku internasional ini bukan semata-mata bisnis, melainkan mendorong minat baca dan lebih lagi memudahkan warga di sebuah negara mengakses buku internasional yang selama ini mahal harganya.
Sepantasnya pemerintah mengkaji kebijakan dalam urusan perbukuan.
Sejak lama bahkan Serikat Penerbit Surat Kabar meminta pemerintah menghapus pajak pertambahan nilai untuk percetakan surat kabar. Penghapusan ini bukan untuk kepentingan penerbit, melainkan untuk kepentingan pembaca agar bisa membeli koran dengan lebih murah.
Namun, sulit meyakinkan pemerintah agar surat kabar dan buku diperlakukan secara berbeda. Pemerintah selalu menggunakan kacamata kuda bahwa pajak merupakan sumber penerimaan negara. Tidak pernah mau dilihat bahwa ini bagian dari investasi manusia yang berjangka panjang.
Kita seharusnya bisa melihat bagaimana India menerapkan kebijakan investasi kepada manusia. Salah satunya ditopang harga buku yang murah sehingga mudah diakses warga. Penghapusan pajak untuk barang cetakan membuat warga India menjadi melek baca dan lebih penting lagi menjadi pintar.
Kelebihan dari bangsa India ialah pengetahuannya. Mereka menjadi lebih berwawasan karena lebih banyak membaca. Bahkan, mereka berani untuk mengutarakan pendapatnya karena sadar memiliki pengetahuan yang memadai.
Keinginan pemerintah sekarang untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia akan berjalan lambat apabila tidak ditopang kemudahan akses terhadap buku. Kultur masyarakat yang sekarang lebih banyak menonton, lebih berat untuk diubah menjadi kultur membaca, sepanjang harga buku dibiarkan mahal.
Seharusnya pemerintah tidak terlalu kehilangan banyak penerimaan pajak apabila pajak untuk buku dihapuskan. Apalagi jika dibandingkan dengan manfaat yang bisa didapatkan.
Anak-anak Indonesia akan mendapatkan penguatan ilmu dan pengetahuan dari membaca.
Indonesia akan semakin naik kelas dan bisa terlepas dari ‘middle income trap’ kalau manusianya dibuat cerdas. Kreativitas dan inovasi akan banyak bermunculan ketika orang dibukakan wawasannya dengan membaca buku.
Jangan seperti sekarang, kita terperangkap oleh cara pandang yang sempit. Kita lebih suka membuat hoaks daripada beradu ide dan pikiran yang bernas. Kita tidak sadar bahwa dunia justru semakin terbuka dan maju.
Sebagai orang yang pernah ikut memimpin Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati pasti paham arti pentingnya pendidikan, peningkatan kualitas manusia dalam kaitannya dengan buku. Kita menunggu adanya terobosan kebijakan untuk bisa membuat bangsa ini menjadi lebih cerdas.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved