Peneguh

Djadjat Sudradjat
11/8/2015 00:00
Peneguh
(MI/Seno)
MEMPERSEMBAHKAN pada para patriot Indonesia yang dengan segala kejujuran telah mengorbankan jiwa dan raga memperjuangkan cita-cita kemerdekaan, persatuan, dan kebahagiaan nusa dan bangsa'.

Itulah prolog yang tertulis di layar film Darah dan Doa karya sutradara Usmar Ismail produksi 1950. Sang narator kemudian membacakan narasinya: "Ini adalah kisah perjalanan sepasukan Tentara Nasional Indonesia. Juga kisah perjalanan hidup manusia dalam revolusi...."

Film berdasarkan cerita pendek sastrawan Sitor Situmorang itu menceritakan dua teman seperjuangan, kedua-duanya perwira, Sudarto dan Adam. Sudarto yang jatuh cinta pada seorang gadis Jerman akhirnya mati ditembak temannya, gerilyawan komunis, yang membalas dendam Peristiwa Madiun 1948. Saya tertarik pada kisah Sudarto karena menceritakan secara jujur kisah manusia tanpa jatuh menjadi film propaganda.

Film itu, seperti nasib ceritanya, juga penuh kepedihan. Beberapa daerah menolak film itu diputar. Film yang dalam bahasa Inggris berjudul The Long March itu juga gagal dikirim ke Festival Film Internasional di Cannes, Prancis, karena penggarapannya terhambat. Presiden Soekarno-lah yang kemudian memuliakan film itu, diputar di Istana Negara. Itu kali pertama Istana memutar film Indonesia.

Darah dan Doa hanya salah satu dari 23 karya Usmar. Ia juga bukan film Usmar yang dianggap paling jempolan. Djam Malam, misalnya, meraih anugerah film terbaik Festival Film Indonesia 1955. Namun, Darah dan Doa yang dianggap sebagai film pertama Usmar, hadir pada saat revolusi masih berkecamuk dan Indonesia masih balita, yang berani 'merumuskan' keindonesiaan dalam kebudayaan (film). Itulah film yang menawarkan 'gagasan'.

Itu pula sebagai film pertama yang seluruh penggarapan dan modalnya dikerjakan dan dibiayai kaum pribumi. Itulah spirit 'nasionalisme' Indonesia, tetapi hebatnya tak terjebak slogan dan indoktrinasi: bukan 'klise' nasionalisme.

Wajar jika Presiden BJ Habibie kemudian menahbiskan hari pertama pengambilan gambar Darah dan Doa, 30 Maret, sebagai Hari Film Nasional.

Usmar, kelahiran Bukittinggi, 20 Maret 1921, dan wafat di Jakarta, 2 Januari 1971, memang contoh seniman yang komplet dan berdedikasi. Ia semula bertekun dalam sandiwara. Bersama HB Jassin, Abu Hanifah, Rosihan Anwar, dan Cornel Simandjuntak, ia mendirikan Kelompok Sandiwara Maya. Ia juga wartawan dan pendiri harian Patriot dan bulanan Arena Yogyakarta. Saat jadi wartawan Antara ia dijebloskan ke penjara oleh Belanda.

Usmar yang pernah studi film di Universitas Los Angeles, Amerika, menjadi tonggak penting penyebar gagasan lewat film, serta berteguh pada karya berkelas. Ia tak tergoda pada upaya 'berniaga seadanya'. Seperti pidato Mari Elka Pangestu sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, Sabtu (8/8), ekonomi kreatif merupakan kekuatan baru ekonomi Indonesia. Usmar telah berteguh pada Indonesia dan pada karya bermutu sejak Republik ini berdiri.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.