MEMPERSEMBAHKAN pada para patriot Indonesia yang dengan segala kejujuran telah mengorbankan jiwa dan raga memperjuangkan cita-cita kemerdekaan, persatuan, dan kebahagiaan nusa dan bangsa'.
Itulah prolog yang tertulis di layar film Darah dan Doa karya sutradara Usmar Ismail produksi 1950. Sang narator kemudian membacakan narasinya: "Ini adalah kisah perjalanan sepasukan Tentara Nasional Indonesia. Juga kisah perjalanan hidup manusia dalam revolusi...."
Film berdasarkan cerita pendek sastrawan Sitor Situmorang itu menceritakan dua teman seperjuangan, kedua-duanya perwira, Sudarto dan Adam. Sudarto yang jatuh cinta pada seorang gadis Jerman akhirnya mati ditembak temannya, gerilyawan komunis, yang membalas dendam Peristiwa Madiun 1948. Saya tertarik pada kisah Sudarto karena menceritakan secara jujur kisah manusia tanpa jatuh menjadi film propaganda.
Film itu, seperti nasib ceritanya, juga penuh kepedihan. Beberapa daerah menolak film itu diputar. Film yang dalam bahasa Inggris berjudul The Long March itu juga gagal dikirim ke Festival Film Internasional di Cannes, Prancis, karena penggarapannya terhambat. Presiden Soekarno-lah yang kemudian memuliakan film itu, diputar di Istana Negara. Itu kali pertama Istana memutar film Indonesia.
Darah dan Doa hanya salah satu dari 23 karya Usmar. Ia juga bukan film Usmar yang dianggap paling jempolan. Djam Malam, misalnya, meraih anugerah film terbaik Festival Film Indonesia 1955. Namun, Darah dan Doa yang dianggap sebagai film pertama Usmar, hadir pada saat revolusi masih berkecamuk dan Indonesia masih balita, yang berani 'merumuskan' keindonesiaan dalam kebudayaan (film). Itulah film yang menawarkan 'gagasan'.
Itu pula sebagai film pertama yang seluruh penggarapan dan modalnya dikerjakan dan dibiayai kaum pribumi. Itulah spirit 'nasionalisme' Indonesia, tetapi hebatnya tak terjebak slogan dan indoktrinasi: bukan 'klise' nasionalisme.
Wajar jika Presiden BJ Habibie kemudian menahbiskan hari pertama pengambilan gambar Darah dan Doa, 30 Maret, sebagai Hari Film Nasional.
Usmar, kelahiran Bukittinggi, 20 Maret 1921, dan wafat di Jakarta, 2 Januari 1971, memang contoh seniman yang komplet dan berdedikasi. Ia semula bertekun dalam sandiwara. Bersama HB Jassin, Abu Hanifah, Rosihan Anwar, dan Cornel Simandjuntak, ia mendirikan Kelompok Sandiwara Maya. Ia juga wartawan dan pendiri harian Patriot dan bulanan Arena Yogyakarta. Saat jadi wartawan Antara ia dijebloskan ke penjara oleh Belanda.
Usmar yang pernah studi film di Universitas Los Angeles, Amerika, menjadi tonggak penting penyebar gagasan lewat film, serta berteguh pada karya berkelas. Ia tak tergoda pada upaya 'berniaga seadanya'. Seperti pidato Mari Elka Pangestu sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, Sabtu (8/8), ekonomi kreatif merupakan kekuatan baru ekonomi Indonesia. Usmar telah berteguh pada Indonesia dan pada karya bermutu sejak Republik ini berdiri.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima