Saji-sajian

SAUR HUTABARAT/Dewan Redaksi Media Group
10/8/2015 00:00
Saji-sajian
(MI/SUMARYANTO)
SIPUT bergerak lambat, tetapi pelayanan kementerian dan lembaga terkait di pelabuhan kiranya jauh lebih lamban. Bahkan dari sudut mentalitas kayaknya berat. Buktinya, di Pelabuhan Tanjung Priok mereka berani terang-terangan membohongi Presiden.

Di pelabuhan itu, menurut Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino, Presiden Jokowi disajikan sebuah sandiwara besar pelayanan satu pintu. Padahal pelayanan 18 kementerian dan lembaga terkait itu tidak pernah ada dalam kenyataan sehari-hari, tapi disulap tiba-tiba ada saat Presiden meninjau Pelabuhan Tanjung Priok. Dalam bahasa Presiden, "Yang disajikan kepada saya hanya saji-sajian." Karena itu, Presiden Jokowi tidak kaget ada tersangka di Kementerian Perdagangan, bahkan di level direktur jenderal (Media Indonesia, 1/8/2015).

Saji-sajian kepada Presiden menunjukkan bukan hanya reformasi birokrasi di kementerian/lembaga terkait di pelabuhan mendesak dilakukan, lebih dari itu sepertinya juga perlu 'cuci otak' dan 'cuci hati' sekaligus.

Sebelum sampai ke sana, rasanya Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi perlu berbenah atau malah dibenahi lebih dahulu. Sebab, terkesan di mata publik ia lebih banyak hilir mudik, inspeksi ke sana kemari bak hiperaktif atau caper (cari perhatian), antara lain mengunjungi rumah ibu angkat korban pembunuhan Engeline, Margrieth Christina Mergawe, di Denpasar, dengan akibat dipermalukan karena dilarang masuk oleh satpam.

Daripada hilir mudik tak fokus, lebih baik sang menteri berkantor saja siang-malam selama tiga bulan ini di Pelabuhan Tanjung Priok. Setelah sukses di Tanjung Priok, pindah berkantor di pelabuhan lain di Cirebon, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar. Targetnya jelas, bukan hanya memangkas waktu bongkar-muat dari lima hari menjadi sehari, melainkan juga memperbaiki dimensi kunci logistics performance index (LPI).

Berdasarkan survei Bank Dunia 2014, dari 160 negara yang disurvei, LPI Indonesia peringkat ke-53, di bawah Vietnam (48), Thailand (35), Malaysia (25), Hong Kong (15), Jepang (10), Singapura (5). Di Asia, apa bangganya Indonesia lebih baik daripada Filipina (57)?

LPI menggunakan enam dimensi kunci. Pertama efisiensi, yaitu cepat dan sederhana proses persetujuan, antara lain kepabeanan. Kedua, kualitas infrastruktur, antara lain mutu teknologi informasi. Ketiga, kemudah-an mengatur pengiriman dengan biaya kompetitif. Keempat, kompetensi dan kualitas pelayanan logistik, antara lain mutu perusahaan pengurusan jasa kepabeanan (broker). Kelima, kemampuan melacak dan menelusuri pengiriman ke suatu negara. Keenam, ketepatan waktu berdasarkan waktu yang dijadwalkan.

Indeks diukur menggunakan skor 1-5, yaitu 1 untuk kinerja terburuk dan 5 terbaik. Hasilnya lima negara dengan LPI tertinggi; Jerman (4,12), Belanda (4,05), Belgia (4,04), Inggris (4,01), dan Singapura (4). Indonesia berada di papan tengah dengan skor 3,08 di bawah Vietnam (3,15), Thailand (3,43), dan Malaysia (3,59).

Dengan Menteri Yuddy berkantor di pelabuhan siang dan malam, fokus di situ, kita berharap dia habis-habisan berbuat setidaknya pada perkara besar birokrasi, yakni memangkas proses berbelit-belit, mengubah dokumen fisik menjadi digital, memperkecil sampel inspeksi fisik (cukup 2%) sehingga tidak ada lagi bau busuk mencari-cari kesalahan atau mempersulit yang mudah, serta menegakkan transparansi status kargo.

Dalam persaingan dunia yang keras dan kejam, sekadar diri sendiri menjadi lebih baik ketimbang sebelumnya tidak cukup karena negara lain berbenah lebih cepat dan lebih hebat. Hemat saya, jika dalam 2,5 tahun pembenahan oleh anak bangsa sendiri tidak membuat LPI Indonesia mencapai peringkat terbaik 20 dunia, baiklah dipikirkan kembali seperti di masa Pak Harto, yakni sempat menyerahkan urusan kepabaenan kepada pihak asing. Mengapa terkungkung xenofobia? Presiden, mintalah persetujuan DPR untuk ditenderkan kepada lima negara dengan LPI terbaik di dunia. Percayalah, semua bentuk saji-sajian bahkan sajen-sajenan bakal musnah dalam tempo cepat.


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima