Melihat dalam Gelap

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
17/1/2019 05:30
Melihat dalam Gelap
()

MALAM ini berlangsung debat capres yang pertama diselenggarakan KPU. Sebuah tontonan yang mudah-mudahan menarik dan bermutu bagi yang melihat.

Apakah debat itu berpengaruh? Lembaga Survei Indonesia berpandangan, berkat debat, mereka yang semula tidak memilih berubah menjadi memilih. Itulah yang terjadi setelah melihat debat yang berlangsung Senin, 9 Juni 2014, malam. Dalam debat itu Jokowi mengungguli Prabowo, dan itu membuat elektabilitas Jokowi naik.

Setelah debat itu, Lembaga Survei Indonesia melakukan survei exit poll, yaitu mewawancara via telepon terhadap 2.400 responden di tujuh provinsi (Jawa Barat, Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, dan Sulawesi Selatan) yang melihat debat malam itu.

Hasilnya, 47,5% responden menyatakan Jokowi-JK membawa angin baru dalam kepemimpinan jika kelak terpilih. Sebaliknya, 36,9% responden menganggap Prabowo-Hatta kurang mempunyai program yang jelas.

Pada 2-5 Juli 2014, hampir sebulan setelah debat itu, Lembaga Survei Indonesia kembali melakukan survei, juga dengan 2.400 responden. Kali ini cakupannya nasional, yaitu responden di 33 provinsi. Mereka diwawancarai secara tatap muka. Hasilnya, elektabilitas Jokowi-JK 47,80%, unggul di atas pasangan Prabowo-Hatta yang meraih 44,20%.

Dengan margin of error 2%, survei itu juga dilengkapi riset kuantitatif melalui focus group discussion (FGD), interviu mendalam, dan analisis media.

Sekilas tampaklah bahwa keunggulan Jokowi-JK hasil debat (10,6%) di tujuh provinsi berdasarkan temuan exit poll melorot ketimbang hasil survei di 33 provinsi saat Jokowi-JK unggul 3,60%. Sekalipun ketika itu elektabilitas Jokowi-JK mengalami rebound, saya tetap tidak melihat signifikansi keunggulan debat bagi terpilihnya Jokowi-JK menjadi presiden-wakil presiden 2014-2019.

Itulah pula keyakinan saya mengenai debat malam ini. Debat itu kiranya menarik untuk kelas menengah-atas, tapi tidak untuk kebanyakan rakyat.

Debat capres pertama kali diselenggarakan pada Pilpres 2004, yaitu ketika rakyat pertama kali memilih langsung presiden. Debat itu merupakan tradisi yang kita impor dari AS, dari masa Abraham Lincoln terpilih menjadi presiden ke-16 AS. Sang lawyer meraih perhatian nasional sebagai pemimpin top berkat debat mengalahkan senator Stephen Douglas pada 1858.

Dalam pilpres AS 2016, atau 158 tahun kemudian, publik menilai Hillary Clinton yang menang debat melawan Donald Trump. Nyatanya Trump yang terpilih menjadi presiden.

Kemudian terbongkarlah fakta bahwa kemenangan Trump itu gara-gara serangan berita bohong melalui media sosial yang masif dilakukan kubu Trump. Fakta lainnya ialah Rusia yang 'bekerja' di belakang berita bohong itu.

Dalam debat pilpres malam ini di negeri ini, seyogianya yang dipertandingkan kecerdasan dan kejujuran dalam debat yang beradab. Bukan adu ketajaman mulut atau kemajalan pikiran. Kiranya menjadi tontonan yang mengasyikkan bagi kelas menengah-atas, bagaimana capres-cawapres menjawab hendak ke mana bangsa dan negara ini dibawa dalam lima tahun ke depan.

Akan tetapi, bisa jadi semua itu harapan yang terlalu luhur atau terlalu naif. Kiranya baiklah tetap diwaspadai kemungkinan buruk bahwa setelah forum debat itu yang marak terjadi ketololan dan kebohongan yang disebarluaskan secara masif melalui media sosial.

Saya pun kembali mesti bilang pentingnya mendeteksi bekerjanya tangan-tangan gelap Rusia seperti terjadi di balik kemenangan Trump.

Terlalu luhur atau terlalu naif bahwa suara rakyat suara dewa samalah jeleknya dengan terlalu bercuriga atau terlalu berprasangka bahwa yang bekerja suara setan.

Buatlah di tengah-tengah bahwa pilpres memang pertarungan antara yang baik dan yang buruk, tergantung posisi kita 'melihat'. Celakanya media sosial justru bisa membuat yang 'melihat' dalam terang malah berubah 'melihat' dalam gelap.

Ralat: Dalam 'Podium' edisi Rabu, 16 Januari tertulis 'Omzet perdagangan dalam dua tahun terakhir tumbuh dengan 30% dan 40%'. Yang benar ialah 'Omzet perdagangan dalam dua tahun terakhir tumbuh tiga kali (200%) di 2017 dan empat kali (300%) di 2018'.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.