Muktamar Harapan

Djadjat Sudradjat
04/8/2015 00:00
Muktamar Harapan
(Dok.MI)
KETIKA membuka Muktamar Ke-33 Nah-dlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Presiden Joko Widodo bersarung, berjas, tak berdasi, dan berkopiah.

Ketua Panitia Muktamar NU Saifullah Yusuf pun ketika memberikan sambutan, spontan bergurau. "Bapak Presiden menggunakan sarung untuk menghormati NU, saya pakai celana untuk menghormati Bapak Presiden." Muktamirin pun asyik masyuk dalam gelak tawa.

Ketika membuka Muktamar Ke-47 Muhammadiyah, Presiden Jokowi berpantalon, berjas, berdasi, dan berkopiah. Ada suasana lebih formal, lebih tertib, dan lebih serius.

Tidak terlalu penting dua suasana yang berbeda itu kemudian ditarik-diperlebar, tetapi kira-kira itulah gambaran dua karakter organisasi besar (ormas) Islam itu.

NU cair, mengalir, penuh improvisasi, sedangkan Muhammadiyah resmi, tertib, serius, padu seperti sebuah orkestra. NU menunjukkan dinamika yang tinggi, Muhammadiyah memperlihatkan kematangan berorganisasi. Inilah dua organisasi Islam yang penuh kempetisi, tapi juga saling menguatkan dan melengkapi sebagai ormas Islam moderat Indonesia.

Inilah dua sayap Garuda seperti yang diamsalkan cendekiawan Nurcholish Madjid. Garuda mestinya bisa mengepak lebih tinggi.

Ketika di sekolah menengah, saya merasakan ada mitos perseteruan abadi NU-Muhammadiyah seperti tidak mungkin dirobohkan. Namun, saya melihat keduanya tampak saling belajar. Beberapa kiai NU, misalnya, berkhotbah di masjid Muhammadiyah, dan begitu juga sebaliknya.

Sesungguhnya perbedaan yang terjadi antara NU dan Muhammadiyah bukan soal yang pokok (ushul), melainkan soal furuiyah (perbedaan sudut pandang). "Soal furuiyah itu tidak ada masalah. Tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU itu dulu bersahabat dekat," kata seorang tokoh Muhammadiyah.

"Kami di NU juga belajar banyak dari Muhammadiyah, terutama dalam pendidikan," sambung seorang kiai sepuh NU yang bersorban putih bersih.

(Kini, Muhammadiyah telah mempunyai sedikitnya 14.000 sekolah dari SD hingga SLTA, 192 perguruan tinggi, 490 lembaga layanan kesehatan, 400 panti asuhan, dan 350 lembaga ekonomi kerakyatan, Bait at-Tamwil Muhammadiyah.  Sebuah sumbangan yang amat besar kepada bangsa ini. Tentu saja, NU dengan ribuan pesantren dan kini gencar mendirikan perguruan tinggi di semua provinsi, tidak bisa disebut kecil sumbangannya).

Saya takjub. Ternyata mitos perseteruan abadi Muhammadiyah-NU roboh dalam waktu singkat. Saya kira kini batas antara NU dan Muhammadiyah kian mendekat.

Apa yang kini disebut 'Muhammadinu', mereka yang menjalankan ajaran Muhammadiyah tetapi juga merasa NU, agaknya kian banyak. Karena itu, muktamar NU dan Muhammadiyah yang digelar dalam waktu yang hampir bersamaan ialah muktamar yang penuh harapan.

Terlebih tema yang diusung pun saling melengkapi dan menguatkan. Tema yang mengedepankan kebangsaan.

NU mengusung tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia, sedangkan Muhammadiyah bertema Gerakan pencerahan menuju Indonesia berkemajuan. Maka, tepatlah judul liputan kedua muktamar itu, 'Islam Nusantara Berkemajuan' di Media Indonesia edisi 31 Juli.

Muhammadiyah yang lahir 103 tahun silam dan NU yang lahir 89 tahun silam merupakan dua organisasi yang 'menguak' takdir kolonialisme tanpa henti. Mereka bersiasat. Mereka melawan. Ini jauh sebelum partai-partai politik ramai berkompetisi, jauh sebelum kemerdekaan Republik ini diteguhkan.

Tanpa mengecilkan peran yang lain, layaklah keduanya penjaga pilar kebangsaan. Mereka saling menguatkan untuk menjadi kiblat Islam dunia, yakni Islam yang damai, yang toleran, yang menguatkan identitas Indonesia.

Ini penting justru ketika wajah Islam di hampir di seluruh wilayah Timur Tengah, hingga saat ini, tengah kehilangan arah karena ke-kerasan yang tak kunjung usai.

Tentu, NU dan Muhammadiyah harus lebih serius pula mengembangkan pendidikan yang semakin bermutu tinggi untuk merealisasikan Islam yang berkemajuan itu. Di bidang tersebut, jujur, kita masih amat ketinggalan jika dibandingkan dengan bangsa lain.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.