KETIKA membuka Muktamar Ke-33 Nah-dlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Presiden Joko Widodo bersarung, berjas, tak berdasi, dan berkopiah.
Ketua Panitia Muktamar NU Saifullah Yusuf pun ketika memberikan sambutan, spontan bergurau. "Bapak Presiden menggunakan sarung untuk menghormati NU, saya pakai celana untuk menghormati Bapak Presiden." Muktamirin pun asyik masyuk dalam gelak tawa.
Ketika membuka Muktamar Ke-47 Muhammadiyah, Presiden Jokowi berpantalon, berjas, berdasi, dan berkopiah. Ada suasana lebih formal, lebih tertib, dan lebih serius.
Tidak terlalu penting dua suasana yang berbeda itu kemudian ditarik-diperlebar, tetapi kira-kira itulah gambaran dua karakter organisasi besar (ormas) Islam itu.
NU cair, mengalir, penuh improvisasi, sedangkan Muhammadiyah resmi, tertib, serius, padu seperti sebuah orkestra. NU menunjukkan dinamika yang tinggi, Muhammadiyah memperlihatkan kematangan berorganisasi. Inilah dua organisasi Islam yang penuh kempetisi, tapi juga saling menguatkan dan melengkapi sebagai ormas Islam moderat Indonesia.
Inilah dua sayap Garuda seperti yang diamsalkan cendekiawan Nurcholish Madjid. Garuda mestinya bisa mengepak lebih tinggi.
Ketika di sekolah menengah, saya merasakan ada mitos perseteruan abadi NU-Muhammadiyah seperti tidak mungkin dirobohkan. Namun, saya melihat keduanya tampak saling belajar. Beberapa kiai NU, misalnya, berkhotbah di masjid Muhammadiyah, dan begitu juga sebaliknya.
Sesungguhnya perbedaan yang terjadi antara NU dan Muhammadiyah bukan soal yang pokok (ushul), melainkan soal furuiyah (perbedaan sudut pandang). "Soal furuiyah itu tidak ada masalah. Tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU itu dulu bersahabat dekat," kata seorang tokoh Muhammadiyah.
"Kami di NU juga belajar banyak dari Muhammadiyah, terutama dalam pendidikan," sambung seorang kiai sepuh NU yang bersorban putih bersih.
(Kini, Muhammadiyah telah mempunyai sedikitnya 14.000 sekolah dari SD hingga SLTA, 192 perguruan tinggi, 490 lembaga layanan kesehatan, 400 panti asuhan, dan 350 lembaga ekonomi kerakyatan, Bait at-Tamwil Muhammadiyah. Sebuah sumbangan yang amat besar kepada bangsa ini. Tentu saja, NU dengan ribuan pesantren dan kini gencar mendirikan perguruan tinggi di semua provinsi, tidak bisa disebut kecil sumbangannya).
Saya takjub. Ternyata mitos perseteruan abadi Muhammadiyah-NU roboh dalam waktu singkat. Saya kira kini batas antara NU dan Muhammadiyah kian mendekat.
Apa yang kini disebut 'Muhammadinu', mereka yang menjalankan ajaran Muhammadiyah tetapi juga merasa NU, agaknya kian banyak. Karena itu, muktamar NU dan Muhammadiyah yang digelar dalam waktu yang hampir bersamaan ialah muktamar yang penuh harapan.
Terlebih tema yang diusung pun saling melengkapi dan menguatkan. Tema yang mengedepankan kebangsaan.
NU mengusung tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia, sedangkan Muhammadiyah bertema Gerakan pencerahan menuju Indonesia berkemajuan. Maka, tepatlah judul liputan kedua muktamar itu, 'Islam Nusantara Berkemajuan' di Media Indonesia edisi 31 Juli.
Muhammadiyah yang lahir 103 tahun silam dan NU yang lahir 89 tahun silam merupakan dua organisasi yang 'menguak' takdir kolonialisme tanpa henti. Mereka bersiasat. Mereka melawan. Ini jauh sebelum partai-partai politik ramai berkompetisi, jauh sebelum kemerdekaan Republik ini diteguhkan.
Tanpa mengecilkan peran yang lain, layaklah keduanya penjaga pilar kebangsaan. Mereka saling menguatkan untuk menjadi kiblat Islam dunia, yakni Islam yang damai, yang toleran, yang menguatkan identitas Indonesia.
Ini penting justru ketika wajah Islam di hampir di seluruh wilayah Timur Tengah, hingga saat ini, tengah kehilangan arah karena ke-kerasan yang tak kunjung usai.
Tentu, NU dan Muhammadiyah harus lebih serius pula mengembangkan pendidikan yang semakin bermutu tinggi untuk merealisasikan Islam yang berkemajuan itu. Di bidang tersebut, jujur, kita masih amat ketinggalan jika dibandingkan dengan bangsa lain.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima