Jangan Biarkan Susi Sendiri

27/2/2015 00:00
Jangan Biarkan Susi Sendiri
Djadjat Sudradjat, Dewan Redaksi Media Group(MI/M Irfan)

HARI-HARI ini dan selanjutnya, kita masih berharap pada seorang Susi. Menteri Kelautan dan Perikanan yang terus galak pada para lanun yang berpuluh tahun menjarah laut kita. Bersyukur tak ada tanda-tanda ia surut lalu menyerah pada para penjarah. Terbayang jika Susi Pudjiastuti hilang nyali karena lelah atau 'terbeli', misalnya, selesailah sebuah riwayat perang besar melawan penjahat laut yang licik dan licin itu.

Rabu (25/2) silam, Susi berang bukan kepalang. Kapal Fu Yuan Yu 80 yang habis masa izinnya pada 2013 masih beroperasi di perairan kita. "Saya berharap KSAL dan kementerian kami bisa menangkap mereka hari ini," katanya. Ia menjelaskan kapal itu satu grup dengan kapal MV Hai Va yang telah ditangkap. Untuk mengelabui, kapal berganti bendera Panama, Tiongkok, Indonesia.

Sejak Susi menenggelamkan kapal-kapal asing penjarah ikan, kita merasa tangan-tangan negara mulai bekerja. Segera kita tahu dari Jokowi ada sekitar 7.000 kapal yang selama ini beroperasi liar. Sebagian besar memakai nomor wajib pajak palsu, sebagian lagi tidak terdaftar. Sebagian kepemilikannya pun tak jelas: kapal berbendera Indonesia, tetapi pemiliknya ada di luar negeri. Tak salah jika Susi menyebut cara mereka bekerja serupa organisasi mafia.

Ia berlakukan moratorium izin kapal baru dan meninjau ulang semua izin tangkap kapal ikan di atas 30 gross ton, sejak 6 November 2014 hingga 30 April 2015. Kita segera tahu siapa saja yang 'bermain' di laut kita. Pengusaha Indonesia yang tega 'menjual lautnya' pada asing. Menurut Susi, kapal-kapal besar milik asing, yang 'berbungkus' perusahaan Indonesia, ialah bahtera yang di negerinya sendiri dilarang beroperasi. Itu sebabnya setelah moratorium, Susi tak sudi kapal-kapal eks asing melaut di Indonesia.

Kekayaan laut kita yang dijarah asing, kata Susi, setara Rp3.000 triliun. Jumlah itu, seperti pernah diungkap seorang bankir, setara dengan kekayaan orang Indonesia, baik perseorangan maupun korporasi, yang tersimpan di bank-bank luar negeri karena menghindari pajak. Maka, kata Susi, "Kalau ada yang masih berani bermain-main, akan saya sikat." Ia ingin nelayan kita sejahtera dari lautnya sendiri. Ia ingin ikan Indonesia membanjiri pasar ikan dunia.

Namun, untuk mewujudkan keinginan Susi memang tak mudah. Mereka yang terbiasa mengeruk keuntungan lewat jalan tak legal, pasti akan melawan dengan bermacam cara.

Kita tahu Susi bukan datang dari dunia 'yang lazim' sebagai petinggi negeri: pendidikannya yang putus di sekolah menengah, rajah di kakinya, rokok dalam hidupnya. Namun, kita segera tahu hidupnya tak 'bergincu'. Ia menjadi diri sendiri sepenuhnya.

Di tangan Menteri Susi, laut yang lama kita punggungi menjadi penting kembali. Namun, nyali seorang Susi tak boleh dibiarkan sendiri 'bertempur' di laut yang keras. Saatnya Angkatan Laut, Polri, dan semua pihak yang mencintai negeri ini, bekerja sama menyelamatkan laut kita yang kaya, tetapi nelayannya miskin. Kita memang lelah bertanya, kenapa terlalu lama laut kita dijarah? Tetapi, sudahlah. Saatnya 'Angkatan Baru' mengemban tanggung jawab yang alpa ditunaikan 'angkatan lama'. Sejarah tak akan alpa mencatatnya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima