Punah

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
20/12/2018 05:30
Punah
()

TOPIK pekan ini perihal negara punah. Kalau Prabowo kalah dalam pemilihan presiden, katanya, negara ini bisa punah. Pernyataan itu membuat Menko Polhukam Wiranto mendadak menjadi pelawak.

Kata Wiranto, kalau negara ini punah, rumahnya di bilangan Bambu Apus, Jakarta Timur, diserahkan ke Prabowo. Kenapa? Kalau negara ini punah buat apa lagi punya rumah? Sebab semua punah.

Wiranto tertawa. Saya pun tertawa membaca berita itu. Saya bahkan latah berlagak orang kaya ingin memberi rumah saya yang kecil di bilangan Bekasi untuk Prabowo. Kenapa? Ketika negara ini punah tidak ada lagi urusan dengan rumah kecil atau rumah besar. Semuanya rata, punah.

Bicara kepunahan lazimnya membawa tangis, bukan tawa. Contohnya, Sedih Banget, 15 Hewan ini Ternyata Punah karena Ulah Manusia Sendiri! Itu judul sebuah tulisan dengan imbauan 'Semoga perburuan ilegal segera dihentikan di seluruh dunia'.

Salah satu yang punah itu harimau jawa. Tubuhnya kecil, tetapi cukup kuat untuk mematahkan kaki kuda atau kaki kerbau dengan cakarnya. Kendati cukup kuat, mereka punah akibat perburuan yang masif dan habitat alami mereka diduduki manusia.

Apakah Prabowo mengira Republik Indonesia ini seperti harimau jawa yang punah itu? Entahlah. Yang nyata terbaca ia merasa hanya jika dirinya yang menjadi presiden negara ini tidak punah.

Dia merasa hanya dirinya pemimpin di negeri ini yang mampu membuat negara dan bangsa ini punya cakar menghadapi kaki-kaki negara besar serta mampu menghadapi ulah manusia Indonesia yang korup. Apakah ada yang salah dengan perasaan itu?

Perasaan diri besar kiranya perkara yang diperlukan bagi siapa pun yang merasa dirinya dikecilkan orang lain. Diperlukan sebagai keseimbangan.

Perkara yang hebat ialah bila orang merasa dirinya pas untuk dirinya, apa pun status dan kedudukannya, dalam keadaan apa pun, terlepas apa pun penilaian orang terhadap dirinya. Hebat karena orang cenderung berlari-lari di luar dirinya sehingga seperti tidak sempat berlabuh di dalam diri, di kebeningan diri. Akibatnya orang itu tidak pernah tahu yang pas buat dirinya.

Berlari-lari di luar diri belum tentu mencapai garis finis atau sampai di garis finis, tetapi kalah. Dalam suasana kebatinan seperti itu, orang yang tidak sempat berlabuh dalam kebeningan diri, bisa penasaran berkepanjangan.

Demokrasi mengandung keluwesan bagi siapa pun untuk bertarung menjadi presiden termasuk bagi mereka yang penasaran dengan dirinya kok kalah melulu. Demokrasi punya daya dukung dan daya pikul yang lentur untuk menghormati perbedaan, memelihara harkat dan kehormatan yang menang maupun yang kalah, serta memberi kesempatan kepada siapa pun yang punya rasa penasaran kok kalah melulu.

Akan tetapi, merasa diri sendiri paling hebat di negeri ini dan mengira Indonesia punah bila diri itu tidak terpilih menjadi presiden, kiranya hanya perasaan Kakanda Prabowo saja.

Maaf bila perasaan itu menimbulkan rasa geli, bukan rasa sedih seperti punahnya harimau jawa.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.