Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RIUH sekali pembahasan soal sampah plastik awal Desember ini. Memang kebetulan ada pertemuan tentang perubahan iklim di Katowice, Polandia. Apalagi ada seekor paus yang mati dan ditemukan hampir 6 kilogram sampah plastik di dalam perutnya. Sebelumnya ada seekor kura-kura yang harus berjuang agar sedotan plastik yang masuk dan menutup hidungnya bisa dikeluarkan.
Plastik kemudian dianggap sebagai biang persoalan. Digelindingkan pemahaman untuk melarang penggunaan plastik. Apalagi beberapa menteri kemudian bersuara seperti lembaga swadaya masyarakat. Indonesia pun menjanjikan untuk mengurangi penggunaan plastik sampai 70%.
Padahal dalam kehidupan modern sekarang ini, apa yang tidak ada komponen plastiknya. Semua kebutuhan manusia yang tidak bisa menggunakan kayu atau metal pasti penggantinya ialah plastik. Dari pembungkus obat, alat-alat kesehatan, furnitur, kulkas, televisi, radio, komputer, telepon pintar, bagian dari mobil, sampai panel surya tidak lepas dari unsur plastik.
Semua negara yang diberi sumber daya alam yang melimpah kemudian membangun industri petrokimia. Terakhir Malaysia membangun pabrik petrokimia di Pengerang, Johor, dengan nilai investasi mencapai US$27 miliar. Semua itu dilakukan karena mereka ingin mendapatkan nilai tambah dari minyak dan gas yang didapatkan dari perut bumi.
Kita tahu dari migas bisa dihasilkan tiga jenis produk di samping bahan bakar minyak, dari olefins seperti ethylene dan propylene hingga butadiene. Ethylene dan propylene sangat dibutuhkan industri kimia dan produk plastik. Adapun butadiene merupakan bahan baku untuk karet sintetis. Produk kedua ialah aromatika yang di dalamnya termasuk benzene, toluene, dan xylenes.
Benzene kita tahu merupakan bahan baku untuk pewarna dan detergen sintetis, sedangkan xylenes bisa dipakai untuk plastik dan fiber sintetis. Produk ketiga ialah campuran karbon monoksida dan hidrogen yang akan menghasilkan amonia dan metanol. Kita tahu amonia kemudian dipakai sebagai bahan baku pembuatan pupuk, sedangkan metanol dipakai sebagai pelarut atau bahan antara kimia.
Perjuangan sebuah negara untuk membangun industri petrokimia tidaklah mudah. Presiden Soeharto sudah mencita-citakan untuk membangun industri petrokimia sejak awal 1970-an. Namun, konsesi yang diberikan kepada perusahaan minyak dunia tidak pernah direalisasikan dengan berbagai alasan. Padahal kebutuhan baku plastik terus meningkat sesuai kemajuan ekonomi.
Awal 1990-an pengusaha Prajogo Pangestu mencoba merealisasikan mimpi Presiden Soeharto dengan mendirikan PT Chandra Asri. Pada awalnya proyek itu berjalan normal dengan pendanaan yang berasal dari dalam negeri. Akan tetapi, karena dianggap sebagai ancaman terhadap hegemoni seven sisters atau tujuh perusahaan minyak raksasa dunia, tiba-tiba keran kredit dihentikan sehingga proyek petrokimia pertama di Indonesia itu nyaris tidak bisa dilanjutkan.
Dengan segala upaya, Prajogo Pangestu akhirnya mendapatkan kredit dari Marubeni, Jepang. Itulah yang membuat PT Chandra Asri bisa menyelesaikan proyeknya dan beroperasi. Kebutuhan bahan baku plastik dalam negeri tidak lagi sepenuhnya harus diimpor, tetapi bisa sebagian dihasilkan pabrik petrokimia yang ada di Serang, Banten.
Sekarang kita mempunyai setidaknya 12 pabrik petrokimia. Namun, sebagai negara yang kaya dengan sumber daya alam dan membutuhkan bahan baku plastik yang besar, kita seharusnya tidak boleh kalah dari Malaysia. Apalagi ketika Presiden Joko Widodo berharap sumber daya alam yang kita miliki harus bisa memberikan nilai tambah yang lebih tinggi.
PT Chandra Asri sendiri sekarang sudah mengembangkan industrinya dengan membangun pabrik karet sintetis. Bekerja sama dengan produsen ban asal Prancis, Michelin, Chandra Asri menanamkan modal sebesar US$400 juta untuk mendirikan pabrik ketiga setelah pabrik di Prancis dan Amerika Serikat yang menghasilkan karet sintetis untuk Michelin.
Dengan manfaat yang begitu besar, kita harus berhati-hati dalam memainkan isu sampah plastik. Kita tentu setuju bahwa pengelolaan sampah harus dilakukan lebih baik agar tidak merusak lingkungan. Akan tetapi, jangan sampai kemudian menyimpulkan bahwa kita tidak membutuhkan kehadiran industri petrokimia.
Kita justru harus mendorong tumbuhnya industri petrokimia untuk menunjang kemajuan bangsa ini sebab tidak mungkin kita tidak membutuhkan bahan baku plastik. Hampir semua produk yang diperlukan masyarakat membutuhkan dukungan produk plastik.
Yang perlu diajarkan kepada masyarakat ialah penggunaan yang benar. Produk plastik itu jenisnya bermacam-macam. Untuk kebutuhan membawa makanan, misalnya, harus digunakan jenis yang grade-nya tinggi agar kita tidak terpapar oleh molekul yang bisa membahayakan kesehatan.
Sekarang ini yang dilakukan masyarakat, apa pun kebutuhannya yang digunakan ialah jenis plastik yang sama. Ketika plastik yang digunakan ialah jenis yang murah, kita pun sembarangan saja membuangnya. Akibatnya kita lihat kantong-kantong plastik yang berceceran di jalanan.
Kita sama-sama ingin menjadi bangsa yang maju dan modern. Untuk itu, yang diperlukan ialah sikap yang juga modern. Orang modern itu bertanggung jawab terhadap apa yang digunakannya dan tidak sembarangan membuangnya.
Orang modern itu pandai menjaga lingkungannya karena orang modern sangat peduli terhadap kualitas hidupnya. Bangsa Jepang tidak punya migas, tetapi mempunyai industri petrokimia. Mereka tidak pusing dengan urusan sampah, bahkan bisa mereka olah untuk pembangkit listrik.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved