ATL, Berdedikasi untuk Negeri

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
11/12/2018 05:30
ATL, Berdedikasi untuk Negeri
()

BERUNTUNGLAH negeri ini ada ATL (Asosiasi Tradisi Lisan). Jika pemerintah kerap bicara soal identitas bangsa, ATL inilah LSM kebudayaan, penjaga identitas bangsa terdepan, yang terus bergerak, beraktivitas di bidang kajian, penelitian, publikasi, dan pentas seni tradisi. Semangat dan dedikasi pada budaya yang plural inilah yang membuat ATL tak pernah surut melangkah selama 25 tahun ini.

Jika di Indonesia LSM kerap diasosiasikan hal yang kurang sedap, ATL justru berteguh di bidang yang mulia, tapi kerap dipandang sebelah mata justru oleh negara. ATL kerap memberi masukan perihal kebudayaan kepada pemerintah, termasuk memberikan masukan draf akademis ketika UU Pemajuan Kebudayaan masih dalam pembahasan.

Embrio ATL ialah Proyek Tradisi Lisan Nusantara (PTLN) yang bermula pada 1992, yang merupakan kerja sama pemerintah Belanda dan Indonesia dengan bantuan The Ford Foundation. Ia bergerak dengan tiga pendekatan: ilmu pengetahuan, publikasi, dan pementasan. Dalam Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara I di TIM, Jakarta, 9-11 Desember 1993, disepakati PTLN berganti menjadi lembaga tetap yang disebut Asosiasi Tradisi Lisan.

Kini dalam usianya yang ke-25, ATL mempunyai kepengurusan di 28 provinsi dengan mitra kerja di berbagai negara. ATL diketuai Pudentia MPSS, pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI). Pengurus ATL di daerah umumnya juga diketuai para akademisi, menyusul birokrat, dan aktivis kebudayaan.

Di ATL Pudentia memang telah menjadi ’bunda’. Ia memimpin LSM kebudayaan ini selama 25 tahun, tanpa kenal lelah, wajar jika sangat dekat dengan seluruh pengurus, termasuk di daerah. Duduk sebagai pelindung ATL ialah empat guru besar yakni Fasli Jalal, Edi Sedyawati, HMJ Maier, dan Yus Rusyana.

Di kediaman Pudentia pula, Jl Menteng Wadas Timur, Manggarai, Jakarta Selatan, ATL berkantor. Kapan saja, para pengurus ATL dan mitra luar negeri bisa datang tanpa dibatasi jam kantor. Sebelumnya, meski mendapat bantuan dari Ford Foundation, selama beberapa tahun kantor ATL berpindah-pindah karena tak cukup punya dana untuk sewa tempat.

Dengan totalitas kepemimpinan seperti itu, pemikir kebudayaan Taufik Rahzen pernah berujar, ATL tetap eksis karena ada figur seperti Pudentia. ”Ini memang khas organisasi kebudayaan di Indonesia. Jangan-jangan kalau rutin ada pergantian ketua, ATL malah tidak bisa bertahan,” kata Taufik suatu saat.

Pudentia lahir 8 Mei 1956 di Muntilan, Jawa Tengah, menyelesaikan gelar sarjana sastra modern di Fakultas Sastra (kini FIB UI), dan gelar doktor bidang tradisi lisan melalui program kerja sama UI dengan University of Leiden, Belanda, dan University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

Ia juga Ketua Konsorsium Kajian Tradisi Lisan Direktorat Pendidikan Tinggi dan Ketua Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda (Intangiabel Cultural Heritage/ICH) Indonesia.

Dalam Konvensi UNESCO yang ditetapkan 16 Oktober 2003, tradisi lisan yang merupakan bagian dari ICH termasuk warisan budaya yang diutamakan untuk dipertahankan. Dengan posisinya itu, Pudentia kerap menjadi ’duta kebudayaan Indonesia’ karena seringnya hadir memenuhi undangan di perhelatan kebudayaan luar negeri.

Tradisi lisan sebagai karya budaya kreatif bukan hanya meliputi mite, legenda, dongeng, dan berbagai jenis cerita lainnya, tetapi juga sistem nilai, kearifan, dan pengetahuan tradisional. Konvensi itulah yang menguatkan gerakan di seluruh dunia mulai mengakui kebudayaan harus masuk kehidupan secara signifikan. Di masa silam, dunia, termasuk Indonesia, hanya mengutamakan pembangunan bidang ekonomi, politik, pertahanan, dan menafikan kebudayaan.

Kini di ulang tahun ke-25, ATL menggelar acara yang dipusatkan di Pekanbaru, Riau, 10-14 Desember ini, dengan tajuk Seminar Internasional dan Festival Seni Tradisi Se-ASEAN. Hadir sebagai pembicara puluhan akademisi, peneliti, dan penggiat kebudayaan dari dalam dan luar negeri.

ATL juga aktif mengupayakan beasiswa bagi mahasiswa S-2 dan S-3 kajian tradisi lisan di berbagai perguruan tinggi, antara lain di Universitas Indonesia, UGM, Undip, dan USU, yang jumlahnya makin tahun kian meningkat. Sejak 1993 hingga 2018, ATL sedikitnya juga telah menerbitkan 23 buku di bidang tradisi lisan.  Tak hanya buku, ATL telah membuat 18 film, termasuk film layar lebar seperti Doa Anak Seorang Pemukul Bel dan Mengejar Embun ke Eropa.

Dirgahayu, Asosiasi Tradisi Lisan. Selamat terus berteguh membangun di ranah kultural. Justru bidang inilah yang amat fundamental dalam membangun karakter bangsa.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.