Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PUISI mestinya terlalu indah untuk mengandung kebencian. Apalagi, sengaja dipakai sebagai medium untuk mengekspresikan kebencian.
Kebencian tidak pernah indah. Tidak ada kebencian yang puitis. Dia produk kekeruhan, hiruk pikuk, kusut masai.
Berpuisi ialah berkesusastraan, yang menurut Goenawan Mohamad, merupakan hasil proses yang berjerih payah, proses yang minta pengerahan batin.
Pengerahan batin kiranya hanya dapat dilakukan dalam khusyuk. Bukan dalam ingar bingar. Dalam khusyuk, bukan saja orang berkonsentrasi, melainkan juga sekaligus terjadi penyerahan diri yang penuh.
Batin ialah pelabuhan diri yang bening, yang jujur. Hasil pengerahan batin terpadat dan terdalam berupa keindahan, bukan kebencian.
Maaf, pengerahan pikiran kiranya lebih mudah dilakukan jika dibandingkan dengan pengerahan batin. Pengerahan pikiran dapat dilakukan di mana saja, termasuk dalam kebisingan, dan untuk apa saja, termasuk berupa keperluan energi negatif. Hasilnya pamflet, bukan puisi.
Kebohongan, misalnya, bermula dalam pikiran. Bukan dalam batin karena batin menolaknya. Apakah maknanya ketika kita membahasakan diri 'berpikir positif'? Bukankah karena memang ada (bahkan mungkin banyak) yang 'berpikir negatif'?
Yang tersakiti oleh pikiran negatif ialah hati, bukan batin. Kalau kekalahan dianggap sebagai sesuatu yang menyakitkan, orang akan melakukan segala hal untuk menang. Termasuk menyakiti orang lain.
Kiranya itulah yang terjadi dalam kompetisi dan kontestasi pemilihan presiden. Maka dari itu, lahirlah puisi kebencian yang pasti bukan hasil proses yang minta pengerahan batin, melainkan hasil proses yang minta pengerahan energi pikiran negatif.
Kebencian tidak butuh pijakan. Ambil contoh dua berita yang beredar Senin (3/12) di detik.com. Yang pertama melansir data Reuters, bahwa dolar AS berada di level Rp14.225. Level itu disebut sudah jauh lebih rendah daripada posisi penutupan sebelumnya Rp14.302. Dengan kata lain, 'hari itu' rupiah perkasa.
Berita yang kedua Wakil Ketua DPR Fadli Zon menjelaskan soal lagu dan klip video Sontoloyo, yang dibuat berdasarkan sajak karyanya. Katanya, kata itu menarik karena itu kata mutiara pilihan Presiden Jokowi. "Jadi, waktu itu saya buatlah puisi." Salah satu liriknya, 'rupiah anjlok melemah'. Padahal, 'hari itu' ketika ia bicara dengan pers, ternyata rupiah menguat.
Kebencian memang tanpa pijakan. 'Hari itu' (3/12) ternyata rupiah perkasa. Terjadilah paradoks pasar dengan apa yang disebut Fadli Zon sebagai 'puisi'. Kenapa? Sebuah puisi yang merupakan hasil proses yang berjerih payah, proses yang minta pengerahan batin, nilai keindahannya berumur panjang, sangat panjang, bahkan estetika yang abadi. Nilainya tidak naik-turun, fluktuatif, sesuai dengan nilainya 'hari itu', dan nilai 'penutupan sebelumnya'.
Puisi hasil proses pengerahan batin tidak ada urusan dengan fluktuasi sebagai watak utama pasar bebas. Kebijakan moneter yang dipilih negara ini tidak mencantolkan rupiah pada kurs tetap, tetapi mengambang terkendali. Sebuah kebijakan negara yang memerlukan pengertian yang besar termasuk dari oposisi bahwa rupiah pun diwarnai dinamika pasar global.
Tentu saja orang bebas untuk berekspresi. Orang pun dapat mengklaim bahwa yang dihasilkannya puisi.
Sebaliknya, seraya mengenang keberangkatan sastrawan NH Dini, dan mengingat kembali karyanya Pada Sebuah Kapal, sejujurnya saya pun dapat bilang bahwa saya penganut paham puritan dalam mengapresiasi karya sastra, khususnya puisi. Terus terang saya alergis terhadap puisi kebencian.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved