Menghidupkan Dialog

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
04/12/2018 05:10
Menghidupkan Dialog
()

INI cerita kebajikan pada 1990. Pimpinan Muhammadiyah mengundang pengusaha Tionghoa untuk bersilaturahim. Mereka berterus terang hendak menimba ilmu berniaga ’secara baik dan benar’ dari para pengusaha papan atas itu.

Di penghujung 1980-an banyak pengusaha menengah-bawah kolaps. Mereka kalah bersaing dengan pengusaha besar karena liberalisasi ekonomi Orde Baru.

Dengan senang hati, para saudagar kakap itu memenuhi undangan yang dihelat 19 April di Hotel Sari Pasific, Jakarta. Begitu antusiasnya menyambut undangan itu, mereka mengundang balik pimpinan Muhammadiyah. Silaturahim ’balasan’ itu digelar 13 Mei di Hotel Sahid, Jakarta, yang dihadiri sekitar 100 undangan.

Hadir antara lain bos Matahari Departement Store Hari Darmawan, bos Bank Danamon Usman Admadjaja, dan Putra Mas Agung dari Gunung Agung. Hadir juga Fahmi Idris dari PT Kodel, Jacoeb Oetama dari PT Gramedia, dan Hidayat dari AP31 (Asosiasi Pusat Pertokoan dan Pembelanjaan Indonesia). Beberapa daerah berinisiatif ingin menggelar pertemuan serupa.

Dengan terbuka, para pengusaha Tionghoa pun menceritakan bagaimana liku-liku bisnis mereka sejak masih kecil. Hari Darmawan siap menampung usahawan Muhammadiyah untuk magang di perusahaannya, yang setiap angkatan sekitar 50 orang. Hari juga menyilakan ketika magang, mereka melihat rahasia dapur agar memahami apa yang ia lakukan.

Para pengusaha juga siap menerima jajaran Muhammadiyah sebagai pemasok.

Jika timbul kesulitan permodalan, akan dibicarakan kemudian. Pers sangat mengapresiasi silaturahim itu. Itu tidak saja akan menggerakkan ekonomi umat yang pada umumnya lemah, tetapi juga bisa memperkukuh persatuan. Itulah cara pembauran yang menyentuh akar persoalan, membuat nyaman kedua pihak.

“Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri China, kata suatu hadis. Kita tak perlu repot-repot ke negeri China mencari ilmu. Mari kita belajar dari kawan-kawan kita keturuanan China yang sekarang sudah banyak berada di sini,” kata Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Lukman Harun, dalam sambutannya.

“Islam tak mengenal perbedaan rasial,” katanya lantang. Ia meng­ungkapkan, pada 1938 Muhammadiyah sudah mengangkat Oey Tjeng Hien (Karim Oey), muslim Tionghoa, sebagai Ketua Wilayah (konsul) Muhammadiyah di Bengkulu. Padahal, tokoh sekaliber Bung Karno hanya menjabat Ketua Bidang Pendidikan. Waktu itu, Bung Karno, Karim Oey, dan Buya HAMKA dikenal sebagai ’Tiga Serangkai Muhammadiyah’.

Ucapan Lukman Harun waktu itu memang sangat menyentak. Ketika itu isu konglomerasi yang didominasi pengusaha Tionghoa tengah menjadi sorotan.

Ia merasakan para pengusaha menengah-kecil dari organisasinya mulai kesulitan. Namun, tak guna jika hanya berkeluh kesah. “Lebih baik menyalakan lilin daripada terus berteriak dalam kegelapan.” Adagium ini menjadi inspirasi.

Muhammadiyah menangkap sinyal, ada bahaya mengancam karena kesenjangan ekonomi. Ia bisa merapuhkan kebangsaan seperti kata ekonom Amerika Serikat, John Kenneth Galbraith, kemiskinan ialah biang keladi derita yang berlanjut, dari kelaparan dan penyakit, konflik sosial, bahkan perang.

”Apabila masyarakat bebas tidak dapat membantu si mayoritas yang miskin, ia pun tidak akan membantu minoritas yang kaya,” begitu kata mendiang John F Kennedy. Muhammadiyah berpendapat, kelompok Tionghoa bukan untuk dipukul, melainkan justru harus dirangkul. Mereka punya kultur berniaga dan tentu punya modal dan jaringan.

Kini teriakan ancaman ’asing’ (pihak luar negeri) dan ’aseng’ (merujuk pada bangsa Tiongkok, tapi bisa juga ditafsirkan golongan Tionghoa) kerap diteriakkan tokoh Muhammadiyah seperti Amien Rais dan barisan oposisi. Tudingan serupa itu pasti secara psikologis mengganggu hubungan sesama warga bangsa.

Dulu Muhammadiyah memang mempunyai tokoh penghubung yang andal. Ada Junus Jahya (Lauw Tjhwan Thio), tokoh muslim Tionghoa yang bisa diterima dengan baik di kedua pihak. Selain itu, ada tokoh sekaliber Buaya HAMKA yang aktif melakukan pembaur­an. Banyak kalangan Tionghoa yang ia pandu membaca syahadat. Salah satu anak angkatnya ialah Yusuf Hamka.

Teriakan ’aseng’ yang terus viral di media sosial tidak saja melanggar UU No 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, tapi membuat energi kita terkuras. Dialog Muhammadiyah-pengusaha Tionghoa yang pernah dihelat 30 tahun lalu, jika dihidupkan lagi, sungguh sebuah oasis. Justru ketika hawa panas menjelang Pemilu 2019 semakin terasa.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.