Pemimpin Penakluk Konteks

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
29/11/2018 05:30
Pemimpin Penakluk Konteks
()

BERIKUT ini pertanyaan mengganggu kewarasan, manakah yang lebih buruk terlalu banyak 'mulut' atau terlalu banyak 'telinga'?

Pertanyaan itu bisa jadi membutuhkan 'hari-hari nyepi' untuk menjawabnya, yaitu ketika 'hati' yang 'bicara' (sebagai mulut), dan 'hati' pula yang mendengar (sebagai 'telinga').

Kenyataan mungkin lebih parah, yaitu terlalu banyak 'mulut' untuk terlalu sedikit 'telinga' yang sudi mendengarkan. Di lain pihak, banyak 'telinga' bahkan mayoritas ingin mendengarkan, tetapi sedikit 'mulut' yang patut didengar.

Di ruang publik bisa terjadi apa yang disebut David Foster Wallace sebagai 'total noise', berisik total. Bukan karena kita kebanjiran informasi, melainkan karena kita kebanjiran kecerewetan, bahkan kebohongan.

Di dunia yang waras kemajuannya yang terjadi ialah banjir informasi itu dipertarungkan dengan banjir pengetahuan. Bukan dipertarungkan dengan kecerewetan apalagi kebohongan.

Karena itu, meminjam pikiran David Foster Wallace jelas menjadi sangat urgen di ruang publik orang menjernihkan fakta, konteks, dan perspektif agar 'mulut' yang berkeadaban bertemu dengan 'telinga' yang berkeadaban pula.

Fakta bohong mestinya mudah dipatahkan dalam konteks yang memang bukan jalinannya. Bukankah teks melekat pada jalinannya, tidak terkecuali fakta sebagai teks? Namun, kemiskinan perspektif membuat kebohongan dipercaya.

Fakta bohong itu contohnya Jokowi hadir pada waktu DN Aidit pidato pada 1955. Padahal, Jokowi belum lahir. Ia lahir 1961. Tidak benar Jokowi PKI, tetapi 6% responden dikabarkan percaya. Begitu buruknya perspektif.

Orang sabar besar pengertiannya. Itu kata orang suci. Ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara. Nasihat yang dipegang ialah janganlah terburu-buru dengan mulutmu. Kenapa? Karena mulut licin mendatangkan bencana.

Akan tetapi, fakta bohong tidak boleh dibiarkan berlama-lama diterima sebagai fakta yang benar, bahkan diyakini benar. Karena itu, harus dilawan.

Sampailah orang di tapal batas berdiam diri, sampai di titik yang 'manusiawi'. Bahkan, semut kalau diinjak melawan, menggigit, kata Erick Thohir, Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin. Apalagi manusia. Kemudian, meluncurlah kata 'tabok' dari mulut Jokowi, yang memang manusia bukan malaikat.

Jokowi ialah manusia yang memimpin negeri ini. Negeri mana pun tidak memerlukan malaikat untuk menjadi pemimpin. Pemimpin bagaimanakah yang kita perlukan?

Jawabnya yang paling pendek ialah ‘Pemimpin yang menaklukkan konteks’.  Sesungguhnya itulah yang terus dilakukan Jokowi sebagai pemimpin dan kiranya itu pula yang tetap dilakukannya untuk masa jabatan kedua.

Pemimpin menaklukkan konteks merupakan pendapat C Carter-Scott. Katanya, antara lain inilah pemimpin yang mengilhami kepercayaan karena melakukan berbagai hal yang benar.

Pemimpin yang melakukan hal yang benar demi kemaslahatan publik, kemaslahatan rakyat banyak, tentu tidak takut untuk 'menabok' pembohong, pembuat, dan penyebab hoaks yang meracuni rakyat.

Menabok dengan tangan atau fisik bukan zamannya lagi. Ini zaman menabok dengan kata-kata, dengan kebernasan pikiran, dengan kebesaran hati, dan pada titik tertentu dengan penegakan hukum.

Tabokan paling berkhasiat dari pemimpin penakluk konteks tentulah keteladanan integritas dalam dirinya. Presiden yang bangga anaknya menjadi pedagang martabak kiranya pemimpin sederhana penakluk konteks yang mana pun di negeri ini.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.