Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SELEMBAR bendera dibakar dan orang ramai ikut ‘terbakar’. Yang membela dan yang mencela sama ramainya; yang marah dan yang istikamah sama-sama berargumen membela ad-diin. Iman tak pantang didiskusikan, tetapi sebuah dogma perlu dibincangkan dengan kecermatan dan kearifan.
Untunglah hari-hari perdebatan tentang bendera itu tak memanjang, tak kian menegang. Dialog lintas pihak lekas dihelat. Mereka bermufakat mencari solusi. Pihak pembakar dan pembawa bendera mengakui itu bendera HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Dalam konteks hukum juga itu bendera HTI, organisasi terlarang di negeri ini, terlarang di beberapa negara Timur Tengah.
Namun, mereka juga mengakui itu tulisan kalimat tauhid, tentang keesaan Allah SWT, yang mestinya tak dibakar sebab tauhid menyangkut iman dan ia membuat banyak umat tak nyaman. Mereka juga bersepakat bahwa benda yang dalam bahasa Sanskerta disebut duaja itu, rawan dimanfaatkan (ditunggangi) mereka yang suka ‘menyelam di air keruh’.
Dialog itu seperti diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, penuh kesadaran mencari kebenaran dengan semangat tabayun. Mereka bahagia karena terjadi kesepakatan bahwa dalam kasus pembakaran bendera ada kesalahpahaman. Sebuah kesalahpahaman sederhana saja solusinya, diluruskan dengan ‘kebenarpahaman’.
Menurut Calon Wakil Presiden KH Maruf Amin, HTI di Indonesia bukan ditolak, melainkan tertolak. Alasannya, sederhana, karena organisasi itu menyalahi kesepakatan (mukhalafatul mistsaq). Sementara itu, Indonesia ialah negara kesepakatan (darul mitsaq). Kesepakatan Indonesia adalah Pancasila yang merupakan titik temu aneka perbedaan (kalimatun sawa). HTI tak bersepakat tentang Pancasila!
Dialog itu sebuah peneguhan ukhuwah (persaudaraan). Penting kita selalu mengingat pesan ulama KH Ahmad Shiddiq, tentang ‘Trilogi Ukhuwah’; yakni ukhuwah islamiah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah/insaniah (persaudaraan umat manusia). Bukankah semangat ini pula termaktub dalam pembukaan konstitusi kita?
Dengan tiga semangat persaudaraan itulah semestinya bangsa ini lekas bisa mencari solusi setiap kita berselisih paham. Mekanisme sosial, personal, dan kultural kita otomatis bekerja, dan tak ada jalan buntu mestinya. Sayangnya, selama ini kita dibutakan oleh semangat kelompok pemilihan presiden dan alpa pada ‘nukleus’ ukhuwah. Seluruh kebesaran akan kearifan kita jadi melesap.
Tulisan kalimat tauhid pula yang tertempel di tembok kediaman Muhammad Rizieq Shihab (MRS) di Arab Saudi, negeri yang ia tinggali setahun terakhir itu karena dugaan pelanggaran hukum di dalam negeri. Pemimpin FPI itu sempat diperiksa polisi dan ditahan satu malam.
MRS pula ketika dalam keriuhan pembakaran bendera dari Arab Saudi dikabarkan memberi imbauan umat Islam di Indonesia agar memasang/mengibarkan bendera bertuliskan kalimat tauhid itu di rumah, pesantren, dan media sosial. Imbauan yang tak bijak.
Justru di Arab Saudi, negeri yang menerapkan hukum Islam, bendera serupa itu dilarang. Bisa dipahami, ia telah menjadi simbol organisasi terlarang, yang tentu dari kacamata negara punya potensi ancaman. Sebuah kalimat tauhid, sebaiknya memang tak dipasang di sembarang tempat yang punya potensi tak dimuliakan.
Tabayun (mencari kejelasan) telah dilakukan, keributan tentang bendera mestinya mereda. Mestinya jalan dialog dengan semangat ukhuwah, aneka persoalan lain termasuk soal ‘wajah Boyolali’ bisa disudahi. Jika aneka persoalan besar dan mendasar mampu disepakati oleh para pendiri bangsa di masa silam, kini kita mestinya kian mengukuhkannya.
Bangsa-bangsa lain berupaya menjawab tantangan di depan mata yang nyata, yakni big data (dengan analisis algoritmanya) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Bersiaplah mobil berpenumpang tanpa pengemudi. Uber, misalnya, akan memulai proyek ini.
Sementara itu, di tengah pertengkaran aneka persoalan, kita mendapati fakta nalar bermatematika siswa (SD hingga SLTA), berada di tahap gawat darurat. Bagaimana kita menatap dunia jika begini adanya?
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved