Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA pemimpin DPR menjadi pesakitan KPK. Mereka ialah Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan.
Setya Novanto tengah menjalani hukuman penjara. Taufik Kurniawan baru saja pekan lalu dimasukkan ke ruang tahanan sebagai tersangka.
Kiranya dua tokoh itu mewakili dua era besar dalam sejarah kepartaian mutakhir. Setya Novanto mewakili partai warisan orde otoriter, yaitu Partai Golkar, sedangkan Taufik Kurniawan mewakili partai yang lahir di era reformasi, yaitu Partai Amanat Nasional (PAN).
Mengatakan kedua tokoh itu mewakili partai dari dua era yang berbeda dan serentak dengan itu menyebut keduanya pesakitan KPK jelas bermaksud mengatakan bahwa belum lahir era baru yang bersih. Jangan-jangan sekarang korupsi lebih dahsyat dilakukan elite negara.
Salah satu temuan penting Global Corruption Barometer 2017 ialah penerima suap lebih banyak dilakukan mereka yang duduk di jabatannya sebagai hasil pemilihan. Setidaknya temuan itu berlaku untuk negeri ini. Mereka yang banyak ditangkap KPK ialah kepala daerah dan anggota legislatif yang menjadi pejabat publik karena dipilih rakyat.
Dipilih rakyat menunjukkan hadirnya demokrasi. Demokrasi macam apa? Bukan dari rakyat untuk rakyat, melainkan ujungnya dari rakyat untuk KPK. Itulah sekilas wajah demokrasi setelah kita hidup dalam era demokrasi yang lahir 'caesar' berkat reformasi.
Berbagai hasil survei yang saya baca menunjukkan satu perkara yang penting. Rakyat yang toleran terhadap politik uang kebanyakan (bahkan sampai 60%) tetap memilih berdasarkan hati nurani. Uang diterima, rakyat menunaikan hak konstitusionalnya sesuai hati nuraninya, selebihnya dan selanjutnya diserahkan kepada hati nurani orang yang terpilih untuk amanah atau tidak setelah mengeluarkan money politics.
Demikianlah pertanggungjawaban moral politik diserahkan sepenuhnya kepada elite terpilih. Rakyat percaya benar bahwa elite terpilih berpengetahuan mana yang baik dan mana yang buruk.
Bukan hanya berpengetahuan, mereka juga punya kebebasan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Kesimpulan yang memprihatinkan ialah ternyata elite hasil pilihan rakyat gagal menggunakan pengetahuan dan kebebasan mereka untuk memilih mana yang baik dan menyingkirkan mana yang buruk secara konsisten. Kenapa?
Jawabannya pada karakter elite sebagai person. Karakter tidak tumbuh dari ruang dalam dirinya, tetapi dari luar diri, karena itu lembek menghadapi pergumulan materi. Lihatlah betapa mudah KPK menangkap mereka.
Apakah rakyat menyesal atas pilihannya? Hemat saya rakyat tidak menyesali pilihannya. Rakyat malah bersyukur mereka yang terpilih untuk berkuasa ternyata berkarakter lembek tidak amanah. Ditangkap KPK ganjarannya!
Demokrasi (termasuk yang lahir caesar) bertujuan memilih elite yang berkuasa. Bukan sebaliknya, elite yang amanah. Pernyataan itu tidak enak didengar, tapi perlu diperdengarkan bahwa berkuasa dihadirkan lebih dulu daripada amanah. Bahwa yang berkuasa ternyata amanah kiranya keberuntungan tersendiri.
Tentu saja kekuasaan negara tidak boleh diserahkan atas dasar amanah sebagai keberuntungan. Harus ada sistem untuk menumbuhkan kekuasaan yang amanah dan mekanisme checks and balances untuk mengawasinya.
Merupakan keprihatinan bangsa amanah yang diemban elite yang berkuasa tidak bertumbuh sehebat tumbuhnya demokrasi. Demokrasi kita mulanya memang lahir berkat operasi caesar (reformasi), tetapi mestinya tumbuh dewasa setelah 20 tahun, yaitu berkemampuan menghasilkan lebih banyak elite yang berkuasa dan amanah. Bukan malah yang tumbuh hebat ketangkasan KPK menangkap elite yang menyalahgunakan kekuasaan.
Jalan sejarah yang mencong perlu diluruskan. Kiranya pada pemilu mendatang demokrasi hasil caesar mampu menghasilkan elite politik yang berintegritas, yang punya dignity, yang karakternya tumbuh dari ruang dalam dirinya sehingga berkuranglah 'kerjaan' KPK.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved