Data Baru BPS

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
27/10/2018 05:10
Data Baru BPS
()

SUDAH lama Forum Masyarakat Statistik mempersoalkan data-data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik. Termasuk di dalamnya ialah data mengenai pertanian. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof Mohammad Arsjad Anwar merupakan salah seorang yang paling gencar menggugat kesahihan data yang dirilis BPS. Apalagi ia dikenal kuat mengaitkan data statistik dengan ekonomi.

Mengapa gugatan itu harus disampaikan? Karena data itu menjadi dasar mengambil kebijakan. Kalau data yang dipakai akurat, pasti kebijakannya akan sesuai dengan yang diharapkan. Sebaliknya, kalau datanya menyesatkan, pasti kebijakannya akan menjadi tidak bermanfaat.

Kita lihat data pertanian yang ada selama ini. Kepala daerah sering mengeluhkan soal alih fungsi lahan yang tidak bisa dicegah. Namun, data yang dikeluarkan Kementerian Pertanian menunjukkan lahan pertanian terus bertambah dan akibatnya produksi selalu diproyeksikan meningkat.

Kejanggalan sering terjadi ketika kita hendak menghadapi Lebaran atau musim kemarau. Tiba-tiba beras yang dibutuhkan masyarakat tidak ada dan harganya meningkat. Sesuatu yang berlawanan dengan hukum ekonomi ketika harga meningkat justru di tengah produksi yang melimpah.

Pertanyaannya, mengapa basis data itu tidak kunjung diperbaiki? Ternyata semua khawatir terhadap konsekuensi hukum yang akan terjadi. Kalau data itu diperbaiki dan hasilnya ternyata di bawah data yang ada sekarang, akan muncul dugaan korupsi.

Kita tahu setiap tahun negara menganggarkan subsidi kepada petani, mulai subsidi bibit sampai subsidi pupuk. Besaran subsidi itu dihitung atas luasan lahan sawah yang ada. Kalau ternyata jumlah subsidi lebih besar daripada luasan yang sebenarnya, berarti ada kebocoran subsidi.

Bayangkan kebocoran itu sudah berlangsung lebih dari 20 tahun. Kita bisa bayangkan akan seperti apa dampaknya, kalau kasus kebocoran itu diungkap. Itulah yang membuat kita tidak pernah berani untuk melakukan perbaikan data. Kita menerima saja data itu, meski dengan penyimpangan yang sangat besar.

Tahun ini pemerintah tidak lagi membiarkan kesalahan itu berlanjut. Apalagi BPS sejak dua tahun terakhir tidak pernah mau menetapkan angka ramalan produksi beras. BPS sebagai pihak yang bertanggung jawab atas validitas data tidak mau lagi ikut menerapkan data tanpa dasar yang jelas.

BPS diberikan waktu sekitar delapan bulan untuk memperbaiki metode pengukuran luasan lahan sawah yang ada. Kali ini pengukuran tidak lagi didasarkan perkiraan penglihatan mantri pertanian, tetapi menggunakan citra satelit. Hasilnya terungkap bahwa terjadi penurunan luasan lahan sawah yang ada dari sekitar 7,75 juta hektare pada 2013 menjadi 7,1 juta hektare sekarang atau terjadi kehilangan lahan sawah sekitar 650 ribu hektare dalam lima tahun terakhir.

Presiden Joko Widodo sudah menegaskan, mulai sekarang perhitungan subsidi sampai produksi harus berdasarkan data terakhir BPS ini. Mulai tahun depan harapannya besaran subsidi yang dialokasikan akan lebih bisa dipertanggungjawabkan, demikian juga perkiraan produksi bisa lebih jelas.

Kalau kita ingin mencapai swasembada beras atau pangan, ke depan tinggal tergantung intervensi tekonologi untuk meningkatkan produktivitas. Kita tidak bisa lagi mengarang-ngarang angka produksi tanpa ada inovasi dalam budi daya tanaman maupun penanganan pascapanen.

Dengan dasar yang lebih jelas tentu pertanian tidak lagi bisa digoreng untuk kepentingan politik. Selama ini bisa saja angka dibesar-besarkan untuk menyudutkan pemerintah bahwa ada renten yang diambil dari impor pangan. Atau sebaliknya dikecil-kecilkan untuk pembenaran dilakukan impor.

Sebagai sektor yang berkaitan dengan kehidupan banyak orang, tidak seharusnya pertanian dijadikan komoditas politik. Cukup sudah perang kata-kata sekadar untuk menunjukkan dirinya lebih hebat. Petani jangan hanya sekadar dijadikan obyek, tetapi juga harus menjadi pelaku dari pembangunan bangsa dan negara ini.

Memang seperti yang dikhawatirkan, mulai ada permintaan agar penyelewengan subsidi yang pernah terjadi diusut tuntas. Akan terlalu banyak energi yang terkuras apabila kita ingin melihat ke belakang. Kita tidak tahu akan sejauh mana pengusutan harus dilakukan. Jangan-jangan kalau pun terungkap, pelakunya sudah tidak ada lagi.

Lebih baik kita berkonsentrasi membangun pertanian ke depan. Apa yang sudah terjadi menjadi pembelajaran bagi kita tentang pentingnya memiliki data yang valid untuk membuat kebijakan. Kita tidak boleh lagi mengulangi kesalahan yang sama, apalagi sekarang tersedia teknologi untuk memperkecil kesalahan pengumpulan data.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.