Khashoggi, Martir Demokrasi Saudi?

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
23/10/2018 05:30
Khashoggi, Martir Demokrasi Saudi?
()

ARAB Saudi kini mulai menuai kecaman dunia, bahkan pengucilan. Banyak peserta, khususnya dari negara-negara Barat, batal hadir di konferensi investasi yang dihelat pekan depan. Suara-suara yang selama ini jadi sekutu juga mulai mengutuk. Ini karena kematian jurnalis Jamal Khashoggi yang diduga dibunuh secara sadis oleh para ‘algojo negara’.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berhari-hari ‘bersuara datar’ atas kematian itu mulai meninggi. Jurnalis berusia 59 tahun itu dihabisi ketika mengurus surat-surat untuk keperluan pernikahannya di kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, 2 Oktober lalu. Ia memang hendak menikahi perempuan Turki.

Saudi semula bersiteguh sang jurnalis telah keluar kompleks konsulat. Sementara itu, aparat Turki berkukuh Khashoggi mati di dalam kompleks konsulat. Ada dugaan 15 algojo datang khusus dari Saudi menghabisi Khashoggi. Mayatnya dipotong-potong dengan gergaji tulang. <i>Al Jazeera<p> melaporkan Khashoggi mati dimutilasi hanya dalam 7 menit.

Fakta hari itu, beberapa jam sebelum pembunuhan, sebuah pesawat jet bisnis Gulfstream IV HZ-SK2 dari Saudi mendarat di Bandara Ataturk, Istanbul. Jaringan TV milik negara, Al Arabiya, mengklaim 15 warga itu Saudi ialah turis. Saudi akhirnya mengakui pembunuhan tersebut terjadi di dalam kompleks konsulat setelah Menlu AS Mike Pompe bertemu Raja Salman.

Pompe bahkan bilang Saudi membuat tim untuk penyelidikan. Namun, syak wasangka dunia telah membuncah dan ketidakpercayaan kian menguat. Bahwa ada dugaan Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman (MBS) terlibat. Pangeran muda zalim, itu tuduhannya. Khashoggi memang nyaring menyuarakan reformasi politik negerinya; puluhan intelektual, aktivis, ulama, yang menuntut demokratisasi, penegakkan HAM, telah pula ditangkap penguasa. Ia menyadari negerinya bukan tempat aman bagi suara berbeda. Sejak tahun lalu, ia pun tinggal di Amerika Serikat, menjadi kolumnis The Washington Post.

MBS juga kini aktor utama Visi Arab Saudi 2030. Visi yang lahir lantaran minyak tak lagi segalanya karena harganya jatuh di titik nadir. Di Saudi minyak memang menyumbang sedikitnya 70% APBN. Negeri yang kini berpenduduk 28,5 juta jiwa itu pun harus mencari aneka terobosan investasi.

Genderang perang terhadap korupsi pun ditabuh. Tahun lalu ia menahan belasan pangeran dan pejabat penting, juga Pangeran Alwaleed bin Talal, miliuner paling tajir di Saudi. Namun, ada dugaan ia ditahan karena tak sudi ikut membiayai megaproyek MBS, kota supermodern Neom atau Neo Mustaqbal (Masa Depan Baru) yang berbiaya US$500 miliar.

Neom berlokasi di barat laut Saudi, berbatasan dengan Yordania dan Mesir,  di atas tanah seluas 26 ribu km persegi. Kota yang akan berbasis teknologi itu menjadi pusat keuangan modern dengan hukum dan UU tersendiri, yang terpisah dari Saudi.

Kita tahu kini di Saudi konser musik kian kerap digelar, gedung bioskop tak lagi tabu, perempuan tak lagi terlarang menyetir kendaraan, gaun abaya tak lagi harus berwarna hitam, dan puluhan mahasiswi dikirim studi ke negeri-negeri Barat. Ini bagian dari persiapan menyambut modernisasi negeri kaya minyak itu.

Modernitas dan kampanye Islam moderat memang tengah dipromosikan MBS, tapi membungkam suara kritis terus-menerus jelas jadi malapetaka. Proses reformasi tidak akan mencapai hasil maksimal tanpa reformasi bidang politik. Ini postulat umum saja, begitu modernitas dicanangkan, suara-suara berbeda harus dikelola. Bukan dihabisi.

Dunia menunggu kejelasan siapa pembunuh Khashoggi dan hukum seperti apa bakal dikenakan. Jika MBS terlibat, akankah hukum tegak lurus bekerja? Ia sosok muda (32 tahun) yang sia-sia. Muda, tapi zalim. Mempromosikan modernisasi, tapi lakunya serupa penguasa lalim zaman lama.

Khashoggi memang telah mati, tetapi semangatnya akan tetap hidup. Jangan-jangan inilah martir, pupuk bagi berseminya demokrasi dan tentu transparansi di Saudi. Beruntunglah Indonesia, masa-masa penguasa zalim, penghilangan paksa manusia, telah kita lewati.

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima