Susi Vs Sandi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
19/10/2018 05:10
Susi Vs Sandi
()

"JADI jangan asal ngomong dulu. Belajar dan baca dulu Undang-Undang Perikanan, baru komentar. Saya tidak suka sektor riil seperti ini dibawa ke ranah politik. Mestinya politikus itu kalau mau buat komentar harus banyak riset dulu."

Itu pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang ditujukan kepada calon wakil presiden dengan nomor urut 2, Sandiaga Salahuddin Uno. Dalam kunjungannya ke Indramayu, Jawa Barat, di tempat pelelangan ikan Karangsong, ia menerima keluhan dari para nelayan tentang sulitnya melaut karena rumitnya mengurus surat izin penangkapan ikan.

Sandi pun berjanji jika nanti pada Pemilu 2019, ia dan calon presiden Prabowo Subianto terpilih, akan memakmurkan dan menyejahterakan nelayan. "Prabowo-Sandi tidak akan melupakan jasa nelayan. Proses perizinan ini akan saya pangkas birokrasinya," ujar Sandi.

Menurut Sandi, kunjungannya ke Indramayu sekaligus tapak tilas di desa orangtuanya. Ibunda Sandi, Rachmini Rachman (Mien Uno), lahir di Penganjang, Sindang, Indramayu. Wajar memang di daerah orangtuanya, Sandi antusias berucap janji akan memangkas birokrasi.

Keluhan nelayan dan janji Sandi itulah yang kemudian viral di media sosial dan memancing amarah Susi. Sejak November 2014, kata sang menteri, pihaknya sudah membebaskan seluruh nelayan dengan kapal di bawah 10 GT (gross tonnage) dari izin penangkapan ikan. Sementara itu, yang harus mengurus izin ialah mereka yang memiliki kapal dengan ukuran di atas 10 GT-100 GT.

Susi menjelaskan lagi, kapal berukuran 10 GT-30 GT, mengurus izinnya di pemerintah provinsi. Sementara itu, kapal di atas 30 GT mengurus izinnya ke pemerintah pusat. Alasannya, karena banyak laporan tidak sesuai antara kapal yang dilaporkan dan kenyataan di lapangan. Akibatnya, negara tak menerima pajak dari kapal-kapal besar ini.

Namun, Sandi santai menjawab amarah Susi. Ia meminta waktu untuk menjelaskan. "Bu Susi besok ya. Nanti kita bicarakan, selama saya belum ditenggelamkan nanti saja," singkat Sandiaga sambil bergurau. Sesungguhnya jika menggunakan terminologi post truth tak penting benar jawaban itu. Yang penting pernyataan telah diproduksi dan telah membangun opini.

Dalam konteks kerja politik Sandi memang calon wakil presiden yang teramat aktif. Tak saja dalam memberikan pernyataan, tetapi juga melakukan kunjungan. Pernyataan tentang tempe setipis ATM, nasi-ayam di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura, dan uang Rp100 hanya dapat bawang dan cabai, memang sengaja diucapkan untuk memberi kesan betapa sulitnya kehidupan rakyat di era Jokowi. Lagi-lagi tak penting benar faktanya.

Namun, di luar makna yang tersurat, ia memang tengah memproduksi kontroversi. Terbukti ucapannya selalu menjadi bahan diskusi dan perdebatan berhari-hari. Ia memang tengah memanfaatkan secara maksimal era post truth itu, bahwa fakta tak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik jika dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal.

Benarlah kata politikus Partai Demokrat Andi Arief, bahwa Sandi lebih aktif melakukan kerja politik jika dibandingkan dengan calon presidennya sendiri, Prabowo Subianto. Ia mengkritik Prabowo terkesan kurang serius menjadi presiden sebab mobilitasnya masih sangat kurang untuk keliling Indonesia.

Memasuki masa kampanye Pemilu 2019 ini, publik memang belum mendapatkan inspirasi dari para polikus kita, kecuali sejumlah kontroversi. Sayang, jika hajat politik yang penting dan mahal ini, ada yang berupaya mengadopsi cara kampanye Donald Trump yang terpilih menjadi Presiden Amerika pada 2016 dengan meninggalkan 'sejumlah luka'.

Itulah tahun ketika Kamus Oxford menjadikan post truth sebagai Word of the Year. Tahun yang merujuk terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat dan keluarnya Inggris dari Brexit. Trump menggunakan politik identitas secara over dosis dan hoaks pun bersimaharajalela menghajar lawan politiknya. Luka itu hingga kini masih amat terasa.

Asing dimaki, asing diadopsi. Dicampakkanlah konsistensi.*



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.