Ability

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
10/10/2018 05:30
Ability
()

BULAN Kurnia Rudianti sungguh luar biasa. Penyandang diabilitas sejak lahir tidak memiliki kedua kakinya. Namun, Sabtu (6/10) lalu di acara Pembukaan Asian Para Games 2018, Bulan memberikan pesan yang luar biasa. Kepada Presiden Joko Widodo, ia memberikan sebuah kotak yang ketika dibuka tertera tulisan 'Ability'.

Terutama kepada kita sebagai bangsa, pesan itu sangat berarti. Begitu mudah mengatakan, ”Tidak mampu.” Kita begitu mudah untuk menyerah. Seakan-akan kita tidak mempunyai daya untuk membuat sesuatu yang berarti.

Lihat saja sikap kita menyusul bencana tsunami yang melanda Sulawesi Tengah. Ada yang meminta kita untuk tidak melakukan aktivitas yang lain kecuali menangani bencana. Tentu korban bencana tsunami harus kita rawat dan pulihkan. Namun, kegiatan menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia harus tetap kita bisa tuntaskan.

Sikap kita harus seperti Bulan. Dengan segala keterbatasannya, ia tidak mau menyerah dengan keadaan. Ia tetap berupaya menunjukkan bahwa ia mampu memberikan yang terbaik bagi negeri ini.

Kita harus menunjukkan diri sebagai bangsa yang mempunyai kemampuan. Tidak boleh ada kata 'tidak bisa'. Kita harus bisa untuk menjawab segala tantangan yang menghadang. Selalu mampu bangkit dari berbagai kesulitan yang datang.

Termasuk di dalam menghadapi pelemahan rupiah sekarang ini. Pelemahan itu terjadi karena dolar yang masuk lebih sedikit daripada dolar yang keluar. Devisa hasil ekspor tidak mampu menutup besarnya aliran dana portofolio yang sekarang arusnya sedang kembali ke Amerika Serikat.

Semua itu merupakan akibat tidak pernahnya kita memperbaiki fundamen ekonomi sejak Orde Baru. Kita tidak pernah membangun industri yang punya nilai tambah tinggi. Satu-satunya andalan ekspor kita sekarang ini hanyalah kelapa sawit.

Selebihnya kita sangat bergantung kepada impor. Bahkan bukan hanya untuk pangan, pakan pun harus kita impor. Lihat saja konsumsi ayam goreng yang meningkat karena naiknya kelas menengah kita. Ketika mereka mau mengonsumsi ayam goreng, ternyata parent stock untuk menghasilkan anak ayam umur sehari (days old chick) masih harus kita impor.

Jagung, bungkil kedelai, dan bungkil ikan untuk pakan ayam sebelum dikonsumsi sebagian besar harus kita impor. Ketika akan digoreng, terigu yang dipakai dibuat dari gandum yang juga masih harus diimpor.

Permintaan dolar AS yang tinggi untuk impor itulah yang membuat nilai tukar rupiah menjadi tertekan. Belum lagi impor minyak mentah oleh Pertamina yang setiap hari membutuhkan minimal 800 ribu barel. Kalau harga minyak mentah sekarang  US$80 per barel, sehari Pertamina membutuhkan US$64 juta, setahun sudah US$1,92 miliar.

Mari kita bandingkan dengan Thailand yang nilai tukarnya tidak terlalu terpengaruh oleh arus balik dolar AS ke rumahnya. Mengapa itu bisa terjadi? Thailand sejak lama menetapkan dirinya sebagai 'Detroit Asia Tenggara'. Mereka membuka diri sebagai basis produksi mobil Jepang.

Memang barang impornya tinggi, tetapi produksi mobilnya diekspor keluar dan menghasilkan devisa yang lebih tinggi. Belum industri komponen mobil yang berkembang pesat di 'Negeri Gajah Putih' itu.

Devisa yang masuk Thailand lebih besar daripada dolar AS yang keluar karena jumlah wisatawan yang datang ke negeri itu pun luar biasa jumlahnya. Tahun lalu turis yang datang mencapai 35 juta orang. Dengan ekspor otomotif dan pariwisata saja, Thailand bisa aman dari gejolak ekonomi dunia.

Kita akan terus menghadapi tekanan nilai tukar kalau tidak membenahi fundamen ekonomi kita. Dalam jangka pendek yang harus dilakukan ialah mengamankan industri kelapa sawit dari kampanye-kampanye negatif. Kita harus menjaga mati-matian karena inilah andalan satu-satunya untuk mendapatkan devisa.

Kedua, pemerintah harus menekan impor minyak mentah karena itulah komoditas yang paling besar menyedot devisa. Kebijakan B-20 harus benar-benar bisa diimplementasikan. Pemerintah harus berani melawan mafia minyak yang bermanuver dengan segala cara untuk membuat ketergantungan kita kepada minyak mentah jangan sampai berkurang.

Ketiga, pilih dua-tiga industri yang akan menjadi unggulan dan bisa menghasilkan devisa besar. Salah satunya yang paling cepat ialah pariwisata. Jumlah wisatawan mancanegara yang belum juga menembus 20 juta menunjukkan kita belum sungguh-sungguh menggarap sektor itu.

Solusi itu sebenarnya bukan hal yang baru. Hanya, kita tidak pernah menuntaskan pekerjaan rumah itu. Kita hanya saling menyalahkan ketika menghadapi tekanan global dan nilai tukar rupiah tertekan.

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima