Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BULAN Kurnia Rudianti sungguh luar biasa. Penyandang diabilitas sejak lahir tidak memiliki kedua kakinya. Namun, Sabtu (6/10) lalu di acara Pembukaan Asian Para Games 2018, Bulan memberikan pesan yang luar biasa. Kepada Presiden Joko Widodo, ia memberikan sebuah kotak yang ketika dibuka tertera tulisan 'Ability'.
Terutama kepada kita sebagai bangsa, pesan itu sangat berarti. Begitu mudah mengatakan, ”Tidak mampu.” Kita begitu mudah untuk menyerah. Seakan-akan kita tidak mempunyai daya untuk membuat sesuatu yang berarti.
Lihat saja sikap kita menyusul bencana tsunami yang melanda Sulawesi Tengah. Ada yang meminta kita untuk tidak melakukan aktivitas yang lain kecuali menangani bencana. Tentu korban bencana tsunami harus kita rawat dan pulihkan. Namun, kegiatan menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia harus tetap kita bisa tuntaskan.
Sikap kita harus seperti Bulan. Dengan segala keterbatasannya, ia tidak mau menyerah dengan keadaan. Ia tetap berupaya menunjukkan bahwa ia mampu memberikan yang terbaik bagi negeri ini.
Kita harus menunjukkan diri sebagai bangsa yang mempunyai kemampuan. Tidak boleh ada kata 'tidak bisa'. Kita harus bisa untuk menjawab segala tantangan yang menghadang. Selalu mampu bangkit dari berbagai kesulitan yang datang.
Termasuk di dalam menghadapi pelemahan rupiah sekarang ini. Pelemahan itu terjadi karena dolar yang masuk lebih sedikit daripada dolar yang keluar. Devisa hasil ekspor tidak mampu menutup besarnya aliran dana portofolio yang sekarang arusnya sedang kembali ke Amerika Serikat.
Semua itu merupakan akibat tidak pernahnya kita memperbaiki fundamen ekonomi sejak Orde Baru. Kita tidak pernah membangun industri yang punya nilai tambah tinggi. Satu-satunya andalan ekspor kita sekarang ini hanyalah kelapa sawit.
Selebihnya kita sangat bergantung kepada impor. Bahkan bukan hanya untuk pangan, pakan pun harus kita impor. Lihat saja konsumsi ayam goreng yang meningkat karena naiknya kelas menengah kita. Ketika mereka mau mengonsumsi ayam goreng, ternyata parent stock untuk menghasilkan anak ayam umur sehari (days old chick) masih harus kita impor.
Jagung, bungkil kedelai, dan bungkil ikan untuk pakan ayam sebelum dikonsumsi sebagian besar harus kita impor. Ketika akan digoreng, terigu yang dipakai dibuat dari gandum yang juga masih harus diimpor.
Permintaan dolar AS yang tinggi untuk impor itulah yang membuat nilai tukar rupiah menjadi tertekan. Belum lagi impor minyak mentah oleh Pertamina yang setiap hari membutuhkan minimal 800 ribu barel. Kalau harga minyak mentah sekarang US$80 per barel, sehari Pertamina membutuhkan US$64 juta, setahun sudah US$1,92 miliar.
Mari kita bandingkan dengan Thailand yang nilai tukarnya tidak terlalu terpengaruh oleh arus balik dolar AS ke rumahnya. Mengapa itu bisa terjadi? Thailand sejak lama menetapkan dirinya sebagai 'Detroit Asia Tenggara'. Mereka membuka diri sebagai basis produksi mobil Jepang.
Memang barang impornya tinggi, tetapi produksi mobilnya diekspor keluar dan menghasilkan devisa yang lebih tinggi. Belum industri komponen mobil yang berkembang pesat di 'Negeri Gajah Putih' itu.
Devisa yang masuk Thailand lebih besar daripada dolar AS yang keluar karena jumlah wisatawan yang datang ke negeri itu pun luar biasa jumlahnya. Tahun lalu turis yang datang mencapai 35 juta orang. Dengan ekspor otomotif dan pariwisata saja, Thailand bisa aman dari gejolak ekonomi dunia.
Kita akan terus menghadapi tekanan nilai tukar kalau tidak membenahi fundamen ekonomi kita. Dalam jangka pendek yang harus dilakukan ialah mengamankan industri kelapa sawit dari kampanye-kampanye negatif. Kita harus menjaga mati-matian karena inilah andalan satu-satunya untuk mendapatkan devisa.
Kedua, pemerintah harus menekan impor minyak mentah karena itulah komoditas yang paling besar menyedot devisa. Kebijakan B-20 harus benar-benar bisa diimplementasikan. Pemerintah harus berani melawan mafia minyak yang bermanuver dengan segala cara untuk membuat ketergantungan kita kepada minyak mentah jangan sampai berkurang.
Ketiga, pilih dua-tiga industri yang akan menjadi unggulan dan bisa menghasilkan devisa besar. Salah satunya yang paling cepat ialah pariwisata. Jumlah wisatawan mancanegara yang belum juga menembus 20 juta menunjukkan kita belum sungguh-sungguh menggarap sektor itu.
Solusi itu sebenarnya bukan hal yang baru. Hanya, kita tidak pernah menuntaskan pekerjaan rumah itu. Kita hanya saling menyalahkan ketika menghadapi tekanan global dan nilai tukar rupiah tertekan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved