Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AMERIKA Serikat terus memberikan tekanan kepada perekonomian global. Pidato Presiden Donald Trump di depan Sidang Umum PBB dengan menyerang secara terbuka Iran, Suriah, dan Tiongkok memunculkan ketegangan baru. Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Jerome Powell mengumumkan langkah untuk membawa perekonomian AS kembali ke titik normal dengan menaikkan tingkat suku bunga dana federal 0,25% menjadi 2,25%.
Bank Sentral AS bahkan memberikan sinyal, kenaikan tingkat suku bunga acuan akan terus dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan ekonomi AS ke arah yang benar. Sampai akhir Desember nanti tingkat suku bunga acuan diperkirakan akan naik menjadi 2,5%. Tahun depan Federal Fund Rate diperkirakan akan dinaikkan menjadi 3% dan 2020 menjadi 3,5%.
Langkah Bank Sentral AS itu membuat dolar mengalir kembali 'ke rumahnya'. Apalagi Presiden Trump sudah menurunkan pajak korporasi dari 25% menjadi 21%, sehingga membuat AS menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi.
Bagi Indonesia yang sedang gencar mencari investor, kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Tidak tanggung-tanggung pesaing dalam menarik investasi ialah AS. Kita harus bisa menciptakan kondisi yang jauh lebih menarik untuk membuat para pemilik modal mau berinvestasi di Indonesia.
Inilah tantangan yang harus bisa kita jawab. Sejauh ini belum ada kebijakan investasi yang baru dan benar-benar merupakan terobosan besar. Kita baru bisa menawarkan pelayanan perizinan satu pintu. Kenyataannya investor tetap kesulitan untuk memulai bisnis, apalagi dengan kebijakan yang sering berubah-ubah.
Contoh paling nyata yakni pengembangan kawasan industri Kendal. Kawasan ini diresmikan bersama Presiden Joko Widodo dan PM Singapura Lee Hsien Loong pada 2016. Hingga sekarang pengusaha Singapura masih ragu untuk memanfaatkan kawasan industri seluas 2.700 hektare bagi kegiatan investasi mereka.
Kita tentu perlu mencari tahu mengapa investor masih ragu untuk merealisasikan bisnisnya. Memang ada kekhawatiran terhadap sikap xenofobia yang kadang kita pertontonkan. Kalau itu menjadi hambatan, tentu harus ada kompensasi lain yang diberikan agar para investor yakin menanamkan modalnya di Indonesia.
Langkah terobosan itu tentu harus dikaitkan dengan arah besar kebijakan pembangunan yang hendak kita lakukan. Ada pemikiran misalnya, kita membutuhkan investasi padat karya untuk mengurangi angka pengangguran. Pemerintah seharusnya berani untuk memberikan insentif khusus kepada perusahaan yang bisa memperkerjakan lebih dari 10 ribu tenaga kerja.
Apa misalnya insentif yang bisa diberikan? Perusahaan yang berorientasi ekspor dan padat karya mendapatkan pengembalian pajak. Apabila perusahaan harus membayar pajak badan 25%, untuk perusahaan yang berorientasi ekspor dan memperkerjakan lebih dari 10 ribu pegawai dikembalikan pajaknya 5% atau 10%.
Keberanian seperti ini perlu dilakukan karena kita bersaing dengan negara lain dalam menarik investor. Pemerintah tidak perlu takut kehilangan penerimaan pajak karena kalau Indonesia menjadi negara yang menarik untuk investasi akan banyak perusahaan masuk Indonesia dan otomatis akan bertambah jumlah perusahaan yang akan membayar pajak.
Sekarang ini kita hanya menggunakan instrumen moneter untuk menjawab ketidakpastian global. Bank Indonesia terpaksa menaikkan 7-days reverse repo rate 0,25% menjadi 5,75% untuk menjawab langkah yang dilakukan Bank Sentral AS. Pertanyaannya, akan seberapa tinggi tingkat suku bunga yang akan kita terapkan untuk menjaga jangan sampai arus modal ke luar Indonesia dan nilai tukar rupiah tidak terus tertekan?
Jangan lupa semakin tinggi tingkat suku bunga akan membuat orang malas berinvestasi. Dengan beban bunga yang semakin tinggi, potensi gagal dalam berbisnis pun semakin besar. Salah-salah kredit bermasalah akan memukul sektor perbankan sendiri.
Sekarang ini memang kondisi perbankan masih sehat. Rasio kecukupan modal perbankan masih di atas 20%. Kredit bermasalah di bawah 3%. Sementara tingkat penyaluran kredit di atas 10%.
Namun, pembalikan itu bisa terjadi secara cepat kalau kita tidak pandai mengelola perekonomian. Apalagi ada satu lagi bom waktu yang bisa menyulitkan kita, yakni harga minyak dunia. Sekarang ini harga minyak sudah melewati US$80 per barel dan diperkirakan akan mencapai US$100 per barel.
Badai itu belum berlalu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah AS mengenakan sanksi ekonomi secara sepihak kepada Iran mulai 5 November. Kita harus mengencangkan sabuk keselamatan agar perekonomian kita tidak terguncang hebat.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved