Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
"SIAPA yang paling Anda benci?"
"Orang Kroasia, polisi, tak ada bedanya. Akan kuhabisi mereka semua."
"Metode yang paling Anda sukai untuk memukuli orang?"
"Potongan besi, tendangan khusus untuk mematahkan tungkai ketika si orang itu lengah."
Itulah sepenggal percakapan antara Franklin Foer dan Krle. Foer ialah penulis buku Memahami Sepak Bola (2006) dan Krle salah satu hooligan terkemuka klub Red Star Beograd asal Serbia. Kaum hooligan klub Red Star itu menamakan diri Utra Bad Boys. Namun, jangan kaget, para suporter beringas ini justru mendapat tempat terhormat di klub.
Red Star bukan klub guram Serbia. Ia juara Piala Champions 1991, penghargaan paling bergengsi kompetisi klub Eropa. Namun, begitulah cara klub ini membesarkan diri; memelihara para hooligan--diambil dari perusuh Irlandia bernama Patrick Hooligan. Mereka mendapat upah rutin dari klub. Mereka hobi menebar maut.
Seteru utama Red Star ialah Dinamo Zagreb, Kroasia. Dendam Serbia dan Kroasia memang tertutupi selama Yugoslavia dipimpin Marsekal Yosip Broz Tito. Namun, sesungguhnya perang tak pernah usai. Setiap Red Star dan Dinamo bersua, pertempuran di luar perebutan si kulit bundar sejatinya dimulai. Para hooligan beraksi, juga di beberapa klub Eropa. Itu dulu ketika mereka masih memelihara suporter beringas.
Di zaman ini keberingasan suporter sepak bola justru masih hidup dan bertumbuh di Indonesia. Tewasnya seorang suporter Persija, Haringga Sirila, yang dibunuh secara sadis di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Ahad lalu, kian membuktikan suporter kedua kesebelasan ini tetap memelihara dendam yang siap diledakkan pada waktu yang tepat. Ia hanya contoh dari sekian banyak kasus.
Haringga dikeroyok di tengah orang ramai, dihajar dengan balok, benda-benda keras, berkali-kali. Peristiwa itu terjadi 3 jam sebelum pertandingan kedua kesebelasan dimulai. Persib memenangi laga 3-2. Ada yang bersyakwasangka, bagaimana jika tim 'Maung Bandung' itu kalah?
Sejak 2012 telah tujuh suporter kedua belah pihak tewas, umumnya karena vandalisme suporter. Namun, tak ada tindakan tegas PSSI. Paling hukumannya membayar denda, pertandingan di tempat netral, dan tanpa suporter. Hanya itu. Sementara nyawa suporter yang merupakan 'pemain' ke ke-12, aspek vital industri sepak bola, dibiarkan mati berkali-kali.
Itu baru dua kesebelasan. Sejak 1995 hingga kini sedikitnya 67 suporter meninggal, umumnya dikeroyok, dihajar dengan benda-benda tajam. Sepak bola nasional sudah terlalu banyak dilumuri darah para suporternya. Rasa prihatin, penyesalan, hingga kutukan sudah berkali-kali dialamatkan kepada para pelaku kekerasan. Namun, tak ada tanda-tanda keberingasan yang membawa maut dihentikan.
Perkabungan demi perkabungan seperti dukacita yang diabadikan. Sepak bola sebagai hiburan rakyat, yang bermoto solidaritas dan persahabatan, telah menjelma menjadi ajang baku bunuh bagi sebagian penonton yang hatinya digelapkan selubung kebencian.
Bayangkan, setelah begitu banyak kematian, PSSI baru akan membuat aturan agar baku-bunuh para suporter tidak terjadi. Nantinya aturan itu akan menjadi pegangan Komisi Disiplin dan Komisi Banding PSSI. Namun, cara kerja seperti ini, yang baru akan bergerak setelah begitu banyak darah suporter tumpah, harus dikawal. Biasanya lesap begitu saja.
Olahraga, terutama setelah Asian Games, tengah menjadi oasis di tengah perseteruan politik yang tajam dan banal. Dalam politik, kebencian dan informasi hoaks diproduksi berkali-kali. Padahal, kita tengah dibangkitkan semangatnya setelah Asian Games, juga setelah timnas usia 16 menjadi juara AFF. Kita juga tengah bangga dengan Anthony Ginting yang baru saja menjadi juara China Open dengan mengalahkan para pemain elite dunia.
Olahraga yang penuh nilai-nilai sportivitas sesungguhnya tengah menjadi inspirasi dalam kehidupan kita. Terutama dalam dunia politik yang kerih dan gaduh. Dalam sepak bola, kalaupun ada teror, itu menyasar untuk menjatuhkan mental lawan bukan fisik.
Para pelaku kekerasan telah mencemari para penonton sejati, yang benar-benar mencintai sepak bola. Sayang, jika oasis itu dikeruhkan darah sebagian penontonnya.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved