Ulama Jawi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
21/9/2018 05:30
Ulama Jawi
()

DI masa kolonial ada istilah 'ulama Jawi'. Ia merujuk mereka yang belajar agama Islam berasal dari Asia Tenggara (terutama dari Indonesia).

Mereka menuntut ilmu di kuttab (lembaga pendidikan dasar) dan halakah (lembaga pendidikan lanjutan dan tinggi) di Mekah dan Madinah. Kata 'Jawi' memang merujuk pada kata 'Jawa'.

Pada umumnya para ulama Jawi menuntut ilmu kepada ulama termasyhur di Haramain (Mekah dan Madinah). Jejak ulama Jawi dimulai abad ke-17. Diawali kedatangan Nuruddin ar-Ranirri, Abdur Rauf Singkel, dan Syekh Yusuf dari Makassar yang kemudian diasingkan ke Afrika Selatan.

Di Haramain, Abdur Rauf Singkel diangkat menjadi khalifah Tarekat Syatariah dan Syekh Yusuf sebagai khalifah Tarekat Khalawatiah. Guru mereka masing-masinglah yang mengangkatnya setelah proses panjang, berlajar bertahun-tahun. Ilmu serta praktik keagamaan mereka pun dinilai memadai.

Dalam Ensiklopedia Islam (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hove, 1996) disebutkan, setelah trio ulama itu, agak lama ulama Jawi datang lagi ke Tanah Suci. Namun, kemudian datang di abad-abad berikutnya dengan bertambah banyak. Mereka datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Nama belakang mereka kerap merujuk dari mana berasal. Sebut misalnya Abdus Samad al-Palimbani, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Nawawi al-Jawi, Ahmad Khatib as-Sambasi, Abdul Karim al-Bantani, Ahmad Rifai Kalisalak, Abdullah al-Khalidi al-Minangkabawi, Junaid al-Batawi, Syekh Ahmad Nahrawi al-Banyumasi, Hasan Mustafa al-Garuti, dan Abdul Gani Bima.

Ulama Jawi dikenal punya reputasi tinggi. Syekh Nawawi al-Jawi mendapat gelar 'Syekh Hedzjaz', Ahamad Khatib Minangkabau menjadi imam besar di Masjidilharam. Muhamamd Yassin al-Padani disebut allamah (ulama besar); satu dari dua ahli hadis terbaik abad 14-15 Hijriah. Mereka memang berperan besar membentuk wacana intelektual-keagamaan di tanah Melayu dan dunia.

Sekembali dari Tanah Suci, para ulama Jawi banyak yang menduduki berbagai posisi. Ada yang menjadi ulama istana seperti Nuruddin ar-Raniri dan Abdul Rauf Singkel di kerajaaan Islam Aceh. Ada yang menjadi ulama independen.

Ada pula yang meneruskan berdakwah dan mendirikan madrasah, yang bermetamorfosis dengan berbagai pondok pesantren dan aneka lembaga pendidikan.

Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan pendidiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syaihk Hasyim Asy'ari ketika di Tanah Suci juga belajar pada ulama yang sama: Syekh Mahfudh dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabau. Mereka yang memilih tinggal di Haramain, tetap mendidik kaum muslimin Nusantara. Para ulama Jawi memang mempunyai komitmen pada umat Tanah Air.

Jadi, jika kini ulama memilih posisi, telah dilakukan pula oleh para ulama Jawi. Tak pernah kita dengar pada waktu itu predikat ulama yang diberikan kepada mereka yang tak layak disebut ulama. Kita tak mendengar pula pendakwah yang rajin memaki-maki ulama seperti terjadi hari-hari ini. Hanya karena perbedaan pilihan politik, ruang publik dicemari aneka caci maki.

Makhlad bin Al Husain memberi nasihat, "Kami lebih butuh mempelajari adab dan akhlak daripada banyak menguasai hadis. " Ulama sejati, kata Muhammad Zainul Majdi, ulama asal Nusa Tenggara Barat, mestinya mempunyai akhlak mulia. Sebab, rujukannya laku Rasulullah SAW.

Karena politik juga, ada upaya mendegradasikan ulama. Adalah Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, yang mula-mula memberi predikat santri kepada calon wakil presiden, Sandiaga Uno, yang mendampingi Prabowo Subianto. Sandi pun balas memuji Amien sebagai ayatullah reformasi.

Presiden PKS Sohibul Iman pun menguatkan Amien: Sandi sebagai santri post islamisme. Dengan merujuk Surah Asy-Syura dan Surah Fatir, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid meningkatkan lagi status religiositas Sandi sebagai ulama. Karena Prabowo memilih calon wakil presiden bukan kalangan ulama seperti rekomendasi ijtima ulama sementara Jokowi justru memlih Ketua MUI Ma'ruf Amin mereka pun menjadikan Sandi 'mendadak ulama'. Hanya penilaian beberapa saat, seseorang diberi predikat ulama.

Teramat jelas tendensinya, hanya untuk kepentingan politik sesaat, 'mendadak ulama' dibuat seperti program di televisi hiburan: Mendadak Dangdut. Posisi ulama mestinya berada di panggung syiar agama. Kepentingan kekuasaan seperti dibiarkan merapuhkan pilar-pilar yang mestinya dikuatkan.

Politik mestinya memberi edukasi pentingnya proses, bukan semata hasil. Para ulama Jawi telah memberi contoh dan membuktikan betapa hasil memang tak pernah mengkhianati proses. Sebab, di dalam proses ada kerja keras, kesungguhan, penempaan, dan komitmen. Ia tak mungkin instan!



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima