Beras Lagi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
19/9/2018 05:30
Beras Lagi
()

PERSOALAN beras kembali ramai menjadi pembicaraan. Seperti biasa, masalahnya hanya dibahas dalam kata-kata. Semua berbicara atas dasar persepsi. Itulah yang sering kita katakan demokrasi yang kita bangun masih dalam tingkatan talking democracy, demokrasi kata-kata. Kita belum sampai kepada diskusi yang menghasilkan aksi untuk memecahkan persoalan.

Pembangunan pertanian yang sungguh-sungguh baru kita lakukan pada zaman Orde Baru. Ketika itu dibuat gerakan besar untuk mencapai swasembada beras. Maka dibangunlah waduk-waduk dan jaringan irigasi sampai tingkat tersier. Kita bangun balai-balai penelitian untuk menghasilkan bibit unggul. Kita bangun juga pabrik pupuk mulai dari Aceh hingga Kalimantan. Untuk membantu petani agar melek teknologi diturunkan para penyuluh pertanian. Bahkan untuk pemasaran hasilnya didirikan koperasi unit desa dan Badan Urusan Logistik.

Kerja besar itu pun tidak sekali jadi hasilnya. Baru pada 1984 Indonesia yang pernah mengalami antre makanan bisa mencapai swasembada beras. Atas usaha yang panjang dan dilakukan secara konsisten itu, Organisasi Pangan Dunia (FAO) memberikan penghargaan khusus kepada Indonesia.

Setelah itu kita tidak fokus lagi untuk membangun pertanian. Alih fungsi sawah terjadi secara besar-besaran. Peralihan dari negara agraris menjadi negara industri membuat kita lupa untuk menjaga lahan pertanian. Kita seakan tutup mata bahwa ada ancaman besar yang harus dihadapi ketika sawah-sawah berubah menjadi kawasan industri.

Lihat saja Karawang yang dulu dikenal sebagai lumbung padi nasional. Jawa Barat, kini bukan lagi menjadi sentra produksi padi karena sawah-sawah berubah menjadi jalan tol, pabrik atau kawasan industri.

Dengan kondisi seperti itu, tidak usah heran apabila kita kemudian bergantung kepada impor. Sementara jumlah penduduk meningkat dan pola konsumsi masih bertumpu kepada beras, Indonesia menjadi konsumen beras terbesar di dunia. Swasembada menjadi sebuah utopia karena luasan lahan yang tersedia tidak mampu menopang kebutuhannya.

Belum lagi perubahan iklim yang harus kita alami sekarang. Musim yang kita hadapi menjadi begitu ekstrem, yang saat kemarau kekeringannya luar biasa dan ketika musim hujan menyebabkan banjir yang tidak terkira.

Sekarang ini kita tengah merasakan musim kemarau yang sangat kering. Waduk Jatigede airnya surut begitu dalam. Beberapa daerah yang kekurangan air, tanaman padinya mulai mengalami puso. Kita berharap musim hujan segera tiba agar kekeringan tidak semakin menyulitkan kehidupan kita.

Tahun lalu kita mengalami kondisi yang sangat tidak menguntungkan. Musim kemarau yang panjang membuat musim tanam mundur jauh ke belakang. Belum lagi hama wereng yang menyerang daerah pertanian di Jawa. Akibatnya, panen raya yang biasanya terjadi Februari mundur. Kita masih ingat bagaimana pada Maret harga beras naik tajam dan stok beras yang ada di gudang Bulog di bawah 1 juta ton.

Kondisi itulah yang membuat rapat koordinasi Kementerian Perekonomian dan juga rapat di Kantor Wakil Presiden memutuskan untuk melakukan lagi impor beras. Cadangan yang tidak cukup memadai ditambah dengan puasa yang akan menjelang membuat pemerintah tidak mempunyai pilihan lain dalam menjaga keamanan pangan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima