Usul Sesat Pikir

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
18/9/2018 05:30
Usul Sesat Pikir
()

FEODALISME ialah milik masa silam yang sudah mati, bukan milik Indonesia di masa depan (yang akan terus hidup). Indonesia masa depan butuh persamaan hak, bukan hak yang dipilah-pilah; butuh bahasa yang egaliter, bukan bahasa yang bertingkat-tingkat. Pastilah bukan bahasa kaum imperialis, seperti bahasa Belanda, Prancis, atau Inggris!

"Sekarang, mulai hari ini, menit ini, marilah kita putuskan untuk belajar berbicara dalam bahasa Indonesia... Untuk menjadi satu masyarakat, satu bangsa," kata Bung Karno. Ia usulkan pula, panggilan kekerabatan yang di masa feodal tak ada: 'Ibu', 'Bapak', 'Bung'. Melekatlah panggilan 'Bung Karno',  'Bung Hatta', 'Bung Sjahrir', dan yang lain. Ada elan yang lebih 'revolusioner'.

Afirmasi itu digemakan 'si Bung' setelah beberapa tahun Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia masih dipakai segelintir orang. Bahkan, sebagian kaum terpelajar masih berbincang dengan bahasa Belanda. Sementara itu, orang ramai masih bicara dengan bahasa daerah masing-masing yang tak lekas mempersatukan Indonesia. Ada rasa cemas, tujuan 'Sumpah Pemuda' terancam mangkrak.

Bersambung dengan kondisi hari ini, usul anggota DPR yang juga politikus PAN, Yandri Susanto, debat calon presiden dan wakil presiden menggunakan bahasa Inggris, terasa ada rasa nyeri secara histori. Untunglah Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno tak sependapat. Ada ambivalensi antara dendang 'antiasing' dan 'anti-Aseng' yang kerap mereka 'nyanyikan' dengan usul debat itu.

Sedikitnya ada beberapa asumsi sesat pikir atas usul itu. Pertama, kepentingan jangka pendek. Ia tahu pasangan Prabowo dan Sandi diyakini fasih berbahasa Inggris jika dibandingkan dengan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Ia tak mementingkan adu program beserta solusinya.

Kedua, ia tak paham aturan dalam UUD 1945. Simak Pasal 36, 'Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia'.  Dalam UU No 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, Pasal 32 ayat (1) mengamanatkan, 'Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam forum yang bersifat nasional atau forum yang bersifat internasional di Indonesia'.

Ketiga, ia mengidap inferioritas kompleks, perasaan rendah diri, menganggap bahasa Inggris lebih bergengsi daripada bahasa sendiri. Kita sepakat kita  mesti terus mempelajari bahasa internasional, tapi jika merendahkan bahasa negara sendiri, layak dipertanyakan posisi Yandri sebagai pejabat negara.

Keempat, tak memahami apa tujuan debat itu, yakni agar orang ramai (publik) mafhum tentang visi-misi dan program kerja yang disampaikan calon presiden-calon wakil presiden. Belum tentu separuhnya memahami isi debat itu. Pikiran mereka pun tak sepenuhnya sampai ke para calon pemilihnya.  

Kita melihat hari-hari ini, puluhan tahun sudah terlewati setelah kemerdekaan, selain usul debat bahasa Inggris, juga beberapa pejabat/calon pejabat yang kerap pamer berbahasa Inggris untuk hal yang dalam bahasa Indonesia lebih pas. Calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono dan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno dua contoh di antaranya.

Di ruang publik, di dunia usaha, bahasa Indonesia juga kian terpinggirkan. Lihat saja nama-nama kompleks perumahan, umumnya 'ber-Inggris ria'. Lihat juga nama-nama hotel dan bisnis kuliner. Yang mengherankan, para pemimpin negeri ini tak menunjukkan rasa cemas. Padahal, dalam sejarah panjangnya, bahasa Indonesia terbukti menjadi alat pemersatu yang efektif. Bahkan, ketika kita tercerai-berai di awal-awal reformasi, bahasa Indonesialah salah satu yang merekatkan kembali.

Guru besar bahasa Indonesia Universitas Bonn, Jerman, Berthold Damshaeuser, dalam artikel bertajuk 'Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Dunia' (2011) pernah 'terduduk lemas' seusai membaca pidato Presiden SBY yang bertabur bahasa Inggris. Pasalnya, ia selalu memberi semangat kepada  para mahasiswanya agar bangga mempelajari bahasa Indonesia, yang berpotensi menjadi bahasa dunia.

Dengan termasuk bahasa Melayu, penuturnya selain di Indonesia dan Malaysia juga tersebar di Singapura, Brunei, Timor Leste, dan Muangthai. "Harap jangan anggap enteng," serunya.

Saya justru ingin mengusulkan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU), karena bahasa Indonesia bagian amat penting pertahanan bangsa, ada sesi bahasa Indonesia dalam debat nanti. Para calon pemimpin nasional itu bisa ditanya hal dasar tentang bahasa Indonesia, sejarahnya, dan bagaimana strategi pengembangannya agar semakian kukuh mempersatukan bangsa.

Apa pula upaya mereka agar bahasa ini bisa efektif menjadi bahasa persatuan di lingkup Asia Tenggara? Kita ingin tahu sangat seperti apa pemikiran mereka tentang bahasa resmi negara ini.
 

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima