Terbanglah N-219

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
15/9/2018 05:30
Terbanglah N-219
()

TEKANAN terhadap rupiah membuat pemerintah harus mengendalikan belanja dan konsumsi barang impor. Salah satu industri yang terkena imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah ialah industri penerbangan. Dengan belanja dalam dolar dan penerimaan dalam rupiah, industri penerbangan sebelum operasi saja harus menanggung kenaikan biaya minimal 8% karena perbedaan kurs.

Semua itu memang tidak bisa dihindari karena armada pesawat harus dibeli dari negara lain baik itu jenis airbus, boeing, maupun ATR. Komponen pesawat pun harus kita impor, termasuk juga avtur untuk bahan bakarnya. Beruntung kita memiliki fasilitas perawatan pesawat sehingga pengerjaannya masih bisa dilakukan di dalam negeri.

Penguasaan teknologi harus terus kita tingkatkan karena kita tidak mungkin terus tergantung pada orang lain. Presiden ketiga BJ Habibie sering menyampaikan, neokolonialisme terjadi ketika kita membiarkan nilai tambah dinikmati bangsa lain. Ketika kita terlalu menggantungkan diri kepada bangsa lain, itu sama saja dengan memberikan pekerjaan kepada bangsa lain.

Deputi Menteri BUMN Fajar Harry Sampurno saat menghadiri peringatan ulang tahun ke-42 PT Dirgantara Indonesia memberikan ilustrasi tentang meruginya kita kalau tidak mengolah sumber daya yang dimiliki. Bauksit misalnya, ketika dijual dalam bentuk tanah lempung harganya tidak sampai US$1 per kilogram (kg).

Setelah diolah menjadi alumina, harga impornya sudah naik menjadi US$1,8 per kg. Ketika kita olah menjadi ingot dan diekspor, harganya naik menjadi US$2,5 per kg. Namun, ketika kita impor lagi dalam bentuk aluminium, harganya sudah menjadi US$4 per kg.

Atas dasar itu, Harry mendorong, terutama BUMN untuk mengekspor barang jadi yang mempunyai nilai tambah tinggi. Ia menghargai PT DI yang sudah mengekspor lebih dari 400 pesawat dari berbagai jenis selama 42 tahun keberadaannya. Nilai ekspor satu pesawat seperti CN-235 itu sama dengan mengekspor 1.000 mobil atau 200 ribu ton batu bara.

Satu lagi yang harus kita lakukan untuk memperkuat industri dalam negeri ialah ketika kita mau menggunakan produk bangsa kita sendiri. PT DI sedang terus melakukan tes terbang untuk produk pesawat terbarunya N-219.

Pesawat turboprop dengan kapasitas 19 penumpang ini diharapkan bisa mengisi kebutuhan pesawat untuk penerbangan perintis di Indonesia bagian timur.

Pesawat karya putra-putra Indonesia ini sudah menjalani 40 jam tes terbang dari 200 jam yang harus dilakukan. Pesawat ini hanya butuh landasan tanah yang diperkeras sepanjang 550 meter untuk lepas landas atau mendarat. Titik impas dari pembuatan pesawat ini akan tercapai kalau bisa menjual 150 unit pesawat.

Jumlah itu tentunya bisa diserap perusahaan penerbangan dalam negeri. Selama ini Lion Air, Wing Air, Sriwijaya Air, bahkan Garuda Indonesia menerbangi beberapa jalur pendek di Indonesia Timur. Mereka umumnya menggunakan pesawat ATR untuk melayani jalur itu.

Dengan beralih menggunakan N-219, tentunya perusahaan penerbangan itu akan lebih efisien karena load factor-nya lebih kecil, dan yang paling diuntungkan ialah sistem pembayaran nasional. Uang pemberian pesawat itu tidak harus mengalir keluar negeri, tetapi berputar di Indonesia.

Hal yang terakhir ini sangat dibutuhkan karena selama ini kita terlalu mudah terdampak gejolak nilai tukar. Neraca perdagangan maupun neraca transaksi berjalan sering negatif karena terlalu banyak impor yang kita lakukan. Padahal, sudah banyak produk yang bisa kita hasilkan sendiri.

Negara-negara lain, seperti Jepang dan Korea Selatan bisa cepat menjadi negara industri karena pasar dalam negeri mendukung industri mereka. Semua produk teknologi Jepang misalnya, 55% pasarnya ada di dalam negeri Jepang. Bahkan, biaya produksinya sudah tertutup penyerapan pasar dalam negeri sehingga mereka bisa lebih kompetitif di pasar internasional.

Sikap untuk menghargai dan mendahulukan produk dalam negeri itulah yang harus kita bangun. Tidak mungkin industri kita akan menjadi pemenang kalau bangsanya tidak mau menghargai produk bangsanya sendiri.

Kita tentu tahu bagaimana ketika Jepang pertama kali membangun Toyota atau Korea membuat Hyundai. Mobil yang mereka hasilkan jauh kualitasnya dari mobil-mobil Amerika Serikat maupun Eropa yang menguasai pasar. Namun, dengan dukungan masyarakatnya, Toyota maupun Hyundai bukan hanya bertahan, melainkan juga mampu mengungguli mobil-mobil Amerika di pasar.

Sekarang ini tidak ada industri pesawat terbang di negara-negara ASEAN kecuali PT DI. Kita seharusnya bisa menjadikan PT DI sebagai industri unggulan karena pasti negara-negara kawasan juga membutuhkan pesawat buatan Indonesia. Kalau pasar dalam negeri bisa menopang, pasti PT DI akan bisa menjadi perusahaan uang bisa diandalkan.

Tantangannya berpulang kepada manajemen dan jajaran PT DI. Seperti dikatakan KSAU Marsekal Yuyu Sutisna, TNI-AU pasti senang dan mendukung industri alat utama sistem persenjataan nasional asal saja harganya tetap harus kompetitif karena TNI-AU menggunakan uang rakyat dan penggunaannya diawasi auditor negara. Win-win solution itu merupakan jawaban bagi kita untuk maju ke depan.

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima