Keselarasan dalam Kejanggalan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
13/9/2018 05:30
Keselarasan dalam Kejanggalan
()

MENGHADAPI kenyataan pahit, orang mungkin memilih mengingkarinya. Ah, tidak benar seperti itu. Lalu, terjadi penghakiman.

Tentu ada yang memilih lari dari kenyataan. Ekspresinya bermacam-macam. Salah satunya terbang dengan narkoba.

Pilihan yang sehat ialah berdamai dengan kenyataan, betapa pun pahitnya kenyataan itu. 'Berdamai' kiranya lebih sublimatif jika dibandingkan dengan sikap 'pasrah' atau 'berkompromi'.

Pilihan sikap terhadap kenyataan pahit berpengaruh jauh bila orang itu bukan orang biasa, melainkan seorang pemimpin, yang keputusan politiknya berdampak di ranah kepublikan. Maaf, pemimpin yang sekarang sedang menghadapi kenyataan pahit ialah SBY, Ketua Umum Partai Demokrat.

Partai Demokrat akhirnya mengambil keputusan politik berbasiskan kenyataan di lapangan. Keputusan itu ialah sekalipun secara legal-formal mengusung pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, demi menyelamatkan partai dalam pemilu legislatif, Partai Demokrat memberi dispensasi berupa kelonggaran kepada beberapa daerah untuk mendukung pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin.

Mereka yang menggerakkan dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf itu tokoh-tokoh yang berpengaruh di daerah masing-masing. Mereka ialah Gubernur Papua Lukas Enembe, Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang, Gubernur Banten Wahidin Halim, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, serta mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Ada yang membahasakan sikap Partai Demokrat itu sebagai politik dua kaki, satu kaki mendukung capres-cawapres Prabowo-Sandiaga Uno, satu lagi mendukung capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf. Sebuah penilaian yang mengandung ketidaktegasan. Saya tidak sependapat. Hemat saya, itulah keputusan yang paling bijaksana, yaitu berdamai dengan kenyataan pahit.

Partai Demokrat dari semula berjuang untuk menjadikan AHY sebagai cawapres. Ketika hal itu tidak terwujud, sebetulnya Partai Demokrat telah kehilangan selera untuk turut serta dalam pilpres.

Akan tetapi, UU Pemilu tidak memberi opsi itu. Bila tidak mengusung pasangan calon presiden-wakil presiden, Partai Demokrat dikenai sanksi tidak mengikuti pemilu berikutnya. Itu sikap bodoh dengan ongkos politik yang terlalu mahal.

Terlepas dari curhat SBY terhadap Megawati Soekarnoputri, faktanya ialah Partai Demokrat telah ketinggalan kereta untuk turut mengusung pasangan Jokowi-Ma'ruf. Sampai pada saat pasangan Jokowi-Ma'ruf didaftarkan ke KPU, Partai Demokrat belum tegas bersikap. Padahal sendirian Partai Demokrat tidak bisa mengusung capres-cawapres. Maka, yang tersedia tinggal pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandiaga Uno yang belum didaftarkan ke KPU.

Demikianlah Partai Demokrat tidak bisa lagi bermain sebagai partai penyeimbang, yaitu tidak di sini, tetapi juga tidak di sana. Dalam pilpres harus bersikap. Akan tetapi, dalam pilpres dan pileg serentak, apa maslahat elektoral yang diperoleh Partai Demokrat bila memaksakan kadernya di sejumlah daerah memilih Prabowo-Sandiaga Uno yang keduanya berasal dari partai yang sama, Partai Gerindra? Tidakkah itu berarti turut membesarkan Partai Gerindra?

Sesungguhnya ada kejanggalan bahwa partai tidak menjatuhkan sanksi terhadap kadernya yang tidak patuh terhadap garis partai. Namun,  menghakimi kesetiaan para gubernur, mantan gubernur/wakil gubernur, lebih besar mudarat ketimbang maslahat. Sikap hitam putih harus ditinggalkan. Terimalah kejanggalan itu dalam keserasian, dalam harmoni besar.

Tidak ada untungnya berpura-pura menegakkan disiplin partai. Dinamika politik di lapangan memberikan pilihan terbaik untuk berdamai dengan kenyataan pahit. Posisi-posisi politik yang bertentangan perlu diselaraskan dengan cara menghormatinya. Maka, rajutlah keselarasan dalam kejanggalan.

Kiranya sedikitnya ada dua pelajaran yang perlu dipetik. Pertama,  kejanggalan tidak untuk dihabisi. Kedua, gaya kepemimpinan ketua umum partai politik penting dan menentukan.

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima